BatamNow.com – Kepala Biro Umum Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhamad Taofan, menjelaskan kondisi cuaca yang kurang bersahabat penyebab terjadinya insiden kapal kontainer Meratus Ampana yang menabrak Ship-to-Shore (STS) Crane 05 ZPMC milik BP Batam di Dermaga Utara Pelabuhan Kontainer Batu Ampar.
Hal itu, menurut Taofan, berdasarkan laporan awal dari lapangan, di mana arus kuat dan angin yang cukup kencang pada saat kegiatan manuver kapal hendak bertolak.
Pada gilirannya, dijelaskan Taofan, kapal tunda tidak mampu menahan dan menarik bagian buritan kapal secara optimal, sehingga kapal terbawa arus dan terjadi kontak dengan STS 05.
Atas insiden tersebut kapal dengan bobot 17.000 DWT dan ukuran LOA/Beam 179/27 meter itu menabrak STS Crane yang berdiri di dermaga segingga buritan kapal Meratus Ampana mengalami kerusakan di lambung buritan kapal.
Dijelaskan Taofan, seluruh prosedur pandu dan tunda telah dilaksanakan, di mana saat kapal hendak keluar dari dermaga menggunakan 2 (dua) unit kapal tunda.
Namun, tambahnya, faktor alam yang berada di luar kendali operasional menjadi faktor utama penyebab terjadinya insiden kapal kargo yang mampu mengangkut sekitar 1.000–1.400 TEUs itu.
Direktorat Pengelolaan Kepelabuhanan saat ini, jelas Taofan, sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk evaluasi kondisi cuaca pada saat kejadian.
Pun rekaman komunikasi kapal, serta laporan pandu dan nakhoda kapal, guna memastikan seluruh fakta terdokumentasi dengan baik.
Sementara informasi yang diterima BatamNow.com, kapal kontainer Meratus Ampana awalnya dijadwalkan berangkat sekira pukul 08.00 WIB, tapi lepas tali pukul 10.00 WIB dengan tujuan Pelabuhan Belawan, Provinsi Sumatera Utara.
Belum ada penjelasan apa yang membuat kapal tersebut mengalami keterlambatan hingga terjadi insiden itu.
@batamnow BatamNow.com – Kapal kontainer Meratus Ampana berbendera Indonesia bertabrakan dengan Ship-to-Shore (STS) Crane 05 ZPMC milik BP Batam di kolam Dermaga Utara Pelabuhan Kontainer Batu Ampar, Batam, Rabu (19/11/2025). Akibat insiden tersebut, buritan kapal Meratus Ampana mengalami kerusakan cukup serius. Kapal dengan bobot 17.000 DWT dan ukuran LOA/Beam 179/27 meter itu mampu mengangkut sekitar 1.000–1.400 TEUs. Meratus Ampana merupakan kapal milik Pelayaran Meratus dan saat kejadian baru tiba dari Pelabuhan Kargo Belawan, Sumatera Utara. Direktur Pengelolaan Pelabuhan BP Batam, Benny Syahroni, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, meminta agar pertanyaan disampaikan melalui Humas BP Batam “Maaf, bisa saya jawab lewat Humas BP ya,” kata Benny kepada BatamNow.com, Kamis (20/11/2025). Dalam video yang diterima BatamNow.com, terlihat bagian buritan kiri kapal menyenggol STS Crane 05 ZPMC, crane baru yang sebelumnya merupakan aset PT Persero Batam dan kini dimiliki BP Batam. Ketika kapal bergerak mundur, buritan kapal tampak mengenai crane tersebut hingga menimbulkan lubang dan robekan pada bagian atas buritan. Setelah tabrakan terjadi, sejumlah petugas pelabuhan terlihat berlarian sambil berteriak “Awas! Awas, woi!”, disertai bunyi sirene dari crane nomor 05. Mengutip data dari VesselFinder.com, Meratus Ampana bernomor IMO 9262950, MMSI 525125033, dan dibangun pada tahun 2002, yang berarti kapal telah berumur 23 tahun. Profesionalisme Pandu–Tunda BP Batam Jadi Sorotan Pasca-insiden tersebut, sejumlah pihak menyoroti kualitas layanan pandu dan tunda yang hingga kini masih dikelola langsung oleh BP Batam. Layanan pandu–tunda merupakan layanan vital yang mengarahkan gerakan kapal saat masuk ke kolam pelabuhan, merapat ke dermaga, atau bergerak di area terbatas. Pandu bertugas memberi instruksi manuver kapal. Tunda bertugas membantu mendorong atau menarik kapal agar bergerak aman. Dalam struktur saat ini, kegiatan pandu dan tunda masih berada di bawah Badan Usaha Pelabuhan (BUP) BP Batam, sehingga sejumlah kalangan mempertanyakan profesionalisme dan urgensi penyerahan layanan tersebut kepada pihak yang lebih ahli. Baca beritanya di BatamNow.com #batam #batamnow #batamnews #fyp #bpbatam ♬ News, news, seriousness, tension(1077866) – Lyrebirds music
BMKG: Tak Ada Hujan dan Angin Ekstrem Jam Insiden Itu
Lalu, menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Batam, Ramlan Djambak, pada hari peristiwa Kamis (20/11/2025) hujan dan cuaca ekstrem terjadi di Batu Ampar sekira pukul 05.00 WIB hingga pukul 07.00, jauh sebelum kejadian.
“Hujan ektsrem di Batu Ampar tercatat pada pukul 05-07 yaitu 35,8 mm,” jawab Ramlan kepada BatamNow.com melalui pesan di WhatsApp.
Dalam rilis BMKG juga disebutkan pada hari yang sama, pada pukul 07.50 WIB berpotensi terjadi Hujan Sedang-Lebat yang dapat disertai Kilat/Petir dan Angin Kencang pada pukul 08.00, namun lagi-lagi Batu Ampar tidak termasuk.
“Di Kota Batam sendiri, Nongsa, Sei Beduk, Batam Kota, Sagulung, dan sekitarnya,” begitu kutipan rilis yang dikirimkan BMKG di WAG.
Benarkah Kapal Tunda dan Pandu Tidak Sesuai Prosedur?
Menurut informasi yang di dapat BatamNow.com, agen kapal tersebut adalah PT Persero Batam.
Lalu PT Persero Batam menunjuk PT Global Triputra Utama (GTU) sebagai agen kapal tersebut.
Kemudian, ketika kapal Meratus Ampana akan berangkat dari Pelabuhan Batu Ampar, PT GTU menunjuk PT Snepac dengan tugboat pemandu kapal bertenaga 2.400 horsepower yang disebut, seharusnya dengan 3.000 horsepower.
BatamNow.com telah mengirimkan konfirmasi melalui pesan di WhatsApp ke perwakilan PT Snepac, Gunawan dan perwakilan PT GTU, Hendri. Namun keduanya belum merespons.
Sementara Kasubbag Hukum dan Hubungan Masyarakat Kantor Kesyahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam, Syahrul, mengatakan belum mengetahui peristiwa tersebut.
“Saat ini kami belum dapat informasi kejadian tersebut, saya coba cari info dari petugas operasional dan kasie teknis terkait dulu ya,” kata Syahrul kepada BatamNow.com melalui pesan di WhatsApp. (A)

