BatamNow.com – Aktivitas pengangkutan peti kemas di perairan Batam menunjukkan geliat perdagangan internasional yang terus meningkat. Namun, potensi besar tersebut belum sepenuhnya menjelma menjadi kekuatan ekonomi maritim.
Di tengah upaya menjadikan Batam sebagai pelabuhan bertaraf global, persoalan klasik kembali mengemuka: ketidakpastian hukum di laut yang membuat kapal-kapal dunia berpikir ulang untuk berlabuh.
Batam sesungguhnya memiliki modal yang tidak terbantahkan — posisi strategis di jalur perdagangan internasional Selat Malaka, infrastruktur pelabuhan yang terus berkembang, dan kawasan industri yang terhubung langsung ke laut.
Namun di balik itu, terlalu banyak lembaga yang merasa berwenang naik ke kapal, sehingga menciptakan ketidakpastian yang dikeluhkan para pemilik kapal.
Dalam kunjungan ke Pelabuhan Peti Kemas Batu Ampar, Jumat (21/11/2025), Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS) menegaskan bahwa kewenangan otoritas keselamatan laut hanya berada di satu institusi.
“Yang memimpin sektor keselamatan ada di Kementerian Perhubungan Laut melalui KSOP. Tidak boleh ada pihak lain ikut campur. Itu jelas diatur UU Nomor 17 Tahun 2008,” katanya.
@batamnow BatamNow.com – Kapal kontainer Meratus Ampana berbendera Indonesia bertabrakan dengan Ship-to-Shore (STS) Crane 05 ZPMC milik BP Batam di kolam Dermaga Utara Pelabuhan Kontainer Batu Ampar, Batam, Rabu (19/11/2025). Akibat insiden tersebut, buritan kapal Meratus Ampana mengalami kerusakan cukup serius. Kapal dengan bobot 17.000 DWT dan ukuran LOA/Beam 179/27 meter itu mampu mengangkut sekitar 1.000–1.400 TEUs. Meratus Ampana merupakan kapal milik Pelayaran Meratus dan saat kejadian baru tiba dari Pelabuhan Kargo Belawan, Sumatera Utara. Direktur Pengelolaan Pelabuhan BP Batam, Benny Syahroni, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, meminta agar pertanyaan disampaikan melalui Humas BP Batam “Maaf, bisa saya jawab lewat Humas BP ya,” kata Benny kepada BatamNow.com, Kamis (20/11/2025). Dalam video yang diterima BatamNow.com, terlihat bagian buritan kiri kapal menyenggol STS Crane 05 ZPMC, crane baru yang sebelumnya merupakan aset PT Persero Batam dan kini dimiliki BP Batam. Ketika kapal bergerak mundur, buritan kapal tampak mengenai crane tersebut hingga menimbulkan lubang dan robekan pada bagian atas buritan. Setelah tabrakan terjadi, sejumlah petugas pelabuhan terlihat berlarian sambil berteriak “Awas! Awas, woi!”, disertai bunyi sirene dari crane nomor 05. Mengutip data dari VesselFinder.com, Meratus Ampana bernomor IMO 9262950, MMSI 525125033, dan dibangun pada tahun 2002, yang berarti kapal telah berumur 23 tahun. Profesionalisme Pandu–Tunda BP Batam Jadi Sorotan Pasca-insiden tersebut, sejumlah pihak menyoroti kualitas layanan pandu dan tunda yang hingga kini masih dikelola langsung oleh BP Batam. Layanan pandu–tunda merupakan layanan vital yang mengarahkan gerakan kapal saat masuk ke kolam pelabuhan, merapat ke dermaga, atau bergerak di area terbatas. Pandu bertugas memberi instruksi manuver kapal. Tunda bertugas membantu mendorong atau menarik kapal agar bergerak aman. Dalam struktur saat ini, kegiatan pandu dan tunda masih berada di bawah Badan Usaha Pelabuhan (BUP) BP Batam, sehingga sejumlah kalangan mempertanyakan profesionalisme dan urgensi penyerahan layanan tersebut kepada pihak yang lebih ahli. Baca beritanya di BatamNow.com #batam #batamnow #batamnews #fyp #bpbatam ♬ News, news, seriousness, tension(1077866) – Lyrebirds music
Bambang meminta KSOP Batam tidak ragu menegakkan aturan ketika lembaga lain berusaha melakukan pemeriksaan tanpa dasar hukum.
“Kalau ada instansi yang masuk, KSOP jangan diam. Pengusaha pasti tidak berani melawan. Tapi Kemenhub harus berani,” tambahnya.
Bambang juga menyoroti tingginya tanggung jawab sektor transportasi di bawah Kemenhub. Ia mencontohkan transportasi KRL yang mengangkut 1,2 juta penumpang setiap hari, jumlah yang setara dengan populasi Indonesia dalam setahun, dan tetap mencatat zero accident.
Hal serupa terjadi pada transportasi laut. Sebanyak 1 miliar ton logistik diselamatkan setiap tahun tanpa kecelakaan besar, yang jika dinilai setara harga beras Rp 10 ribu per kilogram, mencapai Rp 10.000 triliun.
Ironisnya, apresiasi terhadap insan Kemenhub dinilai justru tidak sebanding. “Gaji eselon II di Kemenkeu Rp 150 juta. Kepala KSOP baru Rp 29 juta. Padahal Kemenhub menyelamatkan nyawa rakyat dan uang rakyat di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Persaingan Kapasitas Pelabuhan Kian Ketat
Di luar masalah kewenangan, Bambang menegaskan pentingnya percepatan pengembangan Pelabuhan Peti Kemas Batam oleh BP Batam. Ia membandingkan kemampuan Batam dengan pelabuhan regional.
Negara tetangga regional memiliki kapasitas 65 juta kontainer per tahun. Tanjung Pelepas, Malaysia 13 juta, Singapura 46 juta, sedangkan Batam saat ini hanya sekitar 900 ribu kontainer per tahun.
Menurutnya, Batam harus meningkatkan kedalaman kolam pelabuhan, mempercepat kapasitas crane, dan memperbaiki pelayanan agar dapat menarik kapal-kapal generasi terbaru.
Bambang juga mengaitkan hal ini dengan rencana pemerintah pusat dalam mengaktifkan rel Trans Sumatera. Pelabuhan besar harus bergerak seiring dengan pengembangan jalur distribusi darat agar Indonesia tidak hanya mengikuti peta logistik dunia, tapi ikut mengatur arah perdagangan global.
Dengan keterbatasan lahan di Singapura untuk perluasan industri, Bambang melihat Batam sebagai alternatif ideal bagi negara industri seperti Jepang, Korea, dan negara-negara Eropa.
“Barang bisa sampai lebih cepat dan biaya lebih efisien jika mereka bangun industri di Batam. Itu keunggulan yang tidak dimiliki Singapura,” jelasnya.
Bambang menggambarkan skenario di mana kawasan industri besar terhubung langsung dengan pelabuhan Batam. Menurutnya, jika hal itu terwujud, Batam berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi besar di Asia.
Bambang memastikan bahwa temuan dan rekomendasinya selama turun lapangan di Batam akan dibawa ke pembahasan tingkat pusat.
“Semua yang dibutuhkan Batam sebenarnya sudah ada. Lokasi, luas, dan potensi. Tinggal mengembangkan pelabuhannya dan memastikan kepastian hukum terjaga,” ujarnya.
Ia menegaskan, bila kedua faktor itu terpenuhi, Batam tidak hanya menjadi pelabuhan besar, tapi gerbang laut Indonesia menuju pentas perdagangan dunia. (A)

