12 Tahun Gerry dan Warga Jaga Mangrove Bakau Serip, Berharap Pemko dan BP Batam Mendukung - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
BatamNow.com

12 Tahun Gerry dan Warga Jaga Mangrove Bakau Serip, Berharap Pemko dan BP Batam Mendukung

13/Sep/2026 08:40
12 Tahun Gerry dan Warga Jaga Mangrove Bakau Serip, Berharap Pemko dan BP Batam Mendukung

Gerry D Semet (45) mendedikasikan diri menjaga dan merawat Ekowisata Mangrove “Pandang Tak Jemu” di kawasan pesisir Kampung Tua Bakau Serip, Sambau, Nongsa, Kota Batam. (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Hampir 12 tahun lamanya Gerry D Semet (45) mendedikasikan dirinya untuk menjaga dan merawat kawasan pesisir Kampung Tua Bakau Serip, Sambau, Nongsa, Kota Batam.

Sebagai pengelola Ekowisata Mangrove “Pandang Tak Jemu” sekaligus penggiat mangrove, Gerry bersama masyarakat terus berupaya mempertahankan kawasan pesisir yang menjadi salah satu ruang terbuka hijau tersisa di tengah derasnya pembangunan Kota Batam.

Kawasan seluas sekitar 1-2 hektare tersebut kini menjadi bagian dari ekowisata yang bukan sekadar hamparan mangrove. Di kawasan itu terdapat habitat alami berbagai spesies burung dan biota laut.

Ekowisata Mangrove “Pandang Tak Jemu” di kawasan pesisir Kampung Tua Bakau Serip, Sambau, Nongsa, Kota Batam. (F: BatamNow)

Lebih dari itu, keberadaan kawasan tersebut juga memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat pesisir, baik dari sisi ekologis, sosial, budaya maupun ekonomi.

Bagi Gerry, menjaga mangrove bukan sekadar aktivitas konservasi. Kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat yang diwariskan secara turun-temurun.

Ia menyebut, apa yang dilakukannya hari ini merupakan kelanjutan dari upaya yang telah dilakukan nenek moyangnya dalam menjaga kawasan pesisir tersebut.

“Dari nenek moyang kami lalu turun kepada kami. Kami komitmen bahwasanya mangrove itu adalah pohon yang sangat penting di kampung kami dan kami berusaha menjaga dan melestarikannya agar ekosistem ini terjaga,” ujar Gerry kepada BatamNow.com yang diundang berkunjung ke kawasan tersebut, Sabtu (12/09/2026).

Dalam mengelola kawasan tersebut, Gerry tidak bekerja sendiri. Ia bersama dua kelompok masyarakat, yakni Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang beranggotakan 15 orang serta Kelompok Masyarakat Pengawas Lingkungan (Pokmaswas), ikut terlibat dalam upaya menjaga kawasan pesisir tersebut.

Aktivitas mereka mencakup penanaman, perawatan hingga menjaga keberlangsungan ekosistem yang terdapat di kawasan Bakau Serip.

Menjaga Tiga Ekosistem

Kawasan pesisir Bakau Serip memiliki kekayaan ekosistem yang menurut Gerry tidak mudah ditemukan dalam satu lokasi.

Selain mangrove, di kawasan tersebut juga terdapat padang lamun atau seagrass serta terumbu karang yang tumbuh berbarengan.

Ketiganya merupakan bagian dari ekosistem blue carbon yang memiliki peran penting dalam menyerap dan menyimpan karbon.

Seluruh ekosistem tersebut terdapat di ruang laut Bakau Serip.

“Di kawasan ini ada ekosistem yang luar biasa, yaitu tumbuhan padang lamun atau seagrass. Salah satu tumbuhan yang bisa menyerap karbon dan bisa juga menghasilkan karbon,” jelas Gerry.

Tidak berhenti pada padang lamun, kawasan tersebut juga memiliki ekosistem terumbu karang yang tumbuh berdampingan dengan mangrove.

Menurut Gerry, keberadaan tiga ekosistem tersebut dalam satu kawasan merupakan sesuatu yang patut dijaga.

“Di tempat lain belum tentu ada seperti ini. Kami komitmen sebagai masyarakat pesisir menjaga dan melestarikannya,” katanya.

Ekowisata Mangrove “Pandang Tak Jemu” di kawasan pesisir Kampung Tua Bakau Serip, Sambau, Nongsa, Kota Batam. (F: BatamNow)

Didukung Penanaman Mangrove

Belakangan, upaya pelestarian kawasan tersebut juga mendapat dukungan melalui kegiatan penanaman mangrove oleh TNI dari tiga matra, yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU).

Hampir 2.000 batang pohon mangrove ditanam dalam kegiatan tersebut.

Bagi Gerry, semakin banyak mangrove yang ditanam dan dirawat, semakin besar pula peluang ekosistem pesisir tersebut untuk tetap bertahan dan memberikan manfaat.

“Kita menanam mangrove itu harus sebanyak mungkin. Harapan kita adalah bagaimana ekosistem ini bisa tumbuh dan bisa memberi dampak kepada dunia, khususnya Kota Batam,” kata Gerry.

Kawasan Ekowisata Mangrove ini juga sering dijadikan objek penelitian oleh berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) telah beberapa kali melakukan penelitian di sana.

Berhadapan dengan Singapura dan Malaysia

Secara geografis, kawasan pesisir yang dikelola Gerry juga memiliki posisi yang strategis. Kawasan tersebut berhadapan langsung dengan dua negara tetangga Indonesia, yakni Singapura dan Malaysia.

Baca Juga:  Gerry Ungkap Tantangan Masyarakat Merawat Mangrove Bakau Serip, dari Sampah hingga Patok Misterius

Karena itu, bagi Gerry, menjaga ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang di kawasan tersebut bukan hanya menyangkut kepentingan masyarakat Kampung Bakau Serip.

Keberadaan tiga ekosistem itu juga menjadi bagian dari upaya masyarakat menjaga kekayaan alam Indonesia di kawasan perbatasan tiga negara.

“Mangrove yang di perbatasan tiga negara ini bisa terjaga dan lestari ekosistemnya. Tiga ekosistem yang tumbuh subur saat ini menjadi kebanggaan Indonesia dalam menjaga ekosistem yang kita lakukan saat ini,” kata Gerry.

Kampung Bakau Serip atau yang juga disebut Kampung Bahari merupakan salah satu kampung binaan TNI AL. Berbagai kegiatan dilakukan TNI AL di kawasan tersebut dalam rangka mendukung masyarakat dan menjaga kelestarian ekosistem pesisir.

Salah satunya melalui kegiatan penanaman mangrove.

Keterlibatan berbagai pihak, menurut Gerry, menjadi penting karena menjaga ekosistem pesisir tidak dapat dilakukan oleh masyarakat seorang diri.

Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, aparat dan berbagai kelompok lainnya dibutuhkan agar kawasan yang telah dijaga selama puluhan bahkan ratusan tahun tersebut tetap bertahan.

Berharap Dukungan Pemerintah

Setelah hampir 12 tahun terlibat langsung dalam kegiatan konservasi, Gerry berharap perhatian terhadap kawasan tersebut semakin besar.

Ia secara khusus berharap dukungan Pemerintah Kota (Pemko) Batam, Badan Pengusahaan (BP) Batam di bawah kepemimpinan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri), hingga pemerintah pusat.

Menurutnya, kawasan yang selama ini dijaga masyarakat tidak semestinya kehilangan fungsi ekologisnya akibat pesatnya perkembangan pembangunan.

“Agar mendukung kami dalam upaya menjaga dan melestarikan ekosistem yang sudah beratus tahun dijaga,” tuturnya.

Patok-patok terpasang di pesisir kawasan Ekowisata Mangrove “Pandang Tak Jemu” di Kampung Tua Bakau Serip, Sambau, Nongsa, Kota Batam. (F: BatamNow)

Gerry menegaskan, tiga ekosistem yang terdapat di kawasan tersebut merupakan kebanggaan bagi Kota Batam.

Masyarakat, kata dia, tidak sedang mengklaim kawasan tersebut sebagai milik pribadi. Mereka hanya berusaha merawat dan menjaga ekosistem yang memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Tiga ekosistem ini adalah kebanggaan Kota Batam. Kami hanya merawat dan menjaga yang berfungsi untuk kelestarian ekosistem di Kota Batam,” katanya.

Ia pun berharap lokasi yang selama ini telah dijaga bersama tidak dialokasikan atau dikaveling menjadi kawasan yang justru menghilangkan manfaat ekologisnya.

“Kami berharap agar lokasi yang sudah ada ini kita jaga bersama. Jangan sampai lokasi-lokasi yang sudah kita jaga dan lestarikan ini dialokasikan maupun dikavling menjadi kawasan yang tidak ada manfaatnya dalam hal kepada lingkungan,” ujarnya.

Bagi Gerry, keberadaan ekosistem pesisir bukan hanya persoalan hari ini. Mangrove, padang lamun dan terumbu karang merupakan bagian penting dari lingkungan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memberikan dukungan yang lebih kuat kepada masyarakat yang selama ini berada di garis depan menjaga kawasan tersebut.

“Mudah-mudahan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah bisa mendukung kami dengan perhatian yang lebih kuat lagi sehingga alam ini bisa kita jaga dan lestarikan untuk kita Batam,” harapnya.

Dari Kampung Tua Bakau Serip, Gerry bersama masyarakat terus mempertahankan apa yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya.

Di tengah pembangunan Batam yang terus bergerak, mereka memilih untuk tetap menjaga kawasan pesisir yang telah menjadi rumah bagi mangrove, padang lamun, terumbu karang, burung, biota laut, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Oleh karena itu, mari kita jaga pesisir, mangrove,” tutup Gerry. (A)

ADVERTISEMENT
Berita Sebelumnya

PWI Kepri Beri Anugerah Warta Marwah kepada Lima Tokoh

Berita Selanjutnya

Gerry Ungkap Tantangan Masyarakat Merawat Mangrove Bakau Serip, dari Sampah hingga Patok Misterius

Berita Selanjutnya
12 Tahun Gerry dan Warga Jaga Mangrove Bakau Serip, Berharap Pemko dan BP Batam Mendukung

Gerry Ungkap Tantangan Masyarakat Merawat Mangrove Bakau Serip, dari Sampah hingga Patok Misterius

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Central Tiban
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini

© 2021-2026 BatamNow.com