Kemungkinan Sistem Distribusi Air Shut Down
DISTRIBUSI air shut down pasca konsesi air, kemungkinan itu, bisa terjadi. Ini yang perlu diwaspadai.
Asumsi itu, bila perundingan B2B antara BP Batam dengan PT ATB buntu jelang akhir konsesi. Konsesi berakhir November mendatang. Tinggal 10 bulan lagi.
Satu sumber terpercaya menggambarkan kemungkinan shut down itu. ’Tombol’ sistem informasi teknologi (IT) pihak ATB pemicunya.
”Ini kemungkinan terburuk. Sesuatu yang tak kita sadari sekarang dan tak ingin itu terjadi,” pinta sumber itu.
Tombol itu dianalogikan oleh sumber, pada akses password IT yang dimiliki pihak ATB sendiri.
Sumber itu pun mengilustrasikan seakan terjadi ”perang tombol”.
Andaikan Kepala BP Batam Muhammad Rudi kukuh ”memencet tombol” dari building di Batam Center, ”Pentagon”-nya BP Batam, begitu deadline konsesi tiba, tettt…, keberadaan ATB pun shut down atau berhenti.
Kemudian, bila ATB sudah di shut down, mereka pun memencet tombolnya, tettt…, sistem IT distribusi air akan mati. Bila sistem distribusi air ini mati total, dikuatirkan 290.524 sambungan pelanggan tak dapat pasokan air. Itu klaim sepihak dari sumber.
Rudi pun, tampaknya, tak kesah soal IT yang dimiliki ATB.
Kepala BP Batam yang baru menjabat empat bulan itu meyakini pihaknya juga punya tenaga ahli di bidang IT manajemen pengelolaan air.
Tanpa SCADA pun katanya, operasional pengelolaan air bisa dilakukan secara manual.
Sinyalemen perang tombol ini pun mengingatkan kita kepada keangkuhan Presiden AS yang dengan ”kekuatan tak terduga” -nya.
Trump menggambarkan di jemari tangannya ada tombol yang sekali pencet bisa meluncurkan 900 bom nuklir dalam hitungan 10 menit. Kalau itu terjadi dunia pun diasumsikan bisa gelap pekat.
Kembali ke akses IT pengelolaan air, sumber :batamnow: menengarai sistem IT sekualitas yang dimiliki ATB belum tentu dipunyai pengelola baru.
Andai dibangun mulai dari sekarang pun, kemungkinan sulit dioperasikan pasca konsesi. Kalau pun tersedia tenaga ahli IT-nya, tak gampang membangun sistemnya. ”Nah kalau ngotot saling pencet tombol, satu saat, sistem pengelolaan air bisa crowded,” kata sumber. ”Sulit diperhitungkan sampai berapa lama bisa dilakukan recovery”.
Soal kemungkinan yang diurai di atas, belum terkonfirmasi dengan Presiden Direktur (Presdir) ATB Benny Andrianto. Beberapa kali :batamnow: meminta bertemu, namun keberadaan Si ”Kopi Benny” di luar Batam.
Corporate Secretary ATB Maria Yakobus yang ditemui :batamnow: di kantornya, Senin (27/1) juga membenarkan “bos”-nya sedang di luar kota.”Tunggu saja pak Benny pulang,” saran Maria.
Kecuali hal-hal yang sudah ditulis media, tak ada hal baru yang bisa dijelaskan wanita yang selalu menebar senyum ini.
SCADA di ”Pentagon” ATB
SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition), inilah sistem infirmasi teknologi “operating system” milik ATB. Sistem dengan berbasis teknologi 4.0.
Sistem canggih ini merupakan sistem kendali berbasis komputer untuk pengontrolan proses pengolahan air, distribusi dan pemantauan kebocoran dan sebagainya. SCADA itu sendiri terpusat di salah satu “building” di kawasan Sukajadi, Batam. ”Pentagon”-nya ATB. Di sana, di tangan seseorang, password tombol itu berada.
Untuk itulah sumber :batamnow: memberi saran agar jelang akhir konsesi air itu, ada niat baik di kedua belah pihak. Niat untuk membicarakan hal-hal penting,mencari solusi terbaik atas hak dan kewajiban yang belum terselesaikan. ”Berkali-kali pihak ATB menyatakan legowo mengakhiri kontrak, tapi kan masih banyak soal hak dan kewajiban masing-masing yang akan diselesaikan bersama, jelang akhir konsesi,” tambahnya.
Dan momen inilah yang ditunggu-tunggu pihak ATB, karena intensitas pertemuan akhir-akhir ini terasa jarang, apalagi jelang deadline konsesi. Menjawab :batamnow:, sumber itu membantah kalau kelebihan teknologi yang dimiliki pihak ATB bermaksud pamer dan seolah mengancam. ”Oh tidak, sangat jauh itu,” ujarnya.
Ditanya kemungkinan tuduhan sabotase, bila tombol itu sampai dipencet, lalu kondisi distribusi air berhenti total, sumber itupun membantahnya.
”Kan sistem itu shut down, ketika ATB tak lagi mengelola air di Batam. Jadi itu konteksnya,” katanya.
Inilah, menurut dia, kelebihan pihak ATB selama 25 tahun membangun dan membenahi dengan berjerih payah, sistem pengelolaan air yang lebih profesional. Sehingga terlepas dari kekurangannya, kualitas pelayanan air, selama ini, berjalan dengan baik.
Dan ini pula yang diragukan sekaligus dikhawatirkan sumber itu, bila pengelolaan air ini berpindah tangan. Apakah BUMN, BUMD, Pemko atau ke BP Batam, sudah siap dengan sistem yang sama atau mungkin lebih canggih? ”Sistem IT yang di tangan ATB, tak gampang membangunnya. Butuh waktu dan biaya.’”
Sekali lagi, ujarnya, gambaran kemungkinan shut down itu, terjadi bila tak ada kata sepakat sampai akhir konsesi. Kiasannya, ATB pergi begitu saja, karena pemilik rumah taunya hanya ngotot pada klausul perjanjian kontrak. Sementara master key rumah itu, ditekan mati oleh ATB.
Apa tanggapan pihak BP Batam tentang kemungkinan-kemungkinan ini?
Sementara Kepala BP Batam Muhammad Rudi, kukuh, pengelolan air pasca konsesi dilaksanakan BP Batam sendiri.(*)

