BatamNow – Kejadian mengenaskan ini mungkin menjadi pelajaran mahal bagi siapapun, khususnya bagi guru dan pimpinan sekolah.
Hanya gegara uang Studi Tour (ST) sebesar Rp 400 Ribu, seorang siswi harus meregang nyawa karena dicekik ayah kandungnya.

Kejadian nahas ini menimpa DS berusia 13 tahun di rumah kosong, tak jauh dari tempat kerja sang Ayah.
Ketika itu korban menyampari Ayahnya dengan menumpang kendaraan umum.
Kepada BR, sang ayah, DS meminta uang ST yang dilakukan sekolah SMPN 6.
Sang ayah yang berusia 45 tahun yang berada di tempat kerjanya, ternyata hanya memiliki uang Rp 200 ribu.
Untuk menggenapi permintaan anak perempuannya, BR pun meminjam ke taukenya di tempat pekerjaan, saat itu.
Tapi pinjaman yang didapat hanya Rp 100 ribu. Lantas sang ayah memberi anaknya DS Rp 300 Ribu.
Karena uang ST itu masih kurang, sang anak pun merengek-rengek dan terjadi cek-cok di rumah kosong, tempat pertemuan mereka.
Saat cek-cok itulah, si Ayah mungkin “gelap mata”, lalu mencekik anaknya; roboh dan kemudian meninggal.
Seketika, si Ayah membiarkan anak kandung perempuannya yang sudah meninggal itu di tempat kejadian perkara (TKP).
Lalu, BR, kembali ke tempat pekerjaannya sekitar pukul 16.00 WIB.
Di hari itu juga, sekitar pukul 21.00 WIB, pelaku kembali ke rumah kosong tersebut.
BR mengikat mayat putrinya itu di sepeda motor dan membonceng jasad itu ke SMPN 6.
Dia berupaya menyembunyikan mayat anaknya di gorong-gorong sekolah itu.
Maksud sang Ayah hendak beralibi, bahwa anaknya korban pelanggaran lalu lintas.
Mayat sang anak pun akhirnya membusuk, setelah beberapa hari di gorong-gorong. Dan dari sanalah terungkap kasus itu hingga ditangani polisi.(*/om)
Analisa singkat
Tesis 1
DS meninggal karena soal uang Studi Tour yang dilakukan pihak sekolah SMP 6 Tasikmalaya.
Sang Ayah hanya bekerja,mungkin, dengan gaji pas-pasan. Sudah berupaya meminjam dari Bos di tempat kerja. Tapi yang dapat hanya Rp 100 Ribu. Kasus ini menjadi pelajaran bersama, terutama pihak sekolah. Jika melakukan suatu kegiatan hendaknya pihak sekolah melihat keadaan ekonomi para orang tua siswa/siswinya.
Tesis 2
Pihak sekolah SMP 6, dan kebanyakan sekolah negeri umumnya, sering tak merasakan kemampuan orang tua murid, untuk kegiatan sekolah yang tak penting.
Tesis 3
Pada kemana dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang dikucurkan pemerintah bertriliun itu?
Tesis 4
Hendaklah kejadian mengenaskan ini yang terakhir. Semua sekolah, apalagi sekolah berlabel negeri, hendaknya melakukan evaluasi secara komprehensif, atas kegiatan yang membebani anak didik.
Catatan redaksi:
Kasus ini terjadi di Tasikmalaya Kota, Jawa Barat.
Kejadian ini pada Kamis (23/1/2020).
Korban siswi SMP 6, Tasikmalaya. Kasus ini direka ulang oleh Polres Tasikmalaya Kamis (12/3/2020) dipimpin Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Anomo Karibianto.
