Pulau Labu Dicemari Limbah Minyak Lagi, Kasus Pertama pada 2021 dan Warga Tak Tahu Penyelesaiannya - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Pulau Labu Dicemari Limbah Minyak Lagi, Kasus Pertama pada 2021 dan Warga Tak Tahu Penyelesaiannya

15/Feb/2026 22:25
Pulau Labu Dicemari Limbah Minyak Lagi, Kasus Pertama pada 2021 dan Warga Tak Tahu Penyelesaiannya

Ketua RW 03 Kelurahan Batu Legong, Ramadan, ditemui di Pulau Labu, Kota Batam, yang tercemar limbah minyak hitam, Minggu (15/06/2026). (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Pencemaran limbah minyak hitam sejak Sabtu kemarin di Pulau Labu, Kecamatan Bulang, ternyata bukan kali pertama terjadi.

Pantauan BatamNow.com di pulau yang dihuni 65 Kepala Keluarga (KK) itu pada Minggu (15/02/2026), terlihat minyak hitam pekat menutup sebagian permukaan air dan tanah di bawah rumah pelantar di sana.

Sebagian limbah minyak juga menempel pada  tiang rumah warga. Bahkan terlihat beberapa ikan mati dan menghitam akibat pencemaran.

Deretan rumah pelantar di pesisir Pulau Labu, Kecamatan Bulang, Kota Batam. (F: BatamNow)

Ketua RW 03 Kelurahan Batu Legong, Ramadan mengatakan pencemaran yang sama pernah terjadi di Pulau Labu pada bulan yang sama di tahun 2021. Namun warga tak tahu bagaimana penyelesaiannya.

“Sejauh ini yang kita tahu dua kali. Kemarin tahun 2021 dari Marcopolo, kita pernah 3 kali RDP ke DPR. Habis itu mentok di Polda. Terputus sampai di situ saja, sampai hari ini tidak ada penyelesaian,” ujarnya saat ditemui di Pulau Labu, Minggu (15/02).

@batamnow Pencemaran limbah minyak hitam sejak Sabtu kemarin di Pulau Labu, Kecamatan Bulang, ternyata bukan kali pertama terjadi. Pantauan BatamNow.com di pulau yang dihuni 65 Kepala Keluarga (KK) itu pada Minggu (15/02/2026), terlihat minyak hitam pekat menutup sebagian permukaan air dan tanah di bawah rumah pelantar di sana. Sebagian limbah minyak juga menempel pada  tiang rumah warga. Bahkan terlihat beberapa ikan mati dan menghitam akibat pencemaran. Ketua RW 03 Kelurahan Batu Legong, Ramadan mengatakan pencemaran yang sama pernah terjadi di Pulau Labu pada bulan yang sama di tahun 2021. Namun warga tak tahu bagaimana penyelesaiannya. “Sejauh ini yang kita tahu dua kali. Kemarin tahun 2021 dari Marcopolo, kita pernah 3 kali RDP ke DPR. Habis itu mentok di Polda. Terputus sampai di situ saja, sampai hari ini tidak ada penyelesaian,” ujarnya saat ditemui di Pulau Labu, Minggu (15/02). Kali ini terjadi lagi dan setelah dilaporkan kepada instansi terkait malah belum ada tim yang turun ke lokasi hingga sehari setelah warga menemukan pencemaran itu. “Sedikit saya ingin sampaikan juga kepada instansi terkait, sampai sore ini saya merasa kecewa, seharusnya untuk instansi terkait turun datang ke Pulau Labu, memberi dukungan, setidaknya dukungan moral kurang-kurangnya, atau mencari jalan keluar agar bagaimana supaya kesehatan masyarakat tetap terjaga. Sampai sore ini belum ada yang datang, setahu kita belum sampai sore ini. Kita sudah laporkan ke lurah,” tandasnya. Khawatir Ganggu Kesehatan Anak dan Ibu Melahirkan Ramadan khawatir limbah minyak hitam yang mencemari Pulau Labu bakal mengganggu kesehatan anak-anak dan ibu-ibu yang baru melahirkan. “Yang kita khawatirkan saat ini, terutama kepada anak-anak yang baru lahir, banyak ibu yang baru melahirkan di sini, kita takut nanti dampaknya kepada anak-anak,” ujarnya. Ia menambahkan, kejadian ini juga sangat berpengaruh kepada nelayan karena tidak bisa mencari udang. “Kejadian ini sangat berpengaruh karena udang-udang pasti ke laut semua nggak mau ke pantai karena sudah dipenuhi minyak hitam,” tukasnya. Senada, warga Pulau Labu yakni Hendra membenarkan bahwa nelayan tidak bisa lagi mencari udang di pantai yang tercemar limbah minyak hitam. “Udang itu berada di pesisir pantai. Berdasarkan laporan warga mengatakan ketika mereka mencari udang itu oli hitam itu sudah sepanjang pantai. Saat mereka mengambil udang sudah tidak bisa karena ditutupi oli hitam itu. Jadi itu menghambat, jadi mereka langsung pulang,” ucapnya. Warga Telusuri Asal Minyak ke Kawasan Shipyard Ramadan mengetahui pencemaran itu dari laporan warga pada Minggu (14/02) sekira pukul 20.00. “Sekitar jam 8 malam lebih lah, warga lapor ke saya. Warga pulang dari cari udang lapor ke saya. Katanya pantai kita sudah dipenuhi dengan minyak, jadi saya langsung lihat memang benar adanya,” jelasnya. Setelah mendapat laporan, ia langsung mendokumentasikan foto dan video serta menelusuri asal limbah minyak itu bersama bersama Hendra yang melaporkan pencemaran… Baca selengkapnya di BatamNow.com #batam #batamnow #batamtiktok #fyp #batamhits ♬ original sound – BatamNow.com

Kali ini terjadi lagi dan setelah dilaporkan kepada instansi terkait malah belum ada tim yang turun ke lokasi hingga sehari setelah warga menemukan pencemaran itu.

“Sedikit saya ingin sampaikan juga kepada instansi terkait, sampai sore ini saya merasa kecewa, seharusnya untuk instansi terkait turun datang ke Pulau Labu, memberi dukungan, setidaknya dukungan moral kurang-kurangnya, atau mencari jalan keluar agar bagaimana supaya kesehatan masyarakat tetap terjaga. Sampai sore ini belum ada yang datang, setahu kita belum sampai sore ini. Kita sudah laporkan ke lurah,” tandasnya.

@batamnow Warga di Pulau Labu, Kecamatan Bulang, Batam, resah akibat pencemaran minyak hitam yang muncul di bawah rumah-rumah pelantar penduduk sejak Sabtu malam. Ketua Pokmaswas DKP Kepri, Moh Sapet, mengatakan minyak tersebut pertama kali terlihat sekitar pukul 20.30 WIB dengan bentuk menyerupai tar aspal kental. Warga sempat menelusuri sumber pencemaran, namun belum berhasil menemukannya. “Tadi malam jam 08.30 kita menelusuri. Sumbernya belum ketemu, tapi dampak yang terbesar itu berada di Pulau Labu,” ujar Sapet melalui sambungan telepon, Minggu (15/02/2026). Ia menjelaskan, saat air surut, minyak menyebar hingga ke Pulau Buluh. Namun, Pulau Labu yang berada di Kelurahan Batu Legong itu menjadi lokasi paling terdampak karena posisinya berada di jalur tumpuan arus. “Kalau untuk luas satu pulau itu kena ya, satu Pulau Labu itu di pemukiman penduduk semua kena karena dia kan pulau sebelah dalam, jadi teradang untuk tumpuan arus di situ, jadi tumpuan minyaknya berada di situ,” jelasnya. Sapet menambahkan, pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut kepada instansi terkait, termasuk DLH, DKP, KSOP, Gakkum, kepolisian, namun hingga kini belum ada petugas yang turun ke lokasi. “Apa mereka turun, apa tidak, karena di hari libur begini ya kan. Tapi ya kita berharap mereka segera mungkin untuk melihat kondisi di sana dan melihat jenis apa yang ada di sana. Yang kita khawatirkan dampak dari limbah tersebut yang berada di bawah tempat rumah penduduk,” katanya. Menurutnya, jika tidak segera ditangani, pencemaran tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius bagi ekosistem laut yang akan memngancam kesehatan dan ekonomi masyarakat berprofesi nelayan di sana. “Kita khawatirkan pertama kesehatan masyarakat. Dengan musim cuaca yang tidak baik begini takut penguapan bisa jadi ISPA ke masyarakat atau terpapar mungkin alergi di tubuh manusia,” tegasnya. Cemaran itu disebut mengganggu aktivitas nelayan di mana menjelang hari raya Imlek adalah musim memburu ikan dingkis yang memiliki nilai ekonomis tinggi. “Yang kedua, kegiatan masyarakat, baik itu saat ini masih dalam suasana berkelong mencari dingkis ya, itu terganggu dengan aktivitas kejadian ini dengan alat-alat tangkap nelayan juga terganggu ya,” jelasnya.   Sapet juga menegaskan, perlu ada langkah cepat dan konkret dari pemerintah untuk menangani pencemaran lingkungan ini. “Perlu ada tindakan dari pemerintah dalam hal ini bagaimana mengatasi pencemaran ini supaya tidak berada di situ dalam jangka waktu yang lama sehingga nanti bisa memicu hal yang tidak kita mau kita inginkan di tengah masyarakat,” tegasnya. Ia juga meminta BP Batam agar tidak hanya berpatokan pada regulasi administratif dalam pengawasan lingkungan, tetapi juga mengambil langkah tegas terhadap pelaku pencemaran. “Mohon BP Batam dalam pengawasan ini jangan mengacu kepada PP 25, 28, 47-nya saja. Action-nya dalam pengawasan di lapangan seperti apa? Tindakan tegas harus ada, tindakan terhadap pelaku baik itu nanti unsurnya perdata atau pidana tolong diproses,” ucapnya. Sapet mengingatkan, kasus pencemaran lingkungan di Batam yang mirip sudah beberapa kali terjadi. “Mau sampai kapan lingkungan dan masyarakat kita terancam dengan kerusakan lingkungan, dengan penjahat-penjahat lingkungan,” tukasnya. Baca beritanya di BatamNow.com #batam #batamnow #batamtiktok #fyp #batamhits ♬ News, news, seriousness, tension(1077866) – Lyrebirds music

Khawatir Ganggu Kesehatan Anak dan Ibu Melahirkan

Ramadan khawatir limbah minyak hitam yang mencemari Pulau Labu bakal mengganggu kesehatan anak-anak dan ibu-ibu yang baru melahirkan.

Baca Juga:  Daratan Batam Darurat Sampah, Pun Laut dan Perairan: Apa Kabar Gema Batam ASRI?

“Yang kita khawatirkan saat ini, terutama kepada anak-anak yang baru lahir, banyak ibu yang baru melahirkan di sini, kita takut nanti dampaknya kepada anak-anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, kejadian ini juga sangat berpengaruh kepada nelayan karena tidak bisa mencari udang.

“Kejadian ini sangat berpengaruh karena udang-udang pasti ke laut semua nggak mau ke pantai karena sudah dipenuhi minyak hitam,” tukasnya.

Ketua RW 03 Kelurahan Batu Legong, Ramadan, memegang sampel limbah minyak hitam yang mencemari Pulau Labu, Kota Batam, Minggu (15/06/2026). (F: BatamNow)

Senada, warga Pulau Labu yakni Hendra membenarkan bahwa nelayan tidak bisa lagi mencari udang di pantai yang tercemar limbah minyak hitam.

“Udang itu berada di pesisir pantai. Berdasarkan laporan warga mengatakan ketika mereka mencari udang itu oli hitam itu sudah sepanjang pantai. Saat mereka mengambil udang sudah tidak bisa karena ditutupi oli hitam itu. Jadi itu menghambat, jadi mereka langsung pulang,” ucapnya.

Warga Telusuri Asal Minyak ke Kawasan Shipyard

Ramadan mengetahui pencemaran itu dari laporan warga pada Minggu (14/02) sekira pukul 20.00.

“Sekitar jam 8 malam lebih lah, warga lapor ke saya. Warga pulang dari cari udang lapor ke saya. Katanya pantai kita sudah dipenuhi dengan minyak, jadi saya langsung lihat memang benar adanya,” jelasnya.

Setelah mendapat laporan, ia langsung mendokumentasikan foto dan video serta menelusuri asal limbah minyak itu bersama bersama Hendra yang melaporkan pencemaran.

“Jadi langsung saya ambil foto, video, dan setelah itu saya ke rumah mas Hendra. Kita langsung turun ke lapangan,” terangnya.

Genangan bercampur limbah minyak hitam yang mencemari Pulau Labu, Kota Batam, Minggu (15/06/2026). (F: BatamNow)

Menurut Ramadan, limbah minyak itu ditemukan di laut dan terputus di antara perusahaan galangan kapal (shipyard) yang jaraknya sekitar 1 kilometer (Km) dengan Pulau Labu.

“Dan di sepanjang laut itu kita jumpai minyak juga, cuma terputusnya di antara Marcopolo dan PT Delta. Minyaknya sangat kental sekali. Sampelnya saya simpan,” jelasnya.

Pun Hendra mengatakan pada malam penelusran itu mereka menemukan limbah minyak dari pesisir hingga laut dengan ketebalan diperkirakan 0,5 milimeter (mm).

“Semalam itu dari penglihatan kita minyak hitam itu cukup tebal dari pesisir sampai ke tengah laut. Kita dari sini sampai perairan Marcopolo, diperkirakan tebalnya setengah mili, saat dipengang, tiga kali cuci baru bisa bersih,” jelasnya.

Informasi yang diperoleh di lapangan, pada 6-13 Februari sedang ada pengerjaan tank cleaning kapal MV J**iter di salah satu perusahaan shipyard di dekat Pulau Labu. (H)

Berita Sebelumnya

Laba Melonjak 68 Persen, Koperasi Amanah Riau Kepri Perkuat Kinerja dan Layanan

Berita Selanjutnya

Umrah dan Emas untuk Anggota, Koperasi Amanah Riau Kepri Konsisten Beri Reward

Berita Selanjutnya
Umrah dan Emas untuk Anggota, Koperasi Amanah Riau Kepri Konsisten Beri Reward

Umrah dan Emas untuk Anggota, Koperasi Amanah Riau Kepri Konsisten Beri Reward

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com