Catatan Redaktur: Hamansyah Rangkuty SH
BatamNow.com – Sejumlah rilis resmi BP Batam kini menjadi sorotan publik, menyusul munculnya fakta yang membantah beberapa klaim keberhasilan pengerjaan proyek dan kerja sama yang selama ini dikemukakan.
Bahkan, sejumlah pejabat terseret ke ranah hukum di pusaran proyek.
Revitalisasi Pelabuhan Batu Ampar Disorot
Pada Maret 2023, BP Batam menyatakan proyek revitalisasi Pelabuhan Batu Ampar berjalan sesuai aturan, apalagi dikawal Kejati Kepri.
Namun, pada 19 Maret 2025, Polda Kepri menggeledah kantor BP Batam terkait dugaan korupsi dalam proyek revitalisasi/ pendalaman kolam dermaga di pelabuhan itu.
Beberapa pejabat BP Batam sempat diperiksa, termasuk pejabat berinisial FAP.
Eks Kepala BP Batam Muhammad Rudi juga dimintai keterangan pada 10 April 2025.

Kisruh SoCPF Pelabuhan Internasional Batam Center
Pergantian pengelola Pelabuhan Feri Internasional Batam Center ke PT Metro Nusantara Bahari (MNB) pada Agustus 2024 menuai polemik.
BP Batam dalam rilisnya menyebut MNB sudah mengantongi SoCPF dari Kemenhub. Namun, PT Synergy Tharada (ST), operator lama, memduga keras bahwa MNB menggunakan data mereka.
Dalam RDPU DPR RI, pihak PT ST menunjukkan bahwa SoCPF tertanggal 15 Agustus 2024 masih atas nama mereka, memunculkan dugaan maladministrasi.

Polemik Pengelolaan RSBP Batam
Pada Februari 2025, BP Batam yang diwakili Ariastuty Sirait mengumumkan bahwa rumah sakit BP Batam (RSBP) sudah dikerjasamakan pengelolanya dengan Mayapada Healthcare dan Apollo Hospitals.
Namun, informasi yang diperoleh BatamNow.com menunjukkan kerja sama belum difinalisasi, dan rencana penandatanganan Januari 2025 tak terwujud.
Isu penunjukan langsung tanpa tender mencuat, meski BP Batam berdalih mengacu pada PMK No. 171 Tahun 2023.
Pihak BP Batam menyebut RSBP dikerjasamakan dengan Mayapada demi meningkatkan kualitas layanan RSBP yang lebih standar
Tak lama kemudian, 17 April 2025, Kepala BP Batam yang baru, Amsakar Achmad menyatakan RSBP akan dikelola mandiri.
Mayapada urung menancapkan benderanya di pengelolaan RSBP.
Dan hal yang mencengangkan banyak publik adalah pada 15 Mei, kala Ariastuty menyebut layanan RSBP sudah memadai dan akan dilengkapi alat medis baru.

Pengembangan Terminal 2 Hang Nadim
Pembangunan Terminal 2 (T2) Bandara Internasional Hang Nadim diresmikan dengan peletakan batu pertamanya pada Mei 2024.
Sebagaimana juga rilis Biro Humas BP Batam, pengembangan T2 ini dirancang untuk menampung target 9,6 juta penumpang domestik dan internasional per tahun.
Namun hingga menjelang pertengahan 2025, belum menunjukkan tanda-tanda signifikan keberlanjutan pembangunan. Tak ada alat berat atau konstruksi terlihat di lapangan.
Proyek IPAL: Janji yang Berulang
BP Batam dalam rilisnya juga telah beberapa kali menjanjikan penyelesaian proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).
Janji ini sudah beberapa kali molor lewat addendum, sejak proyek dengan dana bersumber pinjaman dari Korea Selatan ini dimulai tahun 2017.
Proyek IPAL diklaim menjadi solusi krisis air baku dan mendukung kelestarian lingkungan, tapi penyelesaiannya masih diragukan.
Baru-baru ini, proyek IPAL ditargetkan selesai pada akhir Juli 2025, dan tengan menyelesaikan 11.000 sambungan rumah.
Namun banyak yang meragukan proyek ini selesai akhir Juli 2025. Bahkan sejumlah pihak meyakini, janji masih akan terulang, kalau tak diusut aparat penegak hukum (APH).

Transparansi yang Dipertanyakan
Rangkaian polemik ini menimbulkan keraguan publik terhadap akurasi informasi BP Batam.
Ketua DPP Kepri LI-Tipikor, Panahatan SH, menyatakan bahwa ketidaksesuaian antara rilis resmi dan fakta lapangan menunjukkan lemahnya transparansi dan akuntabilitas.
BatamNow.com telah mengirim konfirmasi dua kali kepada Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait dan Sazani dari Humas BP Batam, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada tanggapan. (A)

