BatamNow.com – Menjaga ekosistem mangrove di kawasan pesisir Kampung Tua Bakau Serip, Sambau, Nongsa, Kota Batam, bukan perkara mudah.
Gerry D Semet (45), pengelola Ekowisata Mangrove “Pandang Tak Jemu” sekaligus penggiat mangrove, telah hampir 12 tahun bersama masyarakat menjaga kawasan pesisir tersebut.
Menurut Gerry, tantangan terbesar dalam konservasi mangrove bukanlah sekadar menanam pohon.
Menanam mangrove dinilai relatif mudah. Persoalan yang jauh lebih panjang adalah memastikan pohon yang sudah ditanam dapat bertahan hidup, tumbuh dan berkembang.
“Menanam mangrove sangatlah mudah, namun yang tersulit adalah bagaimana kita bisa menjaga dan merawat serta melestarikan pohon mangrove, sehingga mangrove tumbuh dan berkembang dan bisa bermanfaat untuk alam,” ujar Gerry kepada BatamNow.com yang diundang ke kawasan tersebut, Sabtu (12/09/2026).

Satu pohon yang ditanam membutuhkan proses perawatan secara intensif. Karena itu, kegiatan konservasi tidak berhenti ketika bibit mangrove selesai ditanam.
“Artinya penanaman satu pohon mangrove butuh proses dan perawatan yang sangat intens. Tidak hanya menanam, tapi menjaga agar pohon mangrove bisa lestari,” katanya.
Pertumbuhan mangrove juga membutuhkan waktu panjang. Dari proses penanaman hingga pohon tersebut dapat tumbuh menjulang tinggi, diperlukan waktu bertahun-tahun.
Gerry menyebut, dalam satu tahun pertumbuhan pohon mangrove di kawasan tersebut hanya sekitar 1 sentimeter.
Di kawasan itu bahkan terdapat pohon mangrove yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Keberadaan pohon-pohon tua tersebut menjadi salah satu gambaran panjangnya sejarah ekosistem pesisir Bakau Serip yang hingga kini masih dipertahankan.
Hadapi Masalah Sampah hingga Patok Misterius
Dalam menjalankan konservasi bersama masyarakat, Gerry mengaku menghadapi berbagai persoalan.
Masalah yang muncul bukan hanya sampah maupun limbah, tetapi juga persoalan lain yang menimbulkan keresahan masyarakat.
Persoalan tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan kawasan pesisir yang memiliki tiga ekosistem sekaligus, yakni mangrove, padang lamun atau seagrass, dan terumbu karang.
Ketiganya merupakan bagian dari ekosistem blue carbon yang memiliki peran penting dalam menyerap dan menyimpan karbon.
Gerry menilai keberadaan tiga ekosistem tersebut dalam satu kawasan tidak mudah ditemukan di tempat lain sehingga harus dijaga.
“Di tempat lain belum tentu ada seperti ini. Kami komitmen sebagai masyarakat pesisir menjaga dan melestarikannya,” katanya.
Selain persoalan sampah dan limbah, Gerry juga mengungkap keberadaan empat patok misterius tertancap di pesisir kawasan tersebut. Dulunya patok itu tampak berwana merah, namun kini telah memudar.
Patok tersebut memiliki tinggi sekitar tiga meter, masing-masing berjarak sekitar 20 meter, dan sebagian telah memasuki area konservasi mangrove.

Hingga kini, Gerry maupun masyarakat setempat mengaku tidak mengetahui siapa pemilik maupun pihak yang menancapkan patok tersebut.
Menurut Gerry, keberadaan patok misterius itu baru terlihat beberapa tahun terakhir.
Ia mengingat, sejak masyarakat mulai melakukan kegiatan di kawasan tersebut pada 2014, patok tersebut belum ada.
Kemudian pada 2020, masyarakat mendapatkan kegiatan penanaman mangrove dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Kementerian Kehutanan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Saat itu, kata Gerry, patok tersebut juga belum ditemukan. Namun, dalam waktu sekitar 2 hingga 3 tahun terakhir barulah ditemukan patok yang telah dipancang itu.
“Patok ini belum ada. Akan tetapi secara tiba-tiba sekitar 2-3 tahun yang lalu, barulah ada patok yang tertancap di sana. Dan kami tidak mengetahui ini patok siapa?” ungkapnya.
Keberadaan patok-patok tersebut kemudian menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Gerry dan masyarakat.
Mereka khawatir keberadaan tanda tersebut nantinya berkaitan dengan keberlanjutan kawasan mangrove yang selama bertahun-tahun telah dijaga dan dilestarikan.
Khawatir Ekosistem Hilang akibat Pembangunan
Kekhawatiran terhadap keberlanjutan kawasan mangrove juga tidak terlepas dari pesatnya perkembangan pembangunan di Kota Batam.
Gerry berharap kawasan yang selama ini dijaga masyarakat tidak kehilangan fungsi ekologisnya akibat perkembangan pembangunan.
Ia secara khusus berharap dukungan Pemerintah Kota (Pemko)) Batam, Badan Pengusahaan (BP) Batam di bawah kepemimpinan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri), hingga pemerintah pusat.
“Agar mendukung kami dalam upaya menjaga dan melestarikan ekosistem yang sudah beratus tahun dijaga,” tuturnya.

Gerry menegaskan, masyarakat tidak sedang mengklaim kawasan tersebut sebagai milik pribadi. Mereka hanya berusaha merawat dan menjaga ekosistem yang memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Tiga ekosistem ini adalah kebanggaan Kota Batam. Kami hanya merawat dan menjaga yang berfungsi untuk kelestarian ekosistem di Kota Batam,” katanya.
Gerry pun berharap lokasi yang selama ini telah dijaga bersama tidak dialokasikan atau dikaveling menjadi kawasan yang justru menghilangkan manfaat ekologisnya.
“Kami berharap agar lokasi yang sudah ada ini kita jaga bersama. Jangan sampai lokasi-lokasi yang sudah kita jaga dan lestarikan ini dialokasikan maupun dikaveling menjadi kawasan yang tidak ada manfaatnya dalam hal kepada lingkungan,” ujarnya.
Ancaman terhadap Blue Carbon Batam
Menurut Gerry, apabila ekosistem pesisir tidak dijaga dengan baik, Batam akan mengalami kerugian, terutama dalam menghadapi isu blue carbon yang semakin penting dalam upaya menjaga lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim.
“Tanpa adanya ekosistem yang terjaga dengan baik di Kota Batam, dalam hal isu blue carbon sangat merugikan bagi Kota Batam,” ucapnya.
Kawasan Bakau Serip sendiri memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan Singapura dan Malaysia.
Karena itu, menjaga mangrove, padang lamun dan terumbu karang di kawasan tersebut bukan hanya menyangkut kepentingan masyarakat Kampung Bakau Serip.
Keberadaan tiga ekosistem itu juga menjadi bagian dari upaya masyarakat menjaga kekayaan alam Indonesia di kawasan perbatasan tiga negara.
“Mangrove yang di perbatasan tiga negara ini bisa terjaga dan lestari ekosistemnya. Tiga ekosistem yang tumbuh subur saat ini menjadi kebanggaan Indonesia dalam menjaga ekosistem yang kita lakukan saat ini,” kata Gerry.

Butuh Dukungan dan Kolaborasi
Keterlibatan berbagai pihak, menurut Gerry, menjadi penting karena menjaga ekosistem pesisir tidak dapat dilakukan oleh masyarakat seorang diri.
Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, aparat dan berbagai kelompok lainnya dibutuhkan agar kawasan yang telah dijaga selama puluhan bahkan ratusan tahun tersebut tetap bertahan.
Gerry berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memberikan dukungan yang lebih kuat kepada masyarakat yang selama ini berada di garis depan menjaga kawasan tersebut.
“Mudah-mudahan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah bisa mendukung kami dengan perhatian yang lebih kuat lagi sehingga alam ini bisa kita jaga dan lestarikan untuk kita Batam,” harapnya.
Menurutnya, keberadaan mangrove, padang lamun dan terumbu karang merupakan bagian penting dari lingkungan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari Kampung Tua Bakau Serip, Gerry bersama masyarakat terus berupaya mempertahankan kawasan pesisir yang telah menjadi rumah bagi mangrove, padang lamun, terumbu karang, burung, biota laut, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Oleh karena itu, mari kita jaga pesisir, mangrove,” tutup Gerry. (A)

