Ribuan Kapal China Serbu Natuna, Begini Penjelasan Bakamla RI - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Ribuan Kapal China Serbu Natuna, Begini Penjelasan Bakamla RI

by BATAM NOW
18/Sep/2021 21:53
AL Siagakan KRI Antisipasi Kapal China Wara-wiri di Natuna

TNI AL berjanji memberi rasa aman kepada nelayan di perairan Natuna Utara dari kapal asing. (F: ANTARA FOTO/ HO/ Dispen Koarmada I)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com, Jakarta – Kepala Bagian Humas dan Protokol Badan Keamanan Laut (Bakamla) Kolonel Wisnu Pramandita menjelaskan soal kondisi di Laut Natuna Utara (LNU) yang dihuni ribuan kapal asing, terutama kapal China dan Vietnam.

Dilansir CNBCIndonesia.com, seperti diketahui, ribuan kapal asing bercokol di LNU membuat geger publik di Tanah Air beberapa hari terakhir. Kapal-kapal itu dilaporkan masuk ke Natuna bagian utara, masuk Laut China Selatan (LCS), yang merupakan teritori Indonesia.

Wisnu menjelaskan bahwa kata ‘ribuan’ yang disampaikan oleh Sestama Bakamla Laksda TNI S. Irawan itu bermakna umum, tidak dalam waktu yang berdekatan dan juga mencakup Laut China Selatan.

“Laut Natuna Utara kan berbatasan langsung dengan Laut China Selatan,” ujar Wisnu, seperti dikutip dari keterangan resmi Bakamla, Sabtu (18/09/2021).

Dia menyebut bahwa ribuan kapal asing yang hadir dipengaruhi faktor geografis LNU yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan.

“Laut Natuna Utara memang banyak kapal asing karena wilayah tersebut merupakan pintu masuk dari dan keluar lalu lintas kapal yang melalui Selat Sunda dan Selat Malaka,” tutur Wisnu.

Lebih lanjut Wisnu menjelaskan bahwa Bakamla sedang mengajukan rekomendasi kebijakan dan strategi guna menghadapi situasi di perbatasan laut ke Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam). Kebijakan itu termasuk menjaga perbatasan di Laut China Selatan.

Dalam rekomendasi tersebut, menurutnya tidak hanya diperlukan kehadiran aparat, tapi juga pelaku ekonomi, termasuk nelayan dan kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi di bawah wewenang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta kegiatan penelitian.

Baca Juga:  Update 16 Agustus 2021 Kota Batam: 185 Orang Sembuh Covid-19, Tingkat Kesembuhan 93,5 Persen

Selain itu, Bakamla juga menyusun rencana aksi terkait rekomendasi itu, salah satunya mendorong konsep pembentukan Nelayan Nasional Indonesia.

Saat ini, Bakamla tengah menyusun rencana aksi terkait rekomendasi kebijakan tersebut, salah satunya adalah mendorong konsep pembentukan Nelayan Nasional Indonesia yang bertujuan mendorong kehadiran pelaku ekonomi sekaligus mendukung kegiatan monitoring di wilayah penangkapan ikan di LNU.

Sementara itu, Kepala Bakamla Laksamana Madya (Laksdya) Aan Kurnia menegaskan, situasi di LNU tetap aman terkendali.

“Sekarang nelayan tidak perlu khawatir serta dapat tetap beraktivitas sebagaimana biasanya,” ucap Aan.

Sebelumnya, Sekretaris Utama Badan Keamanan Laut Laksda S Irawan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (13/09) mengatakan bahwa ada ribuan kapal milik Vietnam dan China yang masuk perairan Natuna, dekat Laut China Selatan. Kapal-kapal tersebut, dianggap mengganggu aktivitas pertambangan kapal Nasional.

“Kalau kita lihat di pantauan radar atau pantauan dari Puskodal kami, sampai saat ini di daerah overlapping itu masih ada 1, 2, 3, 4, 5, 6 kapal-kapal Vietnam, pantauan radar, termasuk kapal-kapal coast guard China,” kata Irawan, Senin (13/09).

“Begitu dilihat kasat mata ataupun langsung pengamatan udara, itu bahkan sampai ratusan, mungkin ribuan kapal yang ada di sana,” imbuhnya.

Di kesempatan yang sama, Irawan juga menyebut ada ratusan atau ribuan kapal China dan Vietnam yang memasuki perairan Indonesia di Natuna Utara. Kapal-kapal tersebut tidak terdeteksi radar.(*)

Berita Sebelumnya

TNI Buru KKB, Perintah Pangdam: Tangkap Hidup atau Mati

Berita Selanjutnya

Covid Ngamuk, Sekolah di Singapura Balik Lagi ke Online

Berita Selanjutnya
Covid Ngamuk, Sekolah di Singapura Balik Lagi ke Online

Covid Ngamuk, Sekolah di Singapura Balik Lagi ke Online

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com