Rela Miskin Demi Gaya, Ini Asal Usul Komunitas La Sape Kongo - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Rela Miskin Demi Gaya, Ini Asal Usul Komunitas La Sape Kongo

17/Apr/2022 06:51
Rela Miskin Demi Gaya, Ini Asal Usul Komunitas La Sape Kongo

La Sape, Kongo. (F: Dok. La Sape)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Sebuah fenomena unik ditemukan di Kongo. Di negara itu, ada sebuah komunitas fesyen yang disebut La Sape.

Dilansir CNBC Indonesia, komunitas itu dikenal karena pilihan hidupnya yang ekstrem, mereka rela hidup susah asal bisa tampil fashionable.

Dari mana asal-usul La Sape?

La Sape adalah singkatan dari Société des ambianceurs et des personnes elegantes atau yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai Society of Atmosphere-setters and Elegant People.

Asal usul La Sape diyakini bermula di awal abad ke-20 di masa penjajahan Belgia-Prancis di mana budak Kongo bekerja untuk mendapatkan pakaian bekas.

Di luar jam kerja, para pria Kongo mulai berpakaian seperti “pria Prancis” yang fashionable, ditandai dengan pakaian warna-warni, sepatu mewah, aksesoris seperti topi bowler, tongkat, dan kacamata hitam. Mengenakan pakaian seperti itu, mereka merasa keren dan mendapatkan energi serta kegembiraan.

Orang-orang ini disebut sapeurs (atau sapeuses bagi perempuan). Pada saat itu, La Sape adalah bentuk ekspresi sosial dari orang-orang yang pernah dijajah. Sapeurs menggunakan gerakan ini sebagai pelarian dari kesengsaraan mereka, yang kemudian menjadi inspirasi bagi komunitas lain.

Baca Juga:  Kini Bengkong Zona Merah. Kasus Harian Batam Melonjak Lagi, Tambah 19 Positif Covid

Namun, mengutip Al Jazeera, saat ini La Sape adalah ideologi gerakan tentang menjadi bahagia dan elegan bahkan jika seseorang sebenarnya kekurangan makan.

Namun, La Sape lebih dari sebuah subkultur. Ini adalah bagian penting dari budaya Kongo. Bahkan, para politisi dan musisi menghormati gerakan ini.

“Bagi saya, La Sape hanyalah tentang kebersihan: Saya merasa nyaman dengan setelan Ozwald Boateng saya, jadi saya memakainya,” kata Aime Champaigne, salah satu pengikut gerakan La Sape.

Namun demikian, orang Kongo yang skeptis tentang La Sape mendefinisikan gerakan ini sebagai obsesi – kecanduan yang tidak dapat dihentikan bahkan jika Anda merasa itu salah. (*)

Berita Sebelumnya

Gubernur Ansar Ajak Umat Memedomani Al Quran sebagai Solusi Hidup

Berita Selanjutnya

Safari Subuh Gubernur Ansar di Bengkong Laut, Berharap Keberkahan Untuk Kepri

Berita Selanjutnya
Safari Subuh Gubernur Ansar di Bengkong Laut, Berharap Keberkahan Untuk Kepri

Safari Subuh Gubernur Ansar di Bengkong Laut, Berharap Keberkahan Untuk Kepri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com