
Bulan suci Ramadan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu bagi umat Muslim, karena kita yang beragama Islam “diwajibkan berpuasa bagi yang beriman”, kata beriman di sini berarti tidak seluruh umat Islam berpuasa.
Semoga dengan tulisan saya ini bisa menambah wawasan bagi yang masih bisa mengelak berpuasa dengan alasan “puasa itu untuk orang-orang yang beriman saja, saya belum beriman atau saya sakit atau tidak kuat”.

Dalam tulisan ini saya tidak membawa kata-kata ustadz atau ustadzah yang biasanya berceramah dengan kata-kata wajib dan wajib. Saya memang bukan seorang ustadzah. Saya hanya seorang muslimah biasa saja jadi tulisan saya ini diperkuat oleh pengalaman yang benar-benar saya alami dan seorang ilmuwan biologi sel, di mana beliau adalah seorang Profesor di Tokyo Institute of Technology. Bernama Yoshinori Ohsumi yang lahir di Fukuoka, Jepang pada 9 Februari 1945; berarti di tahun 2021 ini beliau berumur 76 tahun.
Beliau menyatakan hasil penelitiannya tentang nilai puasa yang begitu menakjubkan yaitu “Puasa Menurut Konsep Autophagi adalah Membuat Tubuh Lapar” membawa ketertarikan tersendiri bagi saya pribadi.
Walau banyak data pribadinya yang tertutupi alias tidak diketahui oleh banyak orang terutama soal agama.
Kenapa harus penasaran?
Karena tulisan yang begitu indah yaitu tentang kewajiban umat Muslim namun agama penulisnya tidak diketahui.
Meskipun begitu, saya tetap memberikan penghargaan kepada Yoshonori Ohsumi, semoga saya bisa bertemu dengan orang hebat ini.
Beliau Penerima gelar B.Sci pada tahun 1967 dan D.Sci pada tahun 1974 dari Universitas Tokyo. Tahun 1974 hingga 1977 beliau menjadi peneliti di Universitas Rockefeller, Kota New York. Beliau juga menerima penghargaan penelitian sudah sejak usia 60 tahun. Di tahun 2005 beliau sudah terus meneliti.
Penelitian di tahun 2017 yaitu Terobosan dalam Ilmu Kehidupan ini yang sangat sesuai dengan hati dan nurani saya karena secara tidak langsung saya mengalaminya tanpa mempunyai bukti.
Penelitian Yoshinori Ohsumi ini telah membuktikan dan menemukan bahwa ketika seseorang lapar (puasa) dalam jangka waktu di atas 8 hingga 16 jam maka tubuh akan membentuk protein khusus di seluruh tubuh yang disebut autophagisom.
Ketika tubuh seseorang lapar, maka sel-sel tubuhnya pun ikut lapar. Sel-sel yang lapar ini akan memakan sel-sel dirinya yang sudah tidak beguna lagi atau sel-sel yang telah rusak (sel mati) agar tidak menjadi sampah dalam tubuh. Atau sel-sel mati ini tidak akan menghasilkan sesuatu yang bisa membahayakan tubuh.
Jadi, tubuh orang yang berpuasa akan membersihkan dirinya sendiri atau autophagisom tersebut bisa dianalogkan sebagai “sapu raksasa” yang mengumpulkan sel-sel mati yang tidak berguna dan bisa membahayakan tubuh untuk dikeluarkan. Sel-sel mati ini banyak dihasilkan oleh sel kanker dan sel berbentuk kuman (virus atau bakteri) penyebab penyakit.
Protein autophagisom tersebut menghancurkan dan memakan sel-sel berbahaya tersebut, lalu mengeluarkannya. Pastinya melalui tinja.
Bahkan beliau menyarankan agar seseorang bisa menjalani praktek melaparkan diri ini, dilakukan dua atau tiga kali dalam seminggu.
Hubungan dari penulisan ini dengan yang saya alami adalah, dalam keluarga besar kami pasti ada salah satu anggota keluarganya yang tidak bisa puasa karena mengalami sakit maag akut. Bahkan ada yang sudah haji sekalipun tapi tidak puasa wajib di bulan suci Ramadan karena sakit maag akut tersebut.
Nah, saya saat berumur 10 tahun juga terkena maag akut bahkan komplikasi dengan asma dan sakit dada.
Karena saya hidupnya sudah pernah diinfus dan bergantung dengan obat-obatan maka saya juga tidak diperbolehkan puasa pastinya oleh keluarga besar. Bahkan saya tidak dibangunkan sahur agar tidak berpuasa. Namun karena kerasnya saya, saya tetap nekat berpuasa. Menahan dengan rasa sakitnya bisa dikatakan hampir mati, meski begitu saya terus berdoa. Namun saya benar-benar tidak kuat, sehingga di jam 10.00 pagi saya harus memutuskan puasa saya.
Karena kejadian itu keluarga saya pun tidak berani lagi tidak membangunkan saya sahur.
Akhirnya saya berpuasa dengan sahur. Namun bukan berarti sahur membuat saya kuat menjalani puasa. Tetap saja tidak kuat dan saya putuskan puasa saya di jam 12.00.
Esoknya juga tetap begitu. Berlanjut hingga di hari ke 10 bulan suci Ramadan. Saya masih harus membatalkan puasa, namun kali ini di jam 18.00, detik-detik berbuka puasa. Saya memang sudah tidak kuat. Namun saya yakin Allah akan menyembuhkan maag saya ini.
Di hari ke 11, tanpa saya sadari tidak ada sedikitpun rasa sakit yang saya alami hingga waktu berbuka tiba.
Itulah perjuangan saya saking tidak ingin menyia-nyiakan puasa di bulan suci Ramadan, yang datang hanya 1 kali setahun.
Sejak itu, saat saya masih berusia 10 tahun hingga kini, saya tidak pernah mengalami sakit apapun lagi.
Alhamdulillah sehat dan bersyukurlah kita disunnahkannya puasa Senin, Kamis dan puasa sunnah lainnya hingga diwajibkan berpuasa selama 1 bulan penuh di bulan Suci Ramadhan.
Jalankan dengan yakin Inshaa Allah setiap ibadah yang diwajibkan dan dicontohkan Rasulullah SAW pasti memberikan manfaat kepada yang melaksanakannya dan kesehatan yang kamu inginkan akan terkabul. Aamiin YRA…
Bulan suci Ramadan tahun ini adalah yang kedua dalam kondisi pandemi Covid-19. Semoga “sapu raksasa” tersebut juga bisa membersihan segala virus-virus apapun dari dalam tubuh kita. Yang terpenting dalam menjalankan ibadah yang wajib ini, kita akan mendapatkan kesehatan dan nilai pahalanya.
Begitu juga seperti kita para dosen yang wajib melakukan Tridharma yaitu sebagai Pendidik juga wajib melakukan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Maka menulislah untuk berbagi ilmu.(*)
❤️❤️❤️
mantap ❤