BatamNow.com – Habis sudah kesabaran warga Cipta Asri tahap 3 RW 12, Tembesi yang terkesan disepelekan pihak developer (pengembang) Renggali.
Setelah sejumlah warga di perumahan tahap 3 itu mendatangi kantor pengembang di Jalan Raden Fatah, Lubuk Baja dan pengembang PT Cipta di Jalan Permata Puri depan Griya Prima Batu Aji, Kamis (26/11/2020), hari ini Sabtu (28/11/2020) aksi yang sama mereka lakukan.
Turun beramai-ramai secara kompak ke lokasi pembangunan proyek perumahan itu di kawasan Tembesi.
Tingkat kesabaran mereka “mentok” karena terkesan dipermainkan pengembang.
Mereka menganggap empati kemanusiaan pengembang sudah sangat tipis dalam menjalankan bisnisnya.
Apalagi setelah proyek pengembang yang diduga TIDAK menjankan prosedur Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), sehingga sampai “memakan” korban jiwa manusia.
Raffa (6) anak dari suami istri Novendri Adi dengan Evi Anggraini meninggal karena terseret arus banjir di kawasan proyek Renggali, Senin (23/11/2020).
Kondisi banjir di perumahan Cipta Asri tahap 3 itu terjadi beberapa kali. Sudah pernah diprotes warga di sana bersama Hasbullah, Ketua RW 12 di sana.
Namun pengembang ini tak hirau atas “penderitaan” warga.
Padahal penyebab banjir tak terkendali itu diduga akibat pengerjaan proyek secara umum yang kurang mengindahkan keselamatan orang.
Proyek dijamah tanpa memperhitungkan risiko bagi kemanusiaan.
Kini, mereka tak mau lagi ditimpa musibah yang sama, apalagi sampai kehilangan nyawa warganya.
Para warga di perumahan itu, kini, secara kompak dan bersama berjuang mendesak pengembang agar membereskan secara tuntas dan total masalah yang tak bisa disepelekan itu.
Dapat dibayangkan bagaimana resahnya warga di sana harus berjuang terus menerus karena ulah pengembang yang menyepelekan keprihatinan warga di sana.
Mereka, baik laki-laki maupun emak-emak, tua muda terpaksa harus meninggalkan aktivitas hidup dan rutinitas mereka sehari-hari, berjuang mempertahankan hak mereka yang seolah dikesampingkan pihak pengembang.
Pun mereka selama beberapa hari harus mengeluarkan biaya untuk bergerak ramai-ramai mengetuk hati nurani para pemodal tajir itu.
Apa lagi Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam yang “buta” mata dan hati tak memperdulikan nasib mereka hingga kini.
Mereka juga mempertanyakan keberadaan PENGAWASAN oleh Pemko dan BP Batam sebagai pemberi izin kepada pengembang.
Banyak warga mempertanyakan sikap diam pihak pengawas yang disinyalir tak pernah ada di lapangan.
Meski mereka sudah habis kesabaran, tapi mereka masih bertindak rasional dan proporsional.
Mereka tampaknya masih menghindari sikap yang emosional apalagi emosional yang berlebihan untuk sementara ini.
Tapi bagaimanapun, manusia tetaplah manusia dengan kodratnya yang juga satu saat bisa lepas kontrol bila logika tuntutan mereka yang rasional, berkepanjangan tak diindahkan pihak pengembang.(*)
Oleh Tim News Room BatamNow.com

