BatamNow.com – Peringatan Presiden Prabowo Subianto mengenai ancaman krisis global di sektor pangan, energi, dan air dinilai relevan dengan kondisi riil yang tengah dihadapi Kota Batam.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat kerja pemerintah di Istana Kepresidenan pada 8 April 2026 di hadapan ratusan pejabat negara.
Presiden menegaskan bahwa ketiga sektor tersebut merupakan faktor strategis penentu ketahanan bangsa, sejalan dengan agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Sustainable Development Goals (SDGs).
Bagi Batam, peringatan ini bukan sekadar wacana global, melainkan refleksi atas persoalan nyata yang telah lama dikeluhkan masyarakat terkait ketersediaan air minum perpipaan.
Ketergantungan yang Rapuh
Batam menghadapi tekanan serius terhadap ketersediaan air baku dan distribusi air minum.
Kebutuhan air diperkirakan mencapai 400.000–430.000 meter kubik (m³) per hari, dan kini semakin kritis.
Ketersediaan air baku masih bergantung pada tujuh waduk tadah hujan, yakni Duriangkang, Tembesi, Muka Kuning, Sei Ladi, Rempang, Sei Harapan, dan Nongsa.
Ketergantungan ini membuat sistem sangat rentan terhadap perubahan cuaca.
Debit air di sejumlah waduk dilaporkan menyusut bahkan hingga sekitar 2,5 meter, menandakan ancaman krisis yang semakin nyata.

Krisis Tata Kelola
Permasalahan air di Batam tidak semata disebabkan faktor alam, persoalan tata kelola satu hal yang tak dapat dinafikan.
Kerusakan daerah tangkapan air, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta lemahnya pengawasan kawasan lindung memperparah kondisi.
Dampaknya terjadi distribusi air yang belum berkeadilan membuat puluhan ribu pelanggan SPAM masih kesulitan mengakses air minum layak secara konsisten.
Keterbatasan diversifikasi sumber air juga dinilai menjadi kelemahan struktural.
Respons dan Rencana Teknologi Air
Namun di tengah tekanan krisis, Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mendorong diversifikasi pengembangan teknologi air sebagai solusi jangka panjang, termasuk penguatan instalasi dan proyek Dam Sungai Ladi untuk meningkatkan distribusi ke sejumlah wilayah.
Namun, pendekatan ini dinilai belum menyentuh akar persoalan karena tetap bergantung pada faktor alam, serta belum diiringi pembenahan SDM yang kompeten dan sistem pengawasan yang memadai.
Alarm yang Tak Boleh Diabaikan
Peringatan Presiden Prabowo dinilai sebagai alarm keras bagi BP Batam.
Tanpa langkah strategis yang terukur dan komprehensif, krisis air di Batam berpotensi menjadi kegagalan sistemik yang sedang berlangsung.
Di tengah pertumbuhan investasi dan jumlah penduduk yang terus meningkat, pembenahan tata kelola, penguatan teknologi, serta kesiapan SDM menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan pasokan air di Batam ke depan. (Redaksi)

