BatamNow.com – Pelaku penyelundupan narkotika jenis sabu-sabu nyaris lolos dari Bandara Internasional Hang Nadim, Kota Batam, Rabu (15/05/2025).
Di hari itu ada 2 kurir yang diamankan.Yang mengejutkan, dalam kasus kedua, pelaku berinisial M nyaris lolos karena telah berhasil masuk ke dalam pesawat yang akan terbang ke Yogyakarta dengan tujuan akhir Lombok.
Dalam koper M, ditemukan empat bungkus sabu dengan berat mencapai 958 gram yang disembunyikan di sela pakaian dalam dan celana.
Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) Kepulauan Riau (Kepri), Syamsul Paloh, menyampaikan keprihatinan atas celah pengawasan yang nyaris dimanfaatkan sempurna oleh pelaku.
“Kalau pelaku sudah lolos dari X-ray dan baru ditangkap setelah masuk ke ruang tunggu bahkan pesawat, tentu ini jadi pertanyaan. Mesin X-ray seharusnya mampu mendeteksi benda mencurigakan, apalagi ini sabu,” tegasnya saat diwawancarai BatamNow.com di Batam, Jumat (23/05/2025).
Meski demikian, GRANAT tetap memberikan apresiasi kepada aparat Bea & Cukai serta petugas bandara yang pada akhirnya bisa menggagalkan aksi pelaku tersebut.
Namun Syamsul menekankan pentingnya penindakan yang profesional dan tidak “main-main” dalam perkara serius seperti narkotika.
“Jaringan narkoba ini jelas bertujuan merusak generasi bangsa. Batam bisa jadi diduga menjadi ‘transit strategis’ sebelum barang diedarkan ke wilayah lain di Indonesia,” tambahnya.
Menurutnya, posisi Batam yang berada di kawasan Pulau Sumatera terutama bagian utara, membuatnya rentan menjadi titik persinggahan jaringan narkotika internasional.
Ia menyebut sindikat besar seperti Golden Triangle, Golden Crescent, dan Golden Peacock sebagai ancaman nyata yang harus diwaspadai.
Golden Triangle merujuk pada wilayah penghasil narkotika di pegunungan Myanmar, Laos, dan Thailand. Sementara Golden Crescent mencakup jaringan dari Afghanistan, Iran, dan Pakistan.
“Golden Peacock sendiri merupakan jaringan narkotika dari kawasan Amerika Latin yang telah lama dikenal sebagai eksportir besar narkoba dunia,” ucapnya.
Dengan ancaman lintas negara seperti itu, Syamsul menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dalam memperkuat pengawasan dan mempersempit ruang gerak sindikat narkoba.
Baru-baru ini TNI AL menangkap kapal ikan berbendera Thailand yang kedapatan membawa sekitar 2,06 ton sabu-sabu, di perairan Tanjung Balai Karimun, Kepri.
Menyusul, tim gabungan (BNN, Bea Cukai, dan TNI AL) menangkap lagi kapal diduga membawa sabu-sabu di perairan Tanjung Balai Karimun. Informasinya barang bukti berjumlah besar, namun belum ada publikasi soal jumlah pastinya. (A)

