BatamNow.com – Malam berdarah terjadi di Pulau Rempang pada Selasa (17/12/2024) malam.
Peristiwa ini mengingatkan kembali peristiwa berdarah di Jembatan IV Trans Barelang pada September 2023, terkait perjuangan warga Melayu mempertahankan tanah adat mereka dari penggusuran oleh BP Batam.
Mayoritas warga yang masih bertahan di tanah sejarahnya sejak ancaman penggusuran setahun lalu itu, diserang puluhan orang tak dikenal pada dini hari tadi hingga sekujur tubuh mereka babak belur sampai terpaksa dirawat di rumah sakit.
Kini suasana di Pulau Rempang masih mencekam seperti peristiwa terdahulu.
Belum didapat keterangan penanganan konkret tindakan kriminal ini.
Sementara itu, sesuai rilis yang diterima BatamNow.com, sejumlah tokoh Melayu di Kepri mengecam aksi penyerangan terhadap warga Rempang, Kecamatan Galang, Kota Batam.
Mereka mengutuk keras perbuatan yang melukai warga Melayu itu, dengan luka-luka berdarah.
Para tokoh Melayu itu, mulai dari Yang Dipertuan Besar Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga, Sultan Hendra Syafri Riayat Syah;Ketua Umum Lembaga Adat (LAM) Melayu Kepri, Dato’ Seri Setia Utama H. Abdul Razak Ab;Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABMI) Wilayah Provinsi Kepri, Prof. Dato’ Perdana Dr. H. Abdul Malik, M.Pd., serta Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kepri Ridarman Bay, SE, MM.
Mereka pun mengeluarkan pernyataan sikap Masyarakat Melayu Kepulauan Riau sebagai berikut:
- Kami mengutuk keras aksi biadab yang dilakukan sekelompok orang di Pulau Rempang pada Rabu dini hari, 18 Desember 2024.
- Mendesak aparat penegak hukum menangkap pelaku kejahatan yang sudah menyiksa dan menganiaya delapan orang warga Rempang.
- Meminta aparat yang berwenang untuk menjaga warga Rempang.
- Mendesak pemerintah pusat untuk bersikap bijak dengan tidak membenturkan kepentingan investasi di kawasan yang telah ditetapkan sebagai PSN dengan warga melayu di Rempang yang selama ini hidup dalam kedamaian.
- Masyarakat Melayu di Kepulauan Riau, khususnya di Rempang tidak anti investasi, tetapi jangan mengganggu kehidupan dan peradaban yang sudah sudah lama dibangun dan dilestarikan. Oleh karena itu, kami menuntut agar pemerintah menggeser kawasan investasi ke kawasan lainnya yang tidak mengganggu kenyamanan warga setempat.
- Menghentikan praktik intimidasi dan kekerasan di Pulau Rempang, Batam.
- Mengajak seluruh masyarakat Melayu di Tanah Air untuk bersatu padu, bahu-membahu membantu warga Pulau Rempang.
Dalam rilis, mereka menyampaikan setidaknya 30-an korban luka-luka akibat penyerangan yang dilakukan oleh orang diduga petugas PT MEG terhadap warga Rempang di sejumlah posko penolakan proyek PSN Rempang Eco-City di Kampung Sembulang Hulu dan Kampung Sei Buluh, Kelurahan Sembulang, Kacamatan Galang.
Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar Selasa tengah malam menjelang Rabu dini hari, 18 Desember 2024.
Beberapa warga mengalami luka berat, seperti kepala retak dan luka terkena senjata tajam, wajah dan tubuh lebam akibat pukulan benda tumpul yang terindikasi dilakukan oleh karyawan PT MEG, meski kemudian pihak PT MEG membantah keterlibatan mereka dalam peristiwa itu. (*/A)

