BatamNow.com – Manajemen PT Moya sesumbar, pihaknyalah pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Batam.
Sementara pihak Badan Pengusahaan (BP) Batam membuat pernyataan beda. Pengelola SPAM adalah BP Batam sendiri. PT Moya sekadar mitra.
Dalam satu pernyataan di salah satu Podcast, Selasa (17/11/2020), Astriena Veracia sebagai Corporate Communication Manager PT Moya mengumbar merekalah pengelola SPAM di Batam, sejak 15 November 2020.
“Kami pengelola SPAM,” kata Astriena.
Di waktu yang berbeda, Astriena menjawab pesan WhatsApp BatamNow.com, pembayaran rekening air pelanggan langsung ke nomor rekening PT Moya, terhitung 1 Desember 2020.
Astriena juga meyakinkan pelanggan, tak ada kenaikan tarif selama enam bulan ke depan.
Ketika ditanya tentang legal standing PT Moya tentang kebijakan tarif air, Astriena menjawab, “Itu komitmen kami dengan BP Batam selama transisi SPAM.”
Sedangkan sebelumnya, BP Batam mengklaim pihaknyalah yang akan mengeluarkan setiap kebijakan pengelolaan SPAM dan turunannya, sejak 15 November 2020.
Kabiro Humas Promosi dan Protokol BP Batam Dendi Gustinandar membenarkan Kamis (19/11/2020), pembayaran rekening air masih ke ATB sampai 30 November.
“BP Batam baru terima pembayaran rekening air per 1 Desember 2020,” ujarnya.
Call Center Berbayar
Demikian juga keberadaan call center 150155 jalur pengaduan pelanggan.
Fasilitas itu disediakan langsung oleh PT Moya. Tapi berbayar pula.
“Inovasi dan sistem yang kami bangun termasuk di dalamnya call center 150155, merupakan salah satu terobosan kami dan sudah siap menerima keluhan pelanggan,” ujar Astriena dengan bangga menjawab BatamNow.com lewat pesan WhatsApp.
“Pelanggan yang mencari informasi ke PT Moya atau BP Batam harus mengeluarkan biaya pulsa lagi,” keluh Rudi saat diminta BatamNow.com komentarnya.
“Luar biasa, absurdnya. Di saat transisi dengan seabrek permasalahan internal BP Batam dengan pengelola SPAM, justru pelanggan yang dibebani dengan biaya telepon,” kata Ramces, pelanggan air di Batu Aji.
“Tak masuk akal, namanya saja fasilitas. Baik BP Batam maupun PT Moya, masak membebani pelanggan?” tanya Djono pemilik warung kuliner di kawasan Batam Center.
“Sebenarnya, kita masih pusing tentang informasi pengelolaan air ini,” tambah Djono.
Sejak pengelolaan air dimenangkan PT Moya, informasi transisi pengelolaan air ke pelanggan, masih simpang siur.
“Halooo 150155. Mana yang betul. Katanya terobosan, kok berbayar. Pelanggan enggan masuk ke line telepon ini sebab sistemnya bertele-tele dan menyedot pulsa.”(JS)

