BatamNow.com – Aliran Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) BP Batam masih mati total di sejumlah perumahan kawasan Marina, Sekupang, Kota Batam, hingga Selasa (13/10/2026) pagi.
Eksesnya, warga terpaksa mengambil air dari selokan dan genangan di pinggir jalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pantauan BatamNow.com di lapangan, sejumlah warga terlihat bergantian menampung air dari selokan di tepi Jalan Marina City. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan toilet, mencuci, dan bersih-bersih.
Seorang warga Perumahan Gesya mengaku terpaksa memanfaatkan air selokan karena aliran air perpipaan di rumahnya berhenti sejak pemadaman listrik (blackout) yang melanda Batam pada Senin (12/10/2026) sejak pukul 07.00 WIB.
“Ini airnya dipakai untuk mencuci saja. Untuk makan minum, beli air galon,” kata warga yang enggan namanya ditulis, saat ditemui BatamNow.com, Selasa pagi.
@batamnow Aliran Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) BP Batam masih mati total di sejumlah perumahan kawasan Marina, Sekupang, Kota Batam, hingga Selasa (13/10/2026) pagi. Eksesnya, warga terpaksa mengambil air dari selokan dan genangan di pinggir jalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pantauan BatamNow.com di lapangan, sejumlah warga terlihat bergantian menampung air dari selokan di tepi Jalan Marina City. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan toilet, mencuci, dan bersih-bersih. Seorang warga Perumahan Gesya mengaku terpaksa memanfaatkan air selokan karena aliran air perpipaan di rumahnya berhenti sejak pemadaman listrik (blackout) yang melanda Batam pada Senin (12/10/2026) sejak pukul 07.00 WIB. “Ini airnya dipakai untuk mencuci saja. Untuk makan minum, beli air galon,” kata warga yang enggan namanya ditulis, saat ditemui BatamNow.com, Selasa pagi. Untuk memenuhi kebutuhan air minum dan keperluan memasak, ia harus membeli air isi ulang seharga Rp 5.000 per galon. Dengan delapan anggota keluarga, kebutuhan air di rumahnya mencapai enam galon per hari. Ia pun harus bolak-balik mengisi dua galon yang dimilikinya agar kebutuhan air keluarganya terpenuhi. Menurutnya, hingga Selasa pagi belum ada truk tangki air dari PT Air Batam Hilir (ABHi) maupun BP Batam yang dikirimkan ke Perumahan Gesya. Ia menyebutkan, cukup banyak warga yang mengambil air dari selokan tersebut. Aktivitas itu paling ramai terjadi pada hari pertama aliran air perpipaan mati total, Senin kemarin. Ia juga mengatakan, gangguan pasokan air di perumahannya baru terjadi bersamaan dengan pemadaman listrik yang melanda Batam. Selain di Jalan Marina City, warga juga mengambil air dari genangan di tepi Jalan Kartini, sekitar 500 meter dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sei Temiang. Pantauan di lokasi, genangan air itu dibendung dari sumber mata air yang mengalir dari bagian atasnya. Seorang warga Perumahan Citra Multi Land mengaku baru mengetahui lokasi sumber air tersebut pada Selasa pagi, setelah mendapat informasi dari orang tua teman sekolah anaknya. “Baru hari ini ambil air di sini, saya tahu dari orangtua teman sekolah anak,” katanya saat mengisi galon dari kubangan tersebut. Untuk kebutuhan toilet dan mencuci, ia menampung enam galon berukuran 19 liter. Sementara kebutuhan memasak dan minum dipenuhi dengan membeli air galon kemasan. “Pakai Sanford harganya Rp 12 ribu per galon,” jelasnya. Ia juga mengaku belum menerima kiriman truk tangki air dari PT ABHi maupun BP Batam ke perumahannya. Pantauan di lokasi menunjukkan, sumber air di tepi Jalan Kartini itu juga didatangi warga dari Perumahan Rhabayu dan permukiman di sekitar Paradise. ABHi Sebut IPAM Kembali Beroperasi Sementara itu, PT Air Batam Hilir (ABHi) melalui akun Instagram resminya, @airbatamhilir, menyatakan sejumlah Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) yang terdampak pemadaman listrik telah kembali beroperasi sejak Senin (12/10/2026) malam. IPAM yang disebut telah beroperasi kembali meliputi Sei Ladi, Harapan, Duriangkang, Muka Kuning, Nongsa, Tembesi, dan Piayu. Meski demikian, ABHi menjelaskan bahwa distribusi air kepada pelanggan masih dalam tahap normalisasi secara bertahap. “Proses ini membutuhkan waktu agar pengisian jaringan perpipaan dan tekanan air dapat kembali stabil,” demikian keterangan ABHi melalui akun Instagram resminya. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamtiktok #fyp #batamhits ♬ suara asli – ALDIROS LADA FAMILY REAL – ALDINO LADA
Untuk memenuhi kebutuhan air minum dan keperluan memasak, ia harus membeli air isi ulang seharga Rp 5.000 per galon. Dengan delapan anggota keluarga, kebutuhan air di rumahnya mencapai enam galon per hari.
Ia pun harus bolak-balik mengisi dua galon yang dimilikinya agar kebutuhan air keluarganya terpenuhi.
Menurutnya, hingga Selasa pagi belum ada truk tangki air dari PT Air Batam Hilir (ABHi) maupun BP Batam yang dikirimkan ke Perumahan Gesya.
Ia menyebutkan, cukup banyak warga yang mengambil air dari selokan tersebut. Aktivitas itu paling ramai terjadi pada hari pertama aliran air perpipaan mati total, Senin kemarin.
Ia juga mengatakan, gangguan pasokan air di perumahannya baru terjadi bersamaan dengan pemadaman listrik yang melanda Batam.
Selain di Jalan Marina City, warga juga mengambil air dari genangan di tepi Jalan Kartini, sekitar 500 meter dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sei Temiang.
Pantauan di lokasi, genangan air itu dibendung dari sumber mata air yang mengalir dari bagian atasnya.

Seorang warga Perumahan Citra Multi Land mengaku baru mengetahui lokasi sumber air tersebut pada Selasa pagi, setelah mendapat informasi dari orang tua teman sekolah anaknya.
“Baru hari ini ambil air di sini, saya tahu dari orangtua teman sekolah anak,” katanya saat mengisi galon dari kubangan tersebut.
Untuk kebutuhan toilet dan mencuci, ia menampung enam galon berukuran 19 liter. Sementara kebutuhan memasak dan minum dipenuhi dengan membeli air galon kemasan.
“Pakai Sanford harganya Rp 12 ribu per galon,” jelasnya.
Ia juga mengaku belum menerima kiriman truk tangki air dari PT ABHi maupun BP Batam ke perumahannya.
Pantauan di lokasi menunjukkan, sumber air di tepi Jalan Kartini itu juga didatangi warga dari Perumahan Rhabayu dan permukiman di sekitar Paradise.
ABHi Sebut IPAM Kembali Beroperasi
Sementara itu, PT Air Batam Hilir (ABHi) melalui akun Instagram resminya, @airbatamhilir, menyatakan sejumlah Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) yang terdampak pemadaman listrik telah kembali beroperasi sejak Senin (12/10/2026) malam.
IPAM yang disebut telah beroperasi kembali meliputi Sei Ladi, Harapan, Duriangkang, Muka Kuning, Nongsa, Tembesi, dan Piayu.
Meski demikian, ABHi menjelaskan bahwa distribusi air kepada pelanggan masih dalam tahap normalisasi secara bertahap.
“Proses ini membutuhkan waktu agar pengisian jaringan perpipaan dan tekanan air dapat kembali stabil,” demikian keterangan ABHi melalui akun Instagram resminya. (D)

