BatamNow.com – Satu dari 3 ponton tempat sandar feri penumpang internasional di Pelabuhan Batam Center, kini terkulai “diborgol” oleh pihak perusahaan swasta PT Synergy Tharada (ST) sebagai pengelola lama yang sudah “pensiun” sejak 2 Agustus, lalu.
Keberadaan ponton itu sekarang, selain tak dapat difungsikan juga mengganggu pemandangan di pelabuhan berstandar internasional itu, sebagaimana kata para penumpang internasional.
“Ada ponton yang mangkrak atau pensiun itu,” kata Lusiana yang baru turun dari feri Singapura-Batam sambil berjalan menunjuk ke sebelah kiri arah terminal.
Sindiran Lusiana pun diamini penumpang lain termasuk wartawan media ini yang baru pulang dari Singapura sama menapaki dermaga ke arah terminal kedatangan.
Ponton yang “pensiun” dan mengganggu pemandangan itu posisinya di sebelah kanan pelabuhan menghadap laut.
Mengganggu pemandangan karena terlihat jelas fisik ponton fasilitas pelabuhan itu “diborgol” pakai rantai besi.
Beberapa tangga besi sebagai alat bantu yang sebelumnya dipakai untuk menaikkan dan menurunkan penumpamg terlihat berantakan di atas ponton.
Ponton itu dibangun pihak PT ST, beberapa tahun lalu, atas permintaan BP Batam untuk mengatasi manakala terjadi lonjakan penumpang (wisatawan) dari Singapura dan Malaysia.
Dan, menurut Chief Executive Officer (CEO) PT Synergy Tharada (ST), Reza Riadi, fungsi ponton itu memang sangat vital mengantisipasi saat terjadi peak season, selama mereka mengelola pelabuhan itu.
“Ponton itu kami bangun atas permintaan BP Batam beberapa tahun lalu ketika kami masih pengelola pelabuhan itu dan dananya atas anggaran kami,” kata Reza Riadi.
Tentu, katanya, karena bukan pengelola lagi PT ST meminta dikompensasi, namun tak ada respons dari BP Batam dan untuk sementara di- close dulu.
Sementara menurut Staff Kepala Pos (Kapos) Syahbandar Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, Erik Mario Sihotang, keberadaan ponton itu sangat vital.
Apalagi, katanya, kala trip ekstra feri disebab lonjakan arus kedatangan penumpang dari Singapura dan Malaysia seperti pada Kamis (31/10/2024).
“Kalau sampai terjadi trip ekstra, terpaksa akan kita alihkan ke Pelabuhan Internasional di Sekupang karena kapasitas 2 ponton tersedia tak dapat menampung,” kata Erik.
Pantauan BatamNow.com, pada Kamis kemarin, jumlah arus kedatangan melonjak hingga 8.000 penumpang.
“Kalau sampai ada extra trip terpaksa akan kami alihkan ke pelabuhan yang sama standarnya di Sekupang karena dengan hanya 2 ponton tak memadai,” kata Erik menjawab BatamNow.com.
Namun Direktur BU Pelabuhan BP Batam, Dendi Gustinandar berkata: tak ada kendala di Pelabuhan Penumpang Internasional Batam Ceter, kendati satu ponton “diborgol”.
“Kami sampaikan bahwa masih ada beberapa yang harus diselesaikan dan terus dikomunikasikan. Dapat kami sampaikan disini, Pelayanan terhadap pelancong tidak akan terkendala di Batam, jumlah kapasitas penumpang di Batam masih dalam kategori mampu menerima dan melayani pelancong dengan baik,” kata Dendi kepada BatamNow.com, Jumat (01/11/2024).
Adapun pemasangan rantai besi itu dilakukan pihak PT Synergy Tharada, perusahaan pengelola lama karena hak mereka yang belum terselesaikan oleh BP Batam. Penyegelan dilakukan sejak 2 Agustus lalu.
Lalu, ketika ditanya mengenai dengan adanya perkiraan extra trip dari Singapura dan akan dialihkan ke Pelabuhan Internasional Sekupang.
“Extra trip menjadi satu keadaan yang baik untuk Batam krn akan menambah kegiatan ekonomi di kota kita. Permntaan extra trip itu akan disampaikan oleh agen kapal, jika memang ada kenaikan signifikan terhadap jumlah penumpang. Dan prosesnya sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Dendi.
“Di Batam ada beberapa pelabuhan yang menjadi alternatif pilihan, sama juga jika kita akan ke Johor atau Singapura, kita bisa memilih tujuan pelabuhan dan kapal yang akan kita gunakan, Jadi tidak perlu khawatir, kami tetap akan memberikan pelayanan sesuai ketentuan guna menjaga faktor keselamatan, keamanan dan pelayanan,” lanjutnya.
Tapi bukankah pengalihan tujuan feri secara tiba-tiba karena keterbatasan daya tampung 2 ponton di Batam Center dan pengalihan tujuan feri berpotensi mengecewakan para wisatawan?
Dan juga soal batas waktu embarkasi dan debarkasi yang bisa terganggu karena keterbatasan daya tampung untuk ektra trip dan jaminan atas problem keselamatan (penumpang)?
Ketua DPP Kepri LI-Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Pemerintah, Panahatan SH, mengkritisi tajam pernyataan Dendi yang dianggapnya kurang tepat.
“Katakanlah ponton itu tak diperlukan oleh mitra BP Batam yakni PT Metro Nusantara Bahari pengelola pelabuhan sekarang, kenapa ponton yang terkulai itu tak dibongkar saja sampai merusak pemandangan di sana, apalagi sebaliknya KSOP mengatakan bila ada trip ekstra butuh ponton tambahan dari 2 yang berfungsi,” ujar Panahatan.
Ia katakan para Deputi dan Plt Kepala BP Batam Purwiyanto jangan hanya duduk manis di gedung “Elang Emas” yang sejuk itu.
“Lihatlah ke lapangan apa yang terjadi, sesekali berpanas-panaslah, bisa saja pak Dendi sudah puyeng pikirannya mengurusi sejumlah pelabuhan yang mengelilingi Pulau Barelang seperti ikat pinggang,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan pihak BP Batam agar jangan bicara seenaknya tanpa makna.
Katanya, hendaknya para pejabat di BP Batam sebagai orang-orang berpendidikan bisa berpikir dan membuat narasi yang masuk akal sehat.
“Saya tak akan menggunakan kosa kata ‘dungu’ istilah Rocky Gerung, tapi pakai akal sehat lah, untuk apa ponton itu dibangun kalau tidak diperlukan, logikanya itu,” ujarnya.
Ia tambahkan, “Saya cermati selama ini, kebanyakan para pejabat di BP Batam, seperti asal omon-omon saja dengan kualitas narasi yang dibangun seperti tak mendidik, yang penting jawab seenaknya, padahal ada keresahan yang muncul di tengah masyarakat di pusaran ototitas pelabuhan itu di tangan BP Batam, paling tidak penyegelan ponton itu dipermasalahkan”.
Ia tambahkah lagi, bahwa atas penyegelan ponton di pelabuhan itu citra pelabuhan internasioanal menjadi jelek.
Dan, ia ingatkan lagi, citra para pejabat di BP Batam yang rerata berpendidikan tinggi itu, juga jelek di mata publik karena bicara asal ngegas tanpa bobot dan nilai, padahal fakta masalah di tengah masyarakat banyak yang tak dapat diselesaikan. (Baca laporan media ini edisi membeber berbagai masalah yang tak tuntas dalam 53 tahun BP Batam)
“Coba tanya masyarakat untuk menilai, di mana harga diri para pejabat di BP Batam sebagai pemegang otoritas kepelabuhanan di Batam “diborgol” oleh pihak swasta, terjemahkan sendiri apa maknanya,” ujarnya mengakhiri. (A)

