BatamNow.com – Penawar Special Learning Centre (PSLC) menyelenggarakan Batam Autism Conference 2025 (BAC2025) di Hotel Harmoni One, Kota Batam.
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi multipihak untuk menjawab tantangan yang muncul akibat meningkatnya kasus autisme pascapandemi Covid-19.
BAC2025 menghadirkan rangkaian kegiatan mulai dari talk show, workshop, pameran terapi, hingga layanan skrining gratis yang ditujukan kepada para orang tua yang ingin mengetahui kondisi anak mereka yang berkebutuhan khusus.
Clinical Director PSLC, dr. Ruwinah Abdul Karim, menjelaskan bahwa tujuan utama konferensi ini adalah untuk memperluas pengetahuan orang tua terkait teknik-teknik terapi yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah.
“Kami siapkan berbagai stan layanan agar peserta dapat dilayani dengan maksimal,” kata dr. Ruwinah, Senin (30/06/2025).
Antusiasme warga tampak tinggi. Tercatat sebanyak 200 orang tua mendaftar untuk mengikuti program skrining gratis.
Dari jumlah tersebut, 120 anak telah mengikuti proses skrining awal, setiap peserta menerima ringkasan laporan hasil skrining yang bisa dibawa langsung ke dokter atau pusat terapi lanjutan.
“Mayoritas anak yang mengikuti skrining membutuhkan terapi berkelanjutan, baik mingguan, bulanan, bahkan tahunan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dr. Ruwinah mengatakan konferensi ini juga memberikan kesempatan kepada para orang tua untuk melihat langsung bentuk-bentuk terapi yang biasa diterapkan kepada anak-anak dengan spektrum autisme.
“Kami ingin agar para orang tua bisa mempraktikkan terapi dasar secara mandiri saat kembali ke rumah,” tambahnya.
Autisme Pascapandemi Jadi Sorotan
Dalam presentasinya, dr. Ruwinah menyoroti meningkatnya kasus autisme yang terjadi usai pandemi Covid-19.
Menurutnya, pandemi bukan hanya soal virus corona, tetapi juga lonjakan kasus autisme yang muncul sebagai dampak tidak langsung.
“Pandemi autisme juga nyata, dan kita harus siap menghadapinya secara komprehensif,” tegasnya.
Meski penyebab pasti autisme masih menjadi bahan penelitian ilmiah, faktor genetik kerap menjadi perhatian utama.
Namun, ia menekankan bahwa autisme juga banyak ditemukan pada anak-anak dari keluarga tanpa riwayat autisme. Salah satu faktor yang dinilai berkontribusi adalah pola pengasuhan modern.
“Penggunaan gadget secara berlebihan dan tidak tepat bisa menimbulkan gejala autisme. Ini yang sering tidak disadari oleh orang tua,” jelasnya.
Ia bahkan menambahkan bahwa anak-anak yang sudah mengalami ketergantungan berat terhadap gawai hingga menunjukkan perilaku tantrum saat perangkat diambil, bisa dikategorikan dalam spektrum autisme ringan.
“Kasus seperti ini semakin banyak, namun sering kali tidak terdeteksi,” tambah dr. Ruwinah.
Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini terhadap gejala keterlambatan bicara (speech delay) yang kerap diabaikan. “Padahal, tanda-tanda awal ini sangat krusial dan memerlukan respons cepat dari orang tua,” ujarnya.
Peningkatan Kapasitas Guru dan Terapis
BAC2025 tidak hanya menyasar kalangan orang tua. Konferensi ini juga dimanfaatkan oleh para pendidik sebagai forum belajar dan berbagi pengalaman.
Banyak guru hadir dalam kegiatan ini dan bahkan membawa serta orang tua murid mereka untuk ikut dalam program skrining.
“Mereka ingin tahu pendekatan terbaik dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah,” jelas dr. Ruwinah.
Ia mengungkapkan bahwa para guru sangat antusias berdiskusi mengenai metode pembelajaran, kurikulum inklusi, hingga protokol penanganan autisme di sekolah. Ini menunjukkan bahwa selama ini masih minim panduan teknis bagi para pendidik.
Dian, salah satu guru dari sekolah inklusif di Batam yang hadir sebagai peserta, menyampaikan bahwa dirinya mendapat banyak wawasan baru.
“Saya jadi lebih percaya diri karena sekarang paham langkah awal yang bisa dilakukan,” ujarnya.
Dian berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda rutin.
“Kami, para guru, sangat butuh bimbingan untuk bisa maksimal dalam mendampingi anak-anak spesial ini,” tambahnya.
Perkuat Sinergi Lintas Profesi
Menurut dr. Ruwinah, konferensi ini merupakan wadah penting untuk membangun sinergi antara tenaga medis, pendidik, terapis, dan orang tua dalam menghadapi tantangan autisme yang semakin kompleks.
PSLC, kata dia, hadir sebagai jembatan kolaborasi antarprofesi.
“Kasus autisme ringan saat ini adalah yang paling dominan. Oleh karena itu, keterlibatan orang tua sangat menentukan keberhasilan terapi dan pemulihan anak,” jelasnya.
Satu hari pelaksanaan BAC2025 dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan informasi, edukasi, dan dukungan yang selama ini dicari oleh para orang tua dan pendidik.
Di tengah tingginya kompleksitas gangguan spektrum autisme, kegiatan semacam ini menjadi ruang harapan bagi masyarakat yang selama ini berjalan tanpa arah yang jelas. (*)

