SISTEM Pengelolaan Air berbasis Teknologi Informasi (IT) di Batam mulai dibangun ATB sejak tahun 2006.
Satu sistem pengelolaan Air yang terintegrasi dari hulu ke hilir, yakni mulai dari waduk, WTP, tangki reservoir dan jaringan distribusi.
Sistem pengelolaan air ini disebut SCADA atau Supervisory Control and Data Acquisition, yaitu sistem kendali industri berbasis komputer yang dipakai untuk pengontrolan suatu proses mengelola Big Data secara “real time”.

Konon SCADA dapat mengontrol sistem pengelolaan air ATB dari jarak jauh. Bila perlu ”tombol” bisa dipencet dari luar kota.
Pada Oktober 2019, SCADA yang dipakai ATB itu didaftarkan di Kemenkumham. Dan telah mendapat sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan No. IDS000002635 atas nama personal.
SCADA ATB dapat memberikan informasi yang sangat akurat, sehingga di setiap tahapan pengelolaan air dapat terpantau secara akurasinya, antara lain:
- Informasi ketersediaan air di waduk, yaitu turun naiknya permukaan air di waduk dapat dilihat secara akurat di pusat SCADA yang berada di ”Pentagon”-nya ATB di lantai 7, Sukajadi itu.
- Keadaan dan kondisi Water Treatment Process (WTP), yaitu informasi keadaan dan kondisi baik tidaknya WTP di tiap-tiap zona. Katakanlah ketika kondisi WTP yang dalam keadaan trouble, dapat diketahui dengan cepat, sehingga dapat dilakukan perbaikan dengan cepat.
- Keadaan dan kondisi 16 tangki resevoir, terpantau di tiap-tiap zona, sehingga bila terjadi kerusakan reservoir di manapun, dapat diketahui dengan cepat.
- Keadaan dan kondisi pipa-pipa untuk mendistribusikan air ke para pelanggan, terdeteksi lewat SCADA. Misalnya, pipa yang mengalami kebocoran, sehingga penyaluran air ke para pelanggan terjamin. Tingkat kehilangan (losses) air melalui pipa yang bocor dapat segera diketahui.
SCADA ini juga terhubung dengan Geographic Information System (GIS). Alat teknologi ini, dapat digunakan untuk mengelola (input, manajemen, dan output), sehingga data dan informasi pengelolaan air ATB dapat menghasilkan angka-angka yang akurat, mulai dari waduk sampai ke pengguna akhir, yaitu pelanggan.
Sistem ini juga dapat menyajikan data dan informasi penggunaan air oleh pelanggan secara akurat. Tercetak langsung dalam billing system (sistem penagihan).
Di samping itu, sistem ini juga dapat dengan cepat menyelesaikan semua keluhan-keluhan pelanggan. Oleh karena data yang dikirim ke sistem ini bersumber dari alat yang terpasang di setiap tahapan, sehingga tingkat akurasi data SCADA ini mencapai 100%.
Namun akurasi ini masih dapat dipengaruhi antara lain faktor distorsi, misalnya, baterai rusak atau alat dicuri orang. Di samping itu juga faktor banjir yang mengakibatkan peralatan kerendam air. Nah, ini dia kelebihan manajemen ATB selama 25 Tahun berbakti mengelola air di Batam.
Bisa jadi sistem berbasis IT seperti ini, berikut para operatornya, sudah disiapkan baik oleh BUMN, BUMD Pemko dan BP Batam sendiri serta para perusahaan swata lain yang kelak menggantikan ATB. Kalau tidak , ini menjadi masalah besar. Bisa jadi pengelolaan air di Batam pasca ATB, mengalami kemunduran. (junpa)
(Data-data di atas dihimpun dari berbagai sumber).