Penjual Opium di Afghanistan: Haram Tapi Kami Tak Ada Pilihan - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Penjual Opium di Afghanistan: Haram Tapi Kami Tak Ada Pilihan

by BATAM NOW
08/Okt/2021 06:46
Penjual Opium di Afghanistan: Haram Tapi Kami Tak Ada Pilihan

Para pedagang opium di Afghanistan bercerita tentang alasan mereka menjual opium, barang yang diharamkan dalam Islam. Penjual opium di Afghanistan cerita tentang harga barang haram itu yang meroket selama Taliban berkuasa. (F: AFP/ BULENT KILIC)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com, Jakarta – Para pedagang opium di Afghanistan bercerita tentang alasan mereka menjual opium, barang yang diharamkan dalam Islam.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, baru-baru ini para penjual opium di Kabul membicarakan harga dagangan mereka meroket sejak Taliban berkuasa.

Amanullah, nama samaran salah satu pedagang opium itu, mengeluarkan produk andalannya. Ia meletakkannya ke dalam cangkir kecil yang digantung di atas api.

Resin opium yang diambilnya tadi dengan cepat meleleh dan mendidih. Dengan cara itu, ia dan rekannya, Mohammad Masoom dapat menunjukkan kepada pembeli bahwa opium mereka murni.

“Itu haram (dilarang) dalam Islam, tapi kami tidak punya pilihan lain,” kata Masoom, di salah satu pasar di daerah Howz-e-Madad, provinsi Kandahar, dalam AFP.

Masoom mengatakan, penyelundup narkoba kini membayarnya 17.500 rupee Pakistan atau setara Rp 1 juta rupiah per kilogram. Di Eropa, ia memiliki nilai lebih dari US$ 50 (setara Rp 713 ribu) per gram.

Sebelum Taliban berkuasa, ia hanya mendapatkan sepertiga dari harga ini.

Naiknya harga opium di Afghanistan juga dikonfirmasi salah satu petani opium, Zekria, yang memakai nama samaran.

Ia menceritakan kini meraup lebih dari 25.000 PKR (setara Rp 2 juta) per kilo dari penjualan opium. Harga ini naik 7.500 PKR bila dibandingkan dengan harga kala kepemimpinan sebelum Taliban.

Zekria mengungkapkan, harga barang dagangannya yang lebih tinggi bila dibandingkan Masoom. Pasalnya, pemetikan bunga opium yang dilakukan di awal masa panen.

Harga Opium. Meroket usai Taliban Berencana Terapkan Larangan

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid bulan lalu, mengatakan bahwa Taliban tidak ingin melihat “narkotika apapun diproduksi.” Namun, Mujahid menambahkan Afghanistan membutuhkan dukungan internasional untuk membuat petani beralih dari perdagangan narkoba.

Pernyataan itu membuat pembeli bersiap menghadapi kelangkaan yang mengancam.

Baca Juga:  Syarat Tes PCR untuk Terbang Berlaku Mulai Hari Ini

“Sehingga harga opium melonjak,” kata Zekria.

Taliban sendiri mengandalkan penjualan opium untuk membiayai misi pemberontakan mereka atas kepemimpinan rezim Afghanistan sebelumnya yang dianggap boneka Amerika Serikat.

Tak hanya itu, krisis ekonomi yang kini melanda Afghanistan akibat hengkangnya AS juga membuat para pedagang tak bisa beralih dari opium.

“Kami tidak dapat menumbuhkan apa pun saat ini,” kata Masoom, seraya menambahkan perdagangan lain tidak memiliki keuntungan sebanyak opium.

Zekria, satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga yang terdiri dari 25 orang, setuju dengan pendapat itu.

“Tanpa opium, saya bahkan tidak bisa menutupi pengeluaran saya,” tuturnya.

“Tidak ada solusi lain kecuali masyarakat internasional membantu kami,” ujar Zekria lagi.

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan sepertiga dari penduduk Afghanistan terancam mengalami krisis kelaparan. Ancaman ini dinilai membuat pihak Taliban bingung untuk menerapkan pelarangan penjualan opium di negara itu.

Kepala Departemen Kebudayaan Provinsi Kandahar, Maulvi Noor Mohammad Saeed mengatakan kepada AFP bahwa “produksi opium adalah haram dan buruk bagi manusia”.

Namun, ia menyebut pelarangan produksi dan penjualan narkotika ini tergantung pada bantuan yang diterima.

“Jika masyarakat internasional siap membantu para petani untuk tidak menanam opium, maka kami akan melarang opium,” ujar Saeed.

Afghanistan sendiri menjadi pemasok opium terbesar dunia sejak tiga puluh tahun terakhir.

Saat ini, sekitar 224 ribu hektare lahan di Afghanistan digunakan untuk budidaya bunga opium poppy pada 2020. Luas area itu mengalami peningkatan sebesar 61 ribu hektare atau 37 persen jika dibandingkan 2019.

Bersumber dari Survei Opium Afghanistan bersama oleh Otoritas Statistik dan Informasi Nasional Afghanistan (NSIA) dan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), potensi produksi opium di Afghanistan diperkirakan bisa mencapai 6.300 ton.(*)

Berita Sebelumnya

Kemendagri: Pasangan Nikah Siri Bisa Buat Kartu Keluarga

Berita Selanjutnya

BPS Luncurkan Layanan Warung Gurindam, Mengakses Data Makin Mudah

Berita Selanjutnya
BPS Luncurkan Layanan Warung Gurindam, Mengakses Data Makin Mudah

BPS Luncurkan Layanan Warung Gurindam, Mengakses Data Makin Mudah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com