BatamNow.com – Dalam dua hari ini ada dua pemimpin negara di dunia “lengser” yakni Perdana Menteri (PM) Malaysia Muhyiddin Yassin dan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.
Terbaru adalah kabar Muhyiddin yang mengajukan pengunduran diri kabinetnya ke Raja Malaysia, Sultan Abdullah Alam Ahmad Shah pada hari ini, Senin (16/08/2021).
Sebelum kabar pengunduran diri ini, seruan yang meminta Muhyiddin untuk mundur sudah berlangsung berminggu-minggu.
Kepemimpinannya terus digoyang oposisi, terutama setelah Muhyiddin terlibat selisih pendapat dengan Sultan Abdullah terkait pemberlakuan status darurat nasional Covid-19. Ia dianggap melanggar konstitusi karena melangkahi wewenang Sultan Abdullah.
Hingga kini, belum diketahui siapa PM Malaysia selanjutnya untuk menggantikan Muhyiddin yang telah menjabat selama 17 bulan.
Kemungkinan, keputusan itu akan diserahkan ke Sultan Abdullah sebagai kepala negara. Raja Malaysia memiliki kewenangan menunjuk anggota parlemen untuk menjadi perdana menteri yang menurutnya paling mungkin mendapat dukungan mayoritas suara di parlemen.
Presiden Afghanistan Kabur ke Tajikistan
Satu lagi pemimpin dunia yang “lengser” baru-baru ini adalah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang dikabarkan melarikan diri ke Tajikistan pada hari Minggu (15/08).
Ghani kabur ke Tajikistan setelah Taliban menduduki Ibu Kota Kabul. Ghani beralasan, dia ingin menghindari pertumpahan darah.
Juru Bicara Taliban, Mohammad Naeem mengatakan perihal kaburnya Presiden Ghani itu di luar ekspektasi mereka apalagi warga Afghanistan.
Warga Afghanistan merasa kecewa dan mengecam tindakan Ghani ini dan mereka sebut sebagai langkah yang tidak patriotik.
Menteri Pertahanan Afghanistan, Jenderal Bismillah Mohammadi juga mengungkapkan kekecewaannya kepada Ghani, bahkan menyebutnya sebagai orang kaya sialan.
“Mereka mengikat tangan kami di belakang punggung kami dan menjual tanah air, orang kaya sialan dan gengnya,” tulis Bismillah dikutip dari CNN.
Sementara seorang pejabat perdamaian Afghanistan, Abdullah Abdullah, mengatakan Ashraf Ghani sudah tidak menjabat sebagai presiden.
Abdullah menegaskan Ghani kini sudah menjadi mantan presiden. Ia juga menyalahkan Ghani atas memburuknya kondisi Afghanistan.
Senada, Ketua Dewan Tinggi untuk Rekonsiliasi Nasional Afghanistan, Abdullah Abdullah pun menyebut Ghani sudah bukan lagi Presiden Afghanistan.
“Fakta bahwa mantan Presiden Afghanistan meninggalkan negara itu dan menempatkan orang-orang dan negara dalam situasi yang buruk, Tuhan akan meminta pertanggungjawabannya dan orang-orang Afghanistan juga akan menghakiminya,” kata Abdullah.(*)

