BatamNow.com – Pemerintah Kota (Pemko) Batam melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mempercepat pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Batam untuk mengantisipasi pertumbuhan penduduk, kendaraan dan mobilitas masyarakat.
Di sisi lain, rencana Light Rail Transit (LRT) yang telah diwacanakan BP Batam sejak 2017 hingga kini belum menunjukkan kepastian pembangunan.
Kepala UPT Pelayanan Jasa Transportasi Dishub Batam, Bambang Sucipto, mengatakan intervensi terhadap sistem transportasi massal perlu dilakukan sejak sekarang.
Berdasarkan kajian teknis Dishub, tanpa intervensi terhadap penggunaan kendaraan pribadi, Batam berpotensi menghadapi kemacetan serius dalam lima tahun ke depan, bahkan dikhawatirkan menyerupai kondisi Jakarta.
Katanya, pengembangan BRT mengacu pada Perda Kota Batam Nomor 1 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Angkutan Massal, yang efektif berlaku 2 Juli 2026.
BRT Disiapkan dengan 10 Koridordan 10 Feeder
Dishub menyiapkan 10 koridor utama dan 10 rute feeder. Salah satu pengembangan koridor utama adalah Koridor 10 Tembesi-Galang, yang diarahkan menghubungkan kawasan pertumbuhan ekonomi baru, termasuk Rempang Eco-City dan Pelabuhan Sei Jantung.
Untuk memperluas jangkauan layanan, empat feeder tahap awal disiapkan dengan rute:
- Dapur 12–Fanindo
- Dapur 12–Pasar Melayu
- Ciptaken–Tiban Center via Tiban Mantaru
- Sagulung–Patam Lestari–SPBU Tiban 3.
Pengembangan berikutnya diarahkan ke Batu Ampar, Nongsa, Piayu dan Batu Aji.
Sistem feeder dirancang dengan konsep rumah–feeder–halte BRT-tujuan, sehingga kawasan permukiman dapat terhubung dengan koridor utama Trans Batam.
Dishub juga menyiapkan lajur prioritas Trans Batam pada ruas jalan tertentu serta merencanakan integrasi layanan dengan kawasan permukiman melalui APBD 2027.
Dalam pengembangan tersebut, ketersediaan armada dan frekuensi perjalanan menjadi bagian penting untuk memastikan 10 koridor dan feeder dapat beroperasi secara efektif.
Penumpang Didominasi Pelajar, Park and Ride Mulai Berkembang
Menurut data Dishub Batam, sekitar 20–25 persen penumpang Trans Batam merupakan pelajar.
Penggunaan Trans Batam juga mulai memperlihatkan pola park and ride, yakni masyarakat menggunakan kendaraan pribadi dari rumah, kemudian memarkirkannya di lokasi tertentu yang dekat dengan halte atau titik layanan angkutan umum, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan BRT.
Contohnya, warga dari kawasan permukiman dapat mengendarai sepeda motor atau mobil menuju lokasi parkir dekat halte Trans Batam, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan BRT menuju Batam Centre, Nagoya atau kawasan tujuan lainnya.
Pola tersebut menjadi salah satu bentuk integrasi antara kendaraan pribadi dan angkutan umum untuk mengurangi perjalanan kendaraan pribadi hingga ke pusat aktivitas.
Pada sejumlah koridor padat, seperti Sekupang–Batam Centre dan Tanjung Uncang-Batam Centre, penggunaan Trans Batam juga mulai menunjukkan pergeseran sebagian masyarakat dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
Sementara itu, moda angkutan lokal seperti Bimbar, yang telah lama menjadi bagian dari transportasi Batam, masih dibutuhkan untuk menjangkau kawasan yang belum terlayani koridor utama.
Anggota Komisi III DPRD Batam, Suryanto, mendorong agar operator dan pengemudi angkutan lokal dilibatkan dalam pengembangan sistem feeder.
LRT BP Batam Masih Wacana
Berbeda dengan pengembangan BRT yang mulai masuk tahap perluasan jaringan, rencana LRT BP Batam masih menunggu kepastian implementasi.
Gagasan LRT telah diwacanakan sejak 2017. BP Batam sebelumnya pernah merancang jaringan dan stasiun dengan konsep jalur sekitar 55,47 kilometer dengan nilai investasi triliunan rupiah.
Dalam perkembangan berikutnya, rencana LRT kembali dikaitkan dengan konektivitas Bandara Hang Nadim–Batam Centre.
Namun hingga 2026, belum terdapat kepastian mengenai investor, skema pembiayaan, koridor definitif, tahapan konstruksi maupun target operasional.
Jika dihitung sejak 2017, rencana tersebut telah berjalan sekitar sembilan tahun dan kini tersalib dengan BRT Dishub Kota Batam.
BRT dan LRT pada dasarnya dapat dikembangkan sebagai sistem yang saling terintegrasi.
BRT dapat melayani jaringan permukaan dan feeder, sementara LRT dapat diarahkan pada koridor dengan permintaan perjalanan dan kebutuhan kapasitas lebih tinggi.
Pertumbuhan Penduduk dan Kendaraan
Kebutuhan transportasi massal juga berkaitan dengan pertumbuhan penduduk dan kendaraan di Batam.
Jumlah penduduk Batam kini sekitar 1,4 juta jiwa, sedangkan jumlah pertumbuhan kendaraan di Batam hingga 2026 mencapai sekitar 829.839 unit.
Jumlah tersebut terdiri dari 638.215 kendaraan roda dua dan 191.624 kendaraan roda empat, belum termasuk kendaraan roda enam dan lebih.
Di tengah pertumbuhan ekonomi Batam sekitar 7,5 persen, aktivitas industri, perdagangan dan permukiman turut mendorong peningkatan mobilitas masyarakat.
Kondisi tersebut membuat pengembangan angkutan massal menjadi bagian penting dalam pengelolaan transportasi kota. Dan juga menjadi solusi mengurangi kemacetan lalu lintas yang semakin menyesakkan setiap hari.
Pemko Batam kini mendorong percepatan BRT melalui pengembangan koridor, feeder dan infrastruktur pendukung.
Sementara itu, masyarakat masih menunggu kepastian BP Batam mengenai kelanjutan proyek LRT yang telah diwacanakan sejak 2017. (Red)

