BatamNow.com – Lubang-lubang di jalanan Batam kini ibarat jebakan yang menanti kelengahan di tengah pengendara dalam keramaian lalu lalang pengendara.
Tak hanya menjangkiti jalan lingkungan, kondisi mulai memprihatinkan ini merambah hingga ke jalan-jalan arteri—lajur-lajur utama yang dibangun megah, lima jalur dua arah, namun tak lagi ramah.
Hasil pantauan BatamNow.com menunjukkan bahwa hampir di setiap sudut kota, lubang-lubang di jalan merongga menjadi pemandangan yang seolah lumrah.
Jalanan terkikis, tergerus, hingga aspal mengelupas. (Baca berita sebelumnya di BatamNow.com)
Belum ada penjelasan resmi dari Dinas Bina Marga, Pemerintah Kota Batam, maupun BP Batam mengenai penyebab kerusakan ini.
Apakah karena musim hujan yang terus mengguyur, atau sistem drainase yang tak memadai untuk menampung derasnya air?

Wali Kota Batam, Dr. Amsakar Achmad, belum lama ini menyentil soal lemahnya sistem drainase, terutama di tengah banjir yang menggenangi sejumlah titik di Batam. Dengan nada tenang namun bermakna, ia berujar, “Saya tidak ingin menyalahkan masa lalu”.
Kalimat itu terdengar seperti potongan puisi, lirih tapi sarat pesan.
Mungkin sebuah sindiran halus yang mungkin tertuju pada masa kepemimpinan sebelumnya, —era di mana pembangunan jalan besar-besaran dilakukan, namun diduga minim perencanaan drainase.
Tak bisa diabaikan, latar belakang Amsakar sebagai seniman memberi warna tersendiri pada narasi dan cara ia menyampaikan kritik.
Bagaimanapun, banjir dan jalan rusak bukan masalah baru—melainkan warisan yang belum terurai tuntas. Kondisi ini nyata dirasakan warga.

Mahidin, warga Bengkong, mengeluh, “Di mana-mana sekarang jalan berlubang, khususnya di lingkungan kami. Drainasenya juga parah.”
Pun Ruslan, warga lainnya di Nagoya, menyampaikan sindiran lebih tajam. “Titik jalan berlubang di Batam makin banyak, seolah berlomba dengan banyaknya ‘lubang berjalan’,” sindirnya mengistilahkan.
Istilah dengan tanda kutip itu sudah tak asing lagi di Batam dan banyak yang membicarakan.
Nagoya, tempat Ruslan tinggal, adalah kawasan yang tak pernah benar-benar tidur. Di balik gemerlap lampu malam dan deretan tempat hiburan komersial, ada ketimpangan yang menganga—tak hanya pada infrastruktur jalan, tapi juga dalam wajah kota yang bertabur wanita penghibur dan pemandu lagu yang menemani malam-malam yang larut yang diistilahkannya tadi.

Warga Batam yang taat membayar pajak kendaraan berharap jalan yang layak sebagai timbal balik.
Namun kenyataan berkata lain: roda kendaraan berderak, suspensi berteriak, dan “lubang berjalan” seolah menjadi ranjau tersembunyi, terutama saat malam menjelang di berbagai tempat hiburan kota ini yang banyak melanggar ketentuan dan peraturan. (Red)

