BatamNow.com – Air, air, kami butuh air!
Kalimat itu serempak diteriakkan berkali-kali oleh ribuan warga Kompleks Perumahan Putra Jaya Tajnjung Uncang yang berdemo di depan Kantor Wali Kota Batam, Senin (07/11/2022) pagi.
“Sudah sepuluh tahun kami tidak kebagian air. Apakah kami bukan warga Batam? Kami warga Tanjung Uncang merasa terabaikan,” teriak orator dari atas mobil komando.
Warga ini merasa terdiskriminasi. Soal keluhan itu, katanya, sudah berulang kali disampaikan pun dimediasi namun air minum tak juga 24 jam mengalir ke rumah warga.
“Mana Kepala BP Batam Muhammad Rudi, mohon turun dengarkan kami. Kami tak akan pulang kalau belum bertemu. Setuju?” teriak orator.
“Setuju!” jawab ribuan warga.
Pantauan BatamNow.com, hingga pukul 10.20 unjuk rasa masih berlangsung dan Kepala BP Batam maupun pejabat yang berkompeten belum ada menemui para warga yang demo.

Unjuk rasa ini dari RW 15 Perumahan Putra Jaya dengan 9 RT sebagai tindak lanjut dari pertemuan perwakilan warga dengan pihak PT Moya Indonesia pada Selasa (01/11).
Namun pihak PT Moya Indonesia hanya memberikan solusi jangka panjangnya. BP Batam, katanya, akan membangun WTP (Water Treatment Plant) khusus untuk wilayah Tanjung Uncang dengan 350 liter per detik.
Dan jangka pendeknya akan mendistribusikan air minum kepada warga menggunakan mobil tangki.
Warga tetap kecewa karena tetap saja air minum tidak mengalir selama 24 jam ke Perumahan Putra Jaya, Tanjung Uncang.
Sudah sekitar 10 tahun warga Perumahan Putra Jaya hafus begadang menunggu aliran air yang cuma mengalir kecil mulai tengah malam hingga subuh.
Padahal Pasal 4 ayat (5) Petaturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 mengamanahkan, “Kontinuitas pengaliran Air Minum memberikan jaminan pengaliran selama 24 (dua puluh empat) jam per hari”
Sebagai informasi, PT Moya Indonesia sebagai mitra BP Batam mengelola Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam sejak November 2020.
Lewat lelang, kini pengelolaan dan perawatan SPAM Batam di hulu dan hilir di bawah konsorsium PT Moya Indonesia – PT Pembangunan Perumahan Tbk.
Kemudian diketahui konsorsium itu membuat dua anak perusahaan untuk mengelola SPAM di hulu dan di hilir. Keduanya adalah PT Air Batam Hulu dan PT Air Batam Hilir. (D)

