Perang Tombol di Konsesi Air - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
BatamNow.com

Perang Tombol di Konsesi Air

28/Jan/2020 09:28
Perang Tombol di Konsesi Air
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

Kemungkinan Sistem Distribusi Air Shut Down

DISTRIBUSI air shut down pasca konsesi air, kemungkinan itu, bisa terjadi. Ini yang perlu diwaspadai.

Asumsi itu, bila perundingan B2B antara BP Batam dengan PT ATB buntu jelang akhir konsesi. Konsesi berakhir November mendatang. Tinggal 10 bulan lagi.

Satu sumber terpercaya menggambarkan kemungkinan shut down itu. ’Tombol’ sistem informasi teknologi (IT) pihak ATB pemicunya.

”Ini kemungkinan terburuk. Sesuatu yang tak kita sadari sekarang dan tak ingin itu terjadi,” pinta sumber itu.

Tombol itu dianalogikan oleh sumber, pada akses password IT yang dimiliki pihak ATB sendiri.

Sumber itu pun mengilustrasikan seakan terjadi ”perang tombol”.

Andaikan Kepala BP Batam Muhammad Rudi kukuh ”memencet tombol” dari building di Batam Center, ”Pentagon”-nya BP Batam, begitu deadline konsesi tiba, tettt…, keberadaan ATB pun shut down atau berhenti.

Kemudian, bila ATB sudah di shut down, mereka pun memencet tombolnya, tettt…, sistem IT distribusi air akan mati. Bila sistem distribusi air ini mati total, dikuatirkan 290.524 sambungan pelanggan tak dapat pasokan air. Itu klaim sepihak dari sumber.

Rudi pun, tampaknya, tak kesah soal IT yang dimiliki ATB.
Kepala BP Batam yang baru menjabat empat bulan itu meyakini pihaknya juga punya tenaga ahli di bidang IT manajemen pengelolaan air.

Tanpa SCADA pun katanya, operasional pengelolaan air bisa dilakukan secara manual.

Sinyalemen perang tombol ini pun mengingatkan kita kepada keangkuhan Presiden AS yang dengan ”kekuatan tak terduga” -nya.

Trump menggambarkan di jemari tangannya ada tombol yang sekali pencet bisa meluncurkan 900 bom nuklir dalam hitungan 10 menit. Kalau itu terjadi dunia pun diasumsikan bisa gelap pekat.

Kembali ke akses IT pengelolaan air, sumber :batamnow: menengarai sistem IT sekualitas yang dimiliki ATB belum tentu dipunyai pengelola baru.

Andai dibangun mulai dari sekarang pun, kemungkinan sulit dioperasikan pasca konsesi. Kalau pun tersedia tenaga ahli IT-nya, tak gampang membangun sistemnya. ”Nah kalau ngotot saling pencet tombol, satu saat, sistem pengelolaan air bisa crowded,” kata sumber. ”Sulit diperhitungkan sampai berapa lama bisa dilakukan recovery”.

Soal kemungkinan yang diurai di atas, belum terkonfirmasi dengan Presiden Direktur (Presdir) ATB Benny Andrianto. Beberapa kali :batamnow: meminta bertemu, namun keberadaan Si ”Kopi Benny” di luar Batam.

Corporate Secretary ATB Maria Yakobus yang ditemui :batamnow: di kantornya, Senin (27/1) juga membenarkan “bos”-nya sedang di luar kota.”Tunggu saja pak Benny pulang,” saran Maria.

Kecuali hal-hal yang sudah ditulis media, tak ada hal baru yang bisa dijelaskan wanita yang selalu menebar senyum ini.

batam.now

Koran Digital
Seputar Kepri-Batam dalam Satu Klik
Paid promote/iklan (WA: +6285263747755)

Dugaan sambaran petir hingga hewan liar menjadi sa Dugaan sambaran petir hingga hewan liar menjadi salah satu kemungkinan penyebab pemadalam listrik massal (blackout) yang melumpuhkan aktivitas masyarakat dan dunia usaha di Batam selama 12–15 jam pada Senin (12/10/2026).

Saat ditanya mengenai dugaan petir dan hewan liar sebagai pemicu gangguan, Wali Kota Batam ex-officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad menyebut berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Namun, ia menyerahkan penjelasan teknis kepada tim investigasi PLN.

“Saya pikir semua hal menjadi mungkin. Semua hal menjadi mungkin. Dan karena itu, soal meng-clear informasi itu, biar tim yang kompeten yang menjawabnya. Kan ada tim investigasi. Biar itu yang menjawab,” ujar Amsakar.

Selain dugaan tersebut, Amsakar mengaku belum menerima informasi mengenai kabar adanya uji coba pusat data (data center) yang dikaitkan dengan peristiwa blackout di Batam.

“Saya tidak dapat informasi itu. Sampai dengan jam ini saya tidak dapat informasi,” katanya.

Menurut Amsakar, peristiwa blackout tersebut harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh, terutama untuk meningkatkan keandalan sistem kelistrikan dan mencegah gangguan serupa kembali berdampak luas terhadap masyarakat maupun dunia usaha.

Ia mengakui, pemadaman listrik tersebut menimbulkan persoalan serius bagi Batam yang aktivitas bisnis dan industrinya sangat bergantung pada pasokan listrik.

“Yang ingin saya sampaikan bahwa blackout ini tentu saja membuat suasana kita di Batam cukup kompleks karena aktivitas bisnis dan sebagainya memang berlangsung rata-rata menggunakan aliran industri,” ujarnya.

Namun, Amsakar menilai hal yang lebih penting setelah kejadian tersebut adalah memastikan langkah perbaikan dan antisipasi agar gangguan serupa tidak kembali melumpuhkan berbagai wilayah di Batam.

“Tetapi soal blackout ini adalah sesuatu yang di luar yang kita pikirkan. Karena itu yang sudah terjadi, yang paling penting bagi kita adalah menyikapi problem pascakejadian,” katanya.

Ia mengatakan, pembahasan mengenai penyebab pemadaman tetap penting. Meski demikian, perhatian juga perlu diarahkan pada upaya memperkuat keandalan pasokan listrik...

Baca di BatamNow.com

#batam #batamnow #batamhits #batamnews #bpb
Wali Kota (Wako) Batam ex-officio Kepala BP Batam, Wali Kota (Wako) Batam ex-officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, membantah tudingan bahwa dirinya bersama Wakil Wali Kota (Wawako) Batam ex-oficio Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, menghilang saat pemadaman listrik massal (blackout) melanda Batam selama belasan jam pada Senin (12/10/2026).

Amsakar menegaskan, dirinya terus memantau perkembangan pemulihan listrik dan berkoordinasi dengan jajaran PT PLN Batam sejak kejadian tersebut berlangsung.

Ia mengaku berkomunikasi dengan Direktur Utama PLN Batam Kwin Fo, manajer operasional, serta sekretaris perusahaan untuk mengetahui perkembangan penanganan gangguan listrik yang berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat.

“Tidak benar. Saya hanya ingin mengatakan begini, bahwa ketika sesuatu itu belum final, tidak mungkin bagi kita membuat statement yang kemudian membuat warga kita semakin resah. Saya ingin semuanya itu jelas, semuanya itu final,” kata Amsakar kepada wartawan, dalam wawancara cegat, Jumat (16/10).

Ia mengatakan, komunikasi dengan PLN Batam berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Pada hari kejadian, Amsakar mengaku terus memantau perkembangan penanganan gangguan listrik hingga sekitar pukul 22.30 atau 23.00 WIB.

"Saya hari itu terus memantau," ucapnya.

Menurut Amsakar, dirinya memilih tidak menyampaikan pernyataan kepada publik sebelum informasi mengenai gangguan listrik benar-benar jelas.

Ia menilai PLN Batam lebih berwenang menjelaskan penyebab blackout karena persoalan tersebut berkaitan dengan aspek teknis kelistrikan.

“Dari pagi terus koordinasi. Memang hari itu kondisi saya tidak fit. Ada paripurna hari itu. Karena terus terang, di rumah, listrik dan air kedua-duanya juga mati,” ujarnya.

Amsakar bahkan mengaku harus menggunakan dua galon air untuk mandi karena pasokan air di rumahnya ikut terganggu akibat pemadaman listrik.

Ia menjelaskan, sekitar pukul 17.00 WIB pada hari kejadian, penanganan gangguan listrik disebut telah mencapai 88 persen. Dalam komunikasi dengan PLN Batam, ia juga mendapat informasi bahwa keandalan pasokan listrik ditargetkan kembali normal sekitar tengah malam...

Baca di BatamNow.com

#batam #batamnow #bpbatam #batamhits #batamblackout
Air jaringan perpipaan Sistem Penyediaan Air Minum Air jaringan perpipaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) BP Batam yang selama ini dikeluhkan warga sejumlah perumahan di Kelurahan Tembesi, kembali mengalir untuk sementara ini setelah warga menggelar aksi unjuk rasa di kantor PT Air Batam Hilir (ABH) di kawasan Batu Aji, Kamis (15/10/2026).

Beberapa warga yang masuk wilayah Kecamatan Sagulung itu mengabarkan, pasokan air mulai kembali mengalir ke rumah mereka pada Rabu sore, beberapa jam setelah warga menyampaikan tuntutan terkait krisis air yang telah mereka alami selama sekitar dua bulan.

Pengakuan warga, hingga Jumat (15/10) hari ini, aliran air di sejumlah perumahan masih berlangsung. Kondisi ini disambut lega warga yang selama ini kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

"Sekarang sudah mengalir, nggak tahu besok-besok mudah mudahan normal seterusnya, " kata warga.

Salah seorang warga Perumahan Gesya Talenta mengatakan, air mulai mengalir kembali sekitar pukul 17.00 WIB pada hari mereka berdemonstrasi.

“Semalam jam 17.00 hidup sampai sekarang, alhamdulillah masih hidup,” ujarnya kepada BatamNow.com, Jumat (16/10/2026).

Ia menjelaskan, pada awalnya aliran air belum langsung merata ke seluruh rumah warga. Air mulai mengalir sekitar pukul 17.00 WIB, tetapi baru sekitar pukul 20.00 WIB distribusinya merata ke seluruh kawasan perumahan.

Kabar serupa disampaikan Faber Siregar, warga Perumahan Griya Laguna. Ia memastikan air di kawasan tempat tinggalnya telah kembali mengalir dan masih bisa diakses hingga Jumat.

“Air sudah mengalir di perumahan ini, sampai sekarang air tetap mengalir,” ujar Faber.

Padahal janji PT Air Batam Hilir lewat audiensi dengan warga Tembesi kemarin, adalah air diupayakan mengalir tiha jam sehari dan kekurangan suplai akan didistribusikan menggunakan truk tangki air (water tank).

Namun, kembali mengalirnya air setelah aksi unjuk rasa juga memunculkan pertanyaan: apakah warga harus berdemo terlebih dahulu agar persoalan air bersih yang mereka alami mendapat perhatian?

Sebab, kondisi krisis air bukan hanya dialami warga di Tembesi saja. Setidaknya hal serupa masih disuarakan dalam unjuk rasa...

Baca di BatamNow.com

#batam #batamnow #bpbatam #batamnews #spambpbatam
Emak-emak perwakilan warga Perumahan Azure Gardeni Emak-emak perwakilan warga Perumahan Azure Gardenia, Kota Batam, meminta Wakil Wali Kota Batam ex-officio Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, turun tangan mencari solusi atas krisis air minum jaringan perpipaan yang alirannya tak merata sudah bertahun-tahun.

Hal itu disampaikan warga usai bertemu perwakilan PT Air Batam Hilir (ABH) di Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) di Batu Aji.

"Tolong bu, air kami diratakan," pinta warga ketika ditemui di KPP Batu Aji, Jumat (16/10/2026).

Hingga kini, aliran dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) BP Batam di perumahan tersebut hanya menjangkau sebagian blok, sementara warga di blok lainnya harus berjuang mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Arma, salah seorang warga Azure Gardenia, mengatakan krisis air dialami warga yang tinggal di bagian belakang perumahan, yakni Blok K, L, M, dan N, telah berlangsung selama bertahun-tahun. Kondisinya bahkan semakin parah dalam sebulan terakhir, mati total.

Disebutkan, air perpipaan hanya mengalir sekitar satu jam pada dini hari, mulai pukul 03.00 hingga 04.00, terkadang sampai pukul 05.00 WIB. Warga pun terpaksa begadang demi menampung air untuk keperluan rumah tangga.

“Saya pribadi selama beli rumah di sana, dari awal itu saya nggak pernah yang namanya dapat air 24 jamm,” kata Arma.

Ia menjelaskan, warga di blok depan masih bisa menikmati aliran air yang lancar, sedangkan warga di blok belakang justru kerap mengalami mati air total.

Kondisi itu membuat warga merasa diperlakukan tidak adil (fair). Sebab, mereka sama-sama membeli unit rumah rumah dan membayar tagihan air.

“Itu membuat kami nggak fair. Kami sama-sama bayar, kenapa di bagian depan itu dia hidup lancar. Kenapa kami bagian belakang dapat sengsaranya saja?” ujarnya.

Arma mengatakan, pun ketika air kembali mengalir, kualitasnya terkadang keruh.

Hal itu semakin menyulitkan warga yang membutuhkan air untuk memasak, mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan anak-anak mereka.

"Kami sampai begadang untuk menunggu air. Kadang kami yang punya anak kecil ini payah kalau kayak gitu terus," keluhnya.

Bantuan Tangki Belum Menjadi Solusi

Baca di BatamNow.com

#batam #bpbatam #batamnow
PT Air Batam Hilir (ABHi) berjanji mengupayakan al PT Air Batam Hilir (ABHi) berjanji mengupayakan aliran air minum jaringan perpipaan minimal tiga jam penuh sehari bagi warga di sejumlah perumahan yang krisis air di Tembesi, Batam.

Janji tersebut disampaikan setelah warga menggelar demonstrasi akibat krisis air yang telah berlangsung selama dua bulan.

Warga dari enam kawasan permukiman mendatangi Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) PT ABHi di Batu Aji, Kamis (15/10/2026) pagi. Mereka mendesak agar persoalan air perpipaan yang mereka alami segera ditangani.

Peserta demonstrasi berasal dari enam kawasan permukiman, yakni Perumahan Green Laguna, Gesya Tembesi, Krystal, Griya Laguna Mas, Kampung Tua Gundap, dan kawasan PT Ayam.

Setelah berunjuk rasa, perwakilan warga diajak mengikuti audiensi dengan pihak terkait di dalam kantor. Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan untuk menangani krisis air, mulai dari solusi jangka pendek hingga jangka panjang.

Hasil rapat itu dituangkan dalam satu notulen yang kemudian dibacakan perwakilan warga kepada warga Tembesi lainnya yang menunggu dinluar kantor ABHi.

Untuk penanganan jangka pendek, PT ABHi akan mengupayakan aliran air minum minimal tiga jam penuh sehari. Namun, waktu pengaliran tersebut belum dipastikan.

"Tiga jam full ya, tidak kecil. Tapi tidak ditentukan waktunya jam berapa," jelas perwakilan warga.

Apabila kebutuhan air warga belum tercukupi melalui jaringan perpipaan, pasokan akan dibantu menggunakan truk tangki air (water tank).

Sementara itu, untuk solusi jangka menengah, akan dilakukan interkoneksi pipa berdiameter 600 milimeter (mm) ke pipa 300 mm pada jalur Tanjung Gundap.

Pekerjaan tersebut saat ini masih dalam proses pengiriman material dan pengeboran jalan.

Adapun solusi jangka panjang yang disepakati adalah pengalihan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Tembesi, dengan target penyelesaian pada Desember 2026.

Kesepakatan penanganan krisis air tersebut dituangkan dalam notulen rapat yang ditandatangani Camat Sagulung Arfie Eranov, Kapolsek Sagulung Iptu Husnul Afkar, Manajer Pelayanan PT ABHi Ismadi Alim, serta Puji yang juga merupakan perwakilan PT ABHi.

Baca di BatamNow.com

#batam #batamnow #bpbatam #batamhits #batamnews
Warga beberapa perumahan di Tembesi meminta agar W Warga beberapa perumahan di Tembesi meminta agar Wali Kota Batam ex-officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, dan wakilnya Li Claudia Chandra memperhatikan kondisi krisis air minum jaringan perpipaan yang sudah dua bulan mereka alami.

Pernyataan itu disampaikan warga, saat mereka berkumpul di Perumahan Gesya Talenta untuk berangkat melakukan unjuk rasa di Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) PT Air Batam Hilir (ABHi) di Batu Aji, Kamis (15/10/2026) pagi.

"Kenapa perumahan kami Green Laguna, Winner, Gesya, kenapa nggak hidup. Apa masalahnya. Sekarang dari pemerintah ini, Pak Amsakar sekarang tidak ada datang melihat kami. Janjinya Ibu Li Claudia itu hidup air, mana dia nggak datang,” kata seorang emak-emak.

Menurut warga, air perpipaan macet selama dua bulan ini dan mati total dalam dua minggu belakangan.

Memang, aku warga, ada distribusi truk tangki air untuk mereka. Namun kuantitasnya tidak mencukupi kebutuhan pelanggan di sana.

"Tidak akan cukup. Bahkan kami warga tetangga bisa jadi maki-makian cuma gara-gara tangki air.

Warga juga mengaku heran atas kondisi krisis air yang dialami, saat beberapa perumahan lainnya yang berdekatan menikmati aliran air perpipaan.

"Bahkan pertanyaan kami, mengapa Aviari sama Boulevard hidup? Sebelah kiri-kanan," tanya warga.

Mereka pun menaruh curiga apakah air mengalir ke perumahn tersebut karena terdapat Kantor Kelurahan hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau biasa disebut mereka dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Apa mungkin pak, Boulevard ada MBG, Aviari ada kantor lurah, ada MBG. Apa karena itu punya pemerintah makanya mereka disalurkan air," timpal warga lainnya.

Karena tak mendapat solusi konkret dalam pertemuan dengan Camat Sagulung, Arfie Eranov, akhirnya warga lanjut berunjuk rasa di KPP PT ABHi di Batu Aji.

Dijanjikan Air Mengalir 3 Jam Penuh Sehari

Setelah beberapa waktu berunjuk rasa, perwakilan warga diundang untuk audiensi di dalam kantor. Pertemuan itu menghasilkan beberapa kesepakatan.

Untuk solusi jangka panjang, akan dilakukan pekerjaan...

Baca di BatamNow.com

@amsakarachmad @li.claudia.chandra 

#batam #batamnow #bpbatam #batamhits #spambpbatam
Krisis air bersih yang melanda sejumlah permukiman Krisis air bersih yang melanda sejumlah permukiman di Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, Batam, selama dua bulan terakhir memicu kekecewaan warga.

Tak hanya mengeluhkan pasokan air jaringan perpipaan yang tak kunjung normal, warga juga mengaku merasa diancam oleh Camat Sagulung, Arfie Eranov, saat hendak menyampaikan aspirasi ke kantor PT Air Batam Hilir (ABHi).

Kamis (15/10/2026) pagi, ratusan warga dari enam kawasan permukiman berencana mendatangi Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) ABHi di Batu Aji. Namun, keberangkatan mereka sempat tertahan setelah Arfie meminta warga menunda aksi tersebut.

Salah seorang warga Perumahan Gesya Talenta, Anita, mengatakan warga tidak puas dengan solusi yang ditawarkan camat untuk mengatasi gangguan pasokan air yang telah berlangsung selama dua bulan.

Menurut Anita, warga yang berkumpul di Perumahan Gesya Talenta sejak pukul 08.30 WIB sempat ditawari bantuan dua truk tangki air. Namun, ia menilai tawaran itu disertai ancaman bahwa bantuan akan dialihkan jika warga tidak menerimanya.

“Gangguan air kami selama dua bulan. Tadi kami mau aksi, di Perumahan Gesya diancam, 'kalau kalian mau dua tangki kami kasih, tapi kalau enggak kami alihkan'. Solusi macam apa seperti itu? Itu yang bilang Pak Camat,” ujar Anita saat ditemui di kantor ABHi.

Anita menilai bantuan dua truk tangki belum menjawab persoalan utama warga, yakni gangguan distribusi air perpipaan yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Ketidakpuasan tersebut membuat warga tetap melanjutkan rencana mendatangi kantor ABHi untuk meminta kejelasan sekaligus mendesak penyelesaian masalah pasokan air.

Ratusan warga akhirnya tiba di kantor pelayanan ABHi di tepi Jalan Letjend Suprapto, Batu Aji sekitar pukul 10.20 WIB.

Mereka berasal dari enam kawasan permukiman, yakni Perumahan Green Laguna, Gesya Tembesi, Krystal, Griya Laguna Mas, Kampung Tua Gundap, dan kawasan PT Ayam.

Warga mengeluhkan gangguan pasokan air yang berdampak pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Mereka berharap pihak ABHi memberikan penjelasan mengenai penyebab gangguan sekaligus kepastian kapan distribusi air kembali normal...

Baca di BatamNow.com

#batam #bpbatam #batamnow #batamhits #spambpbatam
Gelombang demonstrasi krisis air di Batam masih be Gelombang demonstrasi krisis air di Batam masih berlanjut. Hari ini, Kamis (15/10/2026), giliran warga Tembesi yang berunjuk rasa.

Amatan BatamNow.com di Perumahan Gesya Talenta, Tembesi, sekitar seratus warga kukuh akan menggeruduk Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) PT Air Batam Hilir (ABHi), di tepi Jalan Letjend Suprapto, Kecamatan Batu Aji.

"Sudah dua bulan mati di Gesya. Tapi seperti di rumah kami dua minggu total tak menetes satu tetes pun. Sementara di perumahan yang ada pemerintahan lancar 24 jam,"
ujar seorang warga, Kamis (15/10) pagi.

"Kenapa perumahan kami Green Laguna, Winner, Gesya, kenapa nggak hidup. Apa masalahnya. Pak Amsakar tidak ada datang melihat perumahan kami. Janjinya Ibu Li Claudia itu hidup air, mana dia nggak datang," kata warga lainnya.

Sementara kiriman truk tangki air, ujar warga, tidak mencukupi kebutuhan mereka.

Pantauan BatamNow.com, rombongan warga Tembesi tiba di kantor ABHi sekira pukul 10.30 WIB.

Sehari sebelumnya, Rabu (14/10), unjuk rasa serupa juga dilakukan warga Teluk Mata Ikan di depan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa. Pelanggan SPAM BP Batam itu menduga krisis air yang dialami belakangan ini tak lepas dari adanya proyek beberapa pusat data (data center) di kecamatan tersebut.

Sementara pada Senin (05/10), adalah warga Kavling Sambau dan Bakau Serip yang berdemonstrasi di depan KEK Nongsa. Tuntutannya juga sama, agar air minum jaringan perpipaan mengalir.

Catatan BatamNow.com, unjuk rasa memprotes krisis air bukan peristiwa satu-dua kali, sebab masalah layanan air minum masih belum dapat dituntaskan hingga kini.

Baca di BatamNow.com

#batam #batamnow #batamhits #bpbatam #spambatam
Ikuti

SCADA di ”Pentagon” ATB

SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition), inilah sistem infirmasi teknologi “operating system” milik ATB. Sistem dengan berbasis teknologi 4.0.

Sistem canggih ini merupakan sistem kendali berbasis komputer untuk pengontrolan proses pengolahan air, distribusi dan pemantauan kebocoran dan sebagainya. SCADA itu sendiri terpusat di salah satu “building” di kawasan Sukajadi, Batam. ”Pentagon”-nya ATB. Di sana, di tangan seseorang, password tombol itu berada.

Untuk itulah sumber :batamnow: memberi saran agar jelang akhir konsesi air itu, ada niat baik di kedua belah pihak. Niat untuk membicarakan hal-hal penting,mencari solusi terbaik atas hak dan kewajiban yang belum terselesaikan. ”Berkali-kali pihak ATB menyatakan legowo mengakhiri kontrak, tapi kan masih banyak soal hak dan kewajiban masing-masing yang akan diselesaikan bersama, jelang akhir konsesi,” tambahnya.

Dan momen inilah yang ditunggu-tunggu pihak ATB, karena intensitas pertemuan akhir-akhir ini terasa jarang, apalagi jelang deadline konsesi. Menjawab :batamnow:, sumber itu membantah kalau kelebihan teknologi yang dimiliki pihak ATB bermaksud pamer dan seolah mengancam. ”Oh tidak, sangat jauh itu,” ujarnya.

Ditanya kemungkinan tuduhan sabotase, bila tombol itu sampai dipencet, lalu kondisi distribusi air berhenti total, sumber itupun membantahnya.

”Kan sistem itu shut down, ketika ATB tak lagi mengelola air di Batam. Jadi itu konteksnya,” katanya.

Inilah, menurut dia, kelebihan pihak ATB selama 25 tahun membangun dan membenahi dengan berjerih payah, sistem pengelolaan air yang lebih profesional. Sehingga terlepas dari kekurangannya, kualitas pelayanan air, selama ini, berjalan dengan baik.

Dan ini pula yang diragukan sekaligus dikhawatirkan sumber itu, bila pengelolaan air ini berpindah tangan. Apakah BUMN, BUMD, Pemko atau ke BP Batam, sudah siap dengan sistem yang sama atau mungkin lebih canggih? ”Sistem IT yang di tangan ATB, tak gampang membangunnya. Butuh waktu dan biaya.’”

Sekali lagi, ujarnya, gambaran kemungkinan shut down itu, terjadi bila tak ada kata sepakat sampai akhir konsesi. Kiasannya, ATB pergi begitu saja, karena pemilik rumah taunya hanya ngotot pada klausul perjanjian kontrak. Sementara master key rumah itu, ditekan mati oleh ATB.

Apa tanggapan pihak BP Batam tentang kemungkinan-kemungkinan ini?

Sementara Kepala BP Batam Muhammad Rudi, kukuh, pengelolan air pasca konsesi dilaksanakan BP Batam sendiri.(*)

ADVERTISEMENT
Berita Sebelumnya

SCADA Sistem Canggih Milik ATB

Berita Selanjutnya

Dipertanyakan Kultur Kerja BP Batam di Zona 99

Berita Selanjutnya
Ex-Officio Momentum Menyelesaikan Masalah Kronis di  BP Batam

Dipertanyakan Kultur Kerja BP Batam di Zona 99

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Central Tiban
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini

© 2021-2026 BatamNow.com