Di bawah langit kelabu Batu Ampar, sebuah kapal tua—Meratus Ampana, 23 tahun usianya—meninggalkan pelabuhan dengan luka menganga di buritannya.
Luka sepanjang hampir tiga meter itu bukan hanya sobeknya baja, melainkan sobekan pada wibawa pengelolaan Pelabuhan Peti Kemas BP Batam, tempat yang selama ini dibanggakan BP Batam sebagai terminal modern dengan lima unit Ship-to-Shore (STS) Crane menjulang.

Ironisnya, pada Kamis pagi (19/11/2025), crane nomor STS 05 ZPMC, yang berdiri pasif menunggu giliran bekerja, justru menjadi korban tabrakan kapal berbobot 17.000 DWT dengan ukuran 179/27 meter, yang mampu mengangkut 1.000–1.400 TEUs itu.
Alih-alih menjadi saksi kecanggihan pelabuhan modern, crane itu berdiri kaku seperti menanggung malu yang tak dipikulnya sendiri.
Meratus Ampana yang datang dari Tanjung Periok, Jakarta, hendak mengejar jadwal menuju Pelabuhan Belawan, dikawal hanya dua tugboat pandu–tunda yang disebut dengan tenaga 3.000 horsepower di bawah kendali otoritas pelabuhan BP Batam.
Namun pagi itu, tugboat yang seharusnya berkapasitas 6.000 horsepower menjadi tangan-tangan halus pengarah langkah kapal raksasa, tampak gamang menjalankan misinya.
Kapal yang seharusnya berangkat pukul 08.00 WIB, justru baru bergerak dua jam kemudian—dan berakhir dengan kecelakaan.

BP Batam, sebagai otoritas yang kuasanya seolah absolut di laut dan darat Batu Ampar, menjelaskan bahwa kejadian itu dipicu oleh angin kencang, cuaca yang tak terkendali.
Seolah-olah alam sedang murka, dan manusia tak berdaya menahannya.
Namun publik bertanya-tanya: Benarkah cuaca satu-satunya “tersangka”?
Atau ada sesuatu yang lebih pelik—kelemahan sistem pandu–tunda yang selama ini dielu-elukan sebagai layanan berstandar internasional?
Sementara Kepala BMKG Kota Batam mengatakan hujan ekstrem di Batu Ampar tercatat pada pukul 05.00 – 07.00 yaitu 35,8 mm, meski bukan satu alasan pembenaran terjadinya insiden.
Dalam video yang viral dan telah ditonton lebih dari 120 ribu pengguna TikTok, terdengar teriakan panik: “Awas! Awas, woi!”
Sementara sirene STS 05 meraung seperti alarm sebuah kegagalan yang sudah lama dipendam.
@batamnow BatamNow.com – Kapal kontainer Meratus Ampana berbendera Indonesia bertabrakan dengan Ship-to-Shore (STS) Crane 05 ZPMC milik BP Batam di kolam Dermaga Utara Pelabuhan Kontainer Batu Ampar, Batam, Rabu (19/11/2025). Akibat insiden tersebut, buritan kapal Meratus Ampana mengalami kerusakan cukup serius. Kapal dengan bobot 17.000 DWT dan ukuran LOA/Beam 179/27 meter itu mampu mengangkut sekitar 1.000–1.400 TEUs. Meratus Ampana merupakan kapal milik Pelayaran Meratus dan saat kejadian baru tiba dari Pelabuhan Kargo Belawan, Sumatera Utara. Direktur Pengelolaan Pelabuhan BP Batam, Benny Syahroni, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, meminta agar pertanyaan disampaikan melalui Humas BP Batam “Maaf, bisa saya jawab lewat Humas BP ya,” kata Benny kepada BatamNow.com, Kamis (20/11/2025). Dalam video yang diterima BatamNow.com, terlihat bagian buritan kiri kapal menyenggol STS Crane 05 ZPMC, crane baru yang sebelumnya merupakan aset PT Persero Batam dan kini dimiliki BP Batam. Ketika kapal bergerak mundur, buritan kapal tampak mengenai crane tersebut hingga menimbulkan lubang dan robekan pada bagian atas buritan. Setelah tabrakan terjadi, sejumlah petugas pelabuhan terlihat berlarian sambil berteriak “Awas! Awas, woi!”, disertai bunyi sirene dari crane nomor 05. Mengutip data dari VesselFinder.com, Meratus Ampana bernomor IMO 9262950, MMSI 525125033, dan dibangun pada tahun 2002, yang berarti kapal telah berumur 23 tahun. Profesionalisme Pandu–Tunda BP Batam Jadi Sorotan Pasca-insiden tersebut, sejumlah pihak menyoroti kualitas layanan pandu dan tunda yang hingga kini masih dikelola langsung oleh BP Batam. Layanan pandu–tunda merupakan layanan vital yang mengarahkan gerakan kapal saat masuk ke kolam pelabuhan, merapat ke dermaga, atau bergerak di area terbatas. Pandu bertugas memberi instruksi manuver kapal. Tunda bertugas membantu mendorong atau menarik kapal agar bergerak aman. Dalam struktur saat ini, kegiatan pandu dan tunda masih berada di bawah Badan Usaha Pelabuhan (BUP) BP Batam, sehingga sejumlah kalangan mempertanyakan profesionalisme dan urgensi penyerahan layanan tersebut kepada pihak yang lebih ahli. Baca beritanya di BatamNow.com #batam #batamnow #batamnews #fyp #bpbatam ♬ News, news, seriousness, tension(1077866) – Lyrebirds music
Dari peristiwa itu sebuah persoalan menunjukkan mutu layanan pandu–tunda BP Batam yang sejak dulu dipertanyakan, namun terus dikelola sendiri oleh Badan Usaha Pelabuhan (BUP) BP Batam.
Padahal, pandu adalah “mata dan suara” kapal di kolam pelabuhan. Tunda adalah “tangan dan tenaga” yang menuntun gerak.
Jika keduanya goyah, maka kapal sebesar apa pun mudah tergelincir pada celaka.
Dan luka Meratus Ampana bukanlah satu-satunya luka yang tertinggal di pelabuhan ini.
Dermaga Selatan yang ambruk, yang sudah lebih dari tiga tahun tak tersentuh perbaikan, menjadi monumen bisu kegagalan manajemen aset.
Bertolak belakang dengan narasi kemajuan yang terus dipromosikan BP Batam dengan hadirnya 5 crane STS.
Bahkan Deddy Sitorus, anggota DPR RI periode 2019–2024, pernah menyebut kondisi Pelabuhan Batu Ampar “sedikit di atas primitif”—komentar yang sempat dibantah, namun kini terasa menggaung kembali.
Tudingan Deddy seolah sulit dibantah karena sistem pandu–tunda BP Batam, dan pada reputasi pelayanan kepelabuhanan Indonesia, mungkin jauh lebih dalam dan membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk sembuh.
Dan BP Batam harus bertanya pada dirinya sendiri: Jika pelabuhan hendak bersaing di panggung global, dapatkah ia melangkah jauh bila tertinggal dalam hal paling mendasar—profesionalisme layanan?
Kini, Meratus Ampana telah kembali berlayar, meninggalkan Batam dengan luka yang akan diperbaiki di pelabuhan lain.
Kapal itu tetap harus mengarungi lautan, meski membawa memori pahit dari dermaga yang seharusnya mengantar dengan selamat.
Dan seperti bait lagu lama yang menggugah: “I am sailing…”. (Red)

