BatamNow.com – Sudah hampir seminggu ini tak ada jenazah korban Covid-19 yang dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sei Temiang, Batam. Otomatis, penggali kubur di sana sepi pendapatan.
Pantauan BatamNow.com di Blok R TPU Sei Temiang, Sabtu (04/09/2021) pagi, makam terbaru tertanggal 30 Agustus 2021 atau 5 hari lalu. Setelahnya belum ada lagi pemakaman korban Covid-19.
Pada makam itu, tertancap papan nisan dengan tulisan Blok R 969. Blok R ini memang khusus korban Covid-19 sedangkan 969 menjelaskan nomor urut kuburan. Setiap makam di sini juga dipasang papan nisan seperti itu.
Meski hampir seminggu tak ada “orderan”, Wahab dan Hamka -penggali kubur di TPU Sei Temiang- tak merasa sesal walau pundi-pundi rupiahnya pun ikut berkurang.
“Alhamdulillah itu,” ujarnya sembari senyum.
“Kita malah senang. Yang penting sudah berkurang [penguburan], kita senang. Rezekinya, ada aja nanti itu,” lanjutnya.
Wahab katakan, mungkin ada persepsi beberapa orang bahwa para penggali kubur mengharapkan banyak kasus kematian sehingga “order” liang lahad bertambah.
“Nggak benar itu. Kita yang menggali pun takut mati,” tegasnya.
Dia katakan, para penggali kubur lah yang juga rentan terpapar virus Corona saat memakamkan jenazah korban Covid-19 yang kini totalnya sudah ratusan.
“Bersyukur, kita tak ada yang pernah kena [Covid-19],” ujar Wahab.
“Bukan satu atau dua jenazah yang kita kubur tapi ada ratusan,” sambung Hamka yang duduk di samping Wahab.
Beberapa bulan lalu, mereka bisa menguburkan 15-18 jenazah korban Covid-19 dalam sehari. “Pernah pas siang sama malam, totalnya 26-28,” ujar Wahab.
Menurut Wahab, di TPU Sei Temiang ini juga ada jenazah dari luar Batam. Misalnya warga Tanjungpinang yang sebelumnya dirawat di kota ini. “Pas meninggal positif Covid, tak bisa dibawa ke sana harus kubur di sini,” ujar Wahan.
Untuk proses hingga jenazah dikuburkan di TPU Sei Temiang, kata Wahab, pihak rumah sakit akan melaporkan ke Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman dan Pertamanan (Perkimtan). Kemudian dilanjutkan ke pihak yayasan yang mengurus pemakaman lalu diinfokan ke para penggali kubur di sana.
“Kalau ada jenazah, akan langsung diinfo di WhatsApp Group. Misalnya muslim 5 orang, nasrani 2,” Wahab mencontohkan.
“Tapi hampir seminggu ini sudah tak ada,” lanjutnya.
Menurut Wahab, jumlah penggali kubur di TPU Sei Temiang yakni 10 orang di makam khusus Covid-19 dan selebihnya untuk makam non-Covid. “Totalnya semua 35 orang,” ucapnya.
Formasi ini, kata dia tak tetap, bisa disesuiakan jika memang dibutuhkan banyak tenaga untuk menggali liang lahad.
Untuk pemakaman di Blok R TPU Sei Temiang ini dikelola oleh Yayasan Khairul Ummah Madani Kota Batam.
“Kami dari Perkimtan, diserahkan kepada yayasan. Jadi kami di bawah naungan yayasan. Kontraknya selama pandemi ini,” ujar Wahab.
Pengurus Yayasan Khairul Ummah Madani Kota Batam, Farida kepada BatamNow.com membenarkan bahwa tidak ada pemakaman jenazah korban Corona dalam beberapa hari ini.
“Alhamdulillah, beberapa hari terakhir tidak ada jenazah Covid-19. Semoga pandemi cepat usai. Amin,” jawab Farida melalui telepon, Jumat (03/09) malam.
Senada, Wahab juga berharap agar pandemi Covid-19 segera usai. “Agar anak-anak juga bisa kembali sekolah tatap muka,” ujarnya.

Diupah per Liang Lahad
Wahab jelaskan, periode pembayaran upah mereka tidak pasti karena tergantung banyaknya liang lahad yang “diklaim” ke Pemerintah Pusat.
“Tergantung banyaknya lubang. Bisa dalam 5 atau 6 hari langsung cair,” ujar Hamka.
Wahab katakan, belakangan ini gaji mereka agak lambat “cairnya”. “Sudah ada sebulan lebih,” ujar Wahab.
Para penggali kubur ini pun memiliki kebutuhan rumah yang tentu perlu dipenuhi dan membutuhkan uang. Sementara mereka bekerja penuh waktu di TPU Sei Temiang.
“Kalau kerja dobel di luar, sulit. Tanggung jawab kita di sini itu penuh, harus standby mana tahu ada tiba-tiba jenazah,” ungkapnya.
Dia jelaskan, upah mereka berasal dari pemerintah pusat yang disalurkan ke Dinas Perkimtan lalu ke yayasan yang menaungi mereka. “Sementara pusat pun sekarang sudah tak sanggup, sudah dialihkan ke daerah,” kata Wahab.
Sistem upah mereka adalah perhitungan liang kubur yang selesai dikerjakan, digali dan ditutup kembali setelah jenazah masuk.
“Bukan gaji bulanan gitu,” ucap Wahab.
“Ada ‘penghuni’ dulu baru bisa dibayar,” Hamka menimpali.
Untuk per liang lahad jenazah korban Covid-19 yang telah selesai dikerjakan, dihargai Rp 1 juta. “Setelah dipotong biaya administrasi sekitar Rp 900 ribuan,” kata mereka
“Dan satu lubang itu dikerjain 5 orang,” lanjut Wahab.
Berbeda dengan makam non-Covid, yang biasa dikerjakan 2 orang per liang kubur. “Untuk penggalinya saja Rp 500 ribu dan hari itu juga cair,” ucap Wahab.

Ziarah Ramai di Hari Jumat dan Minggu
Menurut Wahab, kegiatan ziarah di sana biasanya ramai pada hari Jumat dan Minggu.
“Dulu waktu panas-panasnya Covid nggak boleh, sekarang sudah dibolehkan,” kata Wahab.
Awak media ini berkesempatan mewawancarai salah seorang peziarah di lokasi pemakaman korban Covid-19 di TPU itu pada Jumat (03/04).
Sarah -bukan nama sebenarnya- warga Cipta Asri Tembesi, datang ke TPU Sei Temiang untuk berziarah ke makam almarhum ayahnya. Ayah Sarah tutup usia di umur 50 tahun.
Dia jelaskan, almarhum ayahnya dinyatakan positif Covid-19 dan dimakamkan dengan protokol Covid-19.
Sarah katakan, sang ayah memang memiliki riwayat kanker Nasofaring sejak 2018. Di tahun itu juga sudah pernah dirawat selama 2 bulan di RS Malaka di Malaysia.
Dikutip dari hellosehat.com, kanker Nasofaring adalah jenis penyakit kanker yang berkembang di bagian kepala dan leher, tepatnya di bagian nasofaring. Nasofaring merupakan bagian atas tenggorokan (faring) yang terhubung dengan bagian belakang hidung.
Karena masih pandemi, Sarah dan keluarga harus mengurungkan niat untuk membawa sang ayah berobat lagi ke Malaysia.
“Akhirnya dirawat di Rumah Sakit Graha Hermine selama 21 hari hingga meninggal,” ujarnya.
Ketika meninggal, kata Sarah, jenazah ayahnya pun dites RT-PCR dan hasilnya positif.
Ia ungkapkan, kurang yakin dengan sekali tes, mereka melakukan lagi RT-PCR hingga 5 kali namun hasilnya sama saja.
“Hasil PCR-nya positif 5 kali, mau gimana lagi,” tuturnya dengan raut sedih.
Sarah dan keluarga pun pasrah jasad ayahnya dimakamkan sesuai protokol pemakaman jenazah Covid-19.(PN/D)

