BatamNow.com – Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri) menyatakan penyelidikan penyebab pemadaman listrik total (blackout) yang melanda Batam, Bintan, dan Tanjungpinang pada Senin (12/10/2026) masih berlangsung.
Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Dr Nona Pricillia Ohei mengatakan, tim Bareskrim Mabes Polri masih mendalami kasus tersebut.
“Masih proses, nanti kalau sudah ada hasil kesimpulan kami informasikan,” katanya saat dikonfirmasi, Minggu (18/10/2026).

Sebelumnya, Bareskrim Mabes Polri bersama Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri turun tangan untuk mengusut penyebab pemadaman listrik massal yang berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat dan dunia usaha di Batam, Bintan, dan Tanjungpinang.
Sementara itu, Direktur Utama PT PLN Batam Kwin Fo memaparkan kronologi gangguan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis internal perusahaan dalam konferensi pers pada Minggu (18/10/2026).
Gangguan Bermula di Gardu Induk Sei Harapan
Menurut Kwin Fo, gangguan bermula pada Senin (12/10/2026) pukul 06.28 WIB di Gardu Induk (GI) Sei Harapan.
Percikan api pada salah satu trafo disebut tidak berhasil diisolasi oleh circuit breaker (CB) atau pemutus tenaga.
Gangguan kemudian merambat melalui jaringan transmisi 150 kilovolt (kV) menuju GI Sagulung dan berdampak pada Pembangkit Tanjung Uncang berkapasitas 220 megawatt (MW). Sistem proteksi otomatis selanjutnya melepaskan pasokan daya dari pembangkit tersebut.
Kehilangan daya secara mendadak membuat pembangkit lainnya tidak mampu mempertahankan kestabilan sistem kelistrikan. Pada pukul 06.37 WIB, pembangkit-pembangkit tersebut terlepas satu per satu dari sistem utama hingga terjadi blackout total.
Pemulihan pasokan listrik berlangsung hingga Selasa (13/10/2026) pukul 01.00 WIB, ketika seluruh jaringan dilaporkan kembali normal.
PLN Sebut Peralatan Proteksi Berfungsi Normal
Direktur Operasi PLN Batam Dinda Alamsyah mengatakan, hasil pengujian teknis bersama Polda Kepri dan Bareskrim Mabes Polri menunjukkan peralatan proteksi kelistrikan dalam kondisi laik operasi.
Pengujian meliputi waktu kerja dan keserempakan CB 150 kV dan 20 kV, relay, serta sistem baterai dan catu daya arus searah (DC).
Menurut Dinda, seluruh peralatan berfungsi normal saat pengujian maupun selama proses pemulihan sistem.
PLN Batam juga membantah dugaan bahwa pemadaman dipicu lonjakan kebutuhan listrik dari fasilitas pusat data (data center).
Direktur Utama PLN Batam Kwin Fo menegaskan, isu tersebut tidak benar dan tidak berkaitan dengan insiden blackout.
PLN Evaluasi Pengamanan Gardu Induk
Sebagai langkah perbaikan, PLN Batam berencana memperkuat pengamanan area gardu induk. Salah satu upayanya adalah mengganti kawat pengaman dengan tembok bata permanen untuk mencegah satwa liar memasuki area vital.
Dalam pemeriksaan di lokasi gangguan, tim penyisiran lanjutan menemukan seekor satwa liar di bawah trafo dalam kondisi mengalami luka bakar parah.
Sementara itu, kawat pengaman bertegangan listrik yang berfungsi menghalangi satwa liar memasuki area vital dilaporkan tidak aktif saat kejadian.
Temuan tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan teknis yang disampaikan PLN Batam. Namun, kaitannya dengan penyebab utama pemadaman masih memerlukan pendalaman lebih lanjut.
Manajemen PLN Batam juga menyatakan akan menghitung kerugian material yang dialami pelanggan, masyarakat, dan pelaku usaha akibat pemadaman listrik tersebut. (A/Red)

