BatamNow.com – Akademisi Kota Batam sekaligus Analis Batam Labor and Public Policy (Balapi), Rikson Pandapotan Tampubolon, SE, M.Si., meminta Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra mengevaluasi tata kelola parkir tepi jalan umum (TJU).
Permintaan itu menyusul terpuruknya realisasi pendapatan retribusi parkir yang baru mencapai Rp13,26 miliar hingga Oktober 2026, atau sekitar 35,8 persen dari target awal Rp 37 miliar.

Ironisnya, dalam APBD Perubahan 2026, target tersebut justru dinaikkan menjadi Rp 40 miliar, padahal tahun anggaran hanya menyisakan November dan Desember.
“Penetapan target pendapatan daerah semestinya tidak hanya bertumpu pada asumsi optimistis. Perhitungannya harus didasarkan pada potensi yang terukur serta kemampuan pemungutan di lapangan. Jadi, jangan mengada-ada atau halu,” tegas Rikson.

Menurutnya, persoalan ini tidak cukup ditangani dengan instruksi kepada Dinas Perhubungan (Dishub) untuk mengejar target. Amsakar dan Li Claudia perlu mengevaluasi perencanaan pendapatan, sistem pemungutan, serta efektivitas pengawasan parkir di lapangan.
Rikson juga meminta Kepala Dishub Batam, Leo Putra, membuka dasar perhitungan kenaikan target tersebut. Terlebih, Dishub sebelumnya menyebut potensi penerimaan parkir TJU hanya sekitar Rp 21 miliar.
Menurutnya, pemerintah harus menjelaskan kesenjangan antara potensi, target, dan realisasi pendapatan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menegaskan, rendahnya realisasi tidak serta-merta membuktikan adanya kebocoran. Namun, kondisi tersebut menjadi alasan kuat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola perparkiran.
“Pemerintah harus memastikan setiap penerimaan parkir tercatat dan disetorkan ke kas daerah sesuai ketentuan. Masyarakat berhak mengetahui dasar penetapan target dan bagaimana penerimaan itu dikelola,” ujarnya.
Rikson menilai, evaluasi diperlukan agar target PAD Batam disusun secara realistis, sistem pemungutan berjalan efektif, dan pendapatan yang diterima daerah sesuai dengan potensi yang sebenarnya. (A)

