Catat, Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Pasien Covid-19 Saat Isoman! - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Catat, Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Pasien Covid-19 Saat Isoman!

by BATAM NOW
26/Jul/2021 10:35
Cara Menjalani Isolasi Mandiri yang Benar Menurut Guru Besar FK Unair

Ilustrasi isolasi mandiri. (F: iStockphoto/ Xesai)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com, Jakarta – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membeberkan salah satu kesalahan fatal yang dilakukan pasien Covid-19 saat menjalani isolasi mandiri yang berakibat fatal.

Dilansir WartaEkonomi.co.id, Ketua Persatuan Besar (PB) IDI dokter Daeng M. Faqih menyebutkan hingga saat ini kesalahan terbesar dari para pasien isolasi mandiri (isoman) karena tidak adanya pemantauan dan pengawasan dari tenaga medis. Seringnya pasien isolasi mandiri baru mencari pertolongan dokter atau tenaga medis ketika kondisi benar-benar sudah memburuk dan terlambat untuk ditangani.

“Maka dari itu penting untuk konsultasi rutin hingga sembuh, karena kalau terhubung dengan dokter misalnya lewat layanan telemedisin tentu akan lebih baik penanganannya karena ada pendampingan ahli dan ada juga pemberian terapi obat yang lebih terarah,” katanya, Minggu (25/07/2021).

Daeng menyarankan pasien Covid-19 isoman untuk setiap hari saat berkonsultasi pada tenaga kesehatan (nakes). Pengawasan dari tenaga medis dan dokter memang dibutuhkan agar angka kesembuhan Covid-19 pada pasien bisa semakin tinggi dan peluangnya semakin besar.

“Hal yang utama dalam konsultasi saat isolasi mandiri itu jangan lupa sampaikan perkembangan gejala, serta hasil observasi mandiri ya mulai dari respiratory rate, suhu, dan kadar saturasi oksigen,” kata dokter Daeng.

Dokter Daeng juga menyebutkan selama isolasi mandiri pasien Covid-19 tidak boleh melakukan kegiatan yang menyebabkan kelelahan pada fisik dan mental.

Pasien boleh berolahraga, namun dalam jumlah yang normal dan tidak mengganggu kadar oksigen di dalam tubuh.

Selama isolasi mandiri, pasien Covid-19 pun tidak perlu merasa panik dan sebisa mungkin selalu berpikiran positif dengan berbagai cara misalnya dengan menghubungi kerabat secara virtual atau bisa juga sambil membaca buku. Pada saat isolasi mandiri, pasien juga harus mampu mengenali ciri-ciri perburukan gejala.

Baca Juga:  Seorang Camat Menang dalam Pilkades. Loh Kok..?

Selain memantau kadar oksigen dan suhu tubuh pasien bisa mengenali gejala perburukan dengan mengecek jumlah embusan napas. Jika respitatory rate sudah melebihi 24 kali dalam waktu satu menit artinya pasien sudah mengalami durasi nafas yang lebih pendek.

“Itu merupakan gejala gangguan nafas yang seharusnya langsung dikonsultasikan kepada dokter,” kata dia.

Dia juga berpesan gejala perburukan juga bisa dilihat dari perasaan sesak nafas atau tertekan yang dialami pasien. “Meski pasien mendapatkan hasil saturasi di atas 95 persen, namun jika mengalami sesak ada baiknya segera menghubungi dokter untuk kemudian dirujuk ke rumah sakit,” beber dia.

Tidak hanya itu, perburukan gejala juga bisa dilihat dari ujung tangan, kaki, dan bibir yang membiru atau dalam istilah medisnya dikenal sebagai cyanosis.

Selain itu, dr. Daeng menyebut jika pasien tidak merasa sesak atau tidak merasa dadanya tertekan pasien dengan cyanosis harus segera mendapatkan rujukan ke rumah sakit. Pasalnya, hal itu menunjukkan bahwa tubuhnya kekurangan oksigen.

“Hal- hal seperti itu kebanyakan luput, masyarakat banyak yang belum mengetahui gejala perburukan. Maka penting terhubung dan berkonsultasi ke dokter setidaknya lewat telemedisin agar angka kesembuhan bisa meningkat,” ujar Daeng.

Sebelumnya, IDI menilai layanan telemedisin merupakan solusi yang strategis di masa penanganan pasien pandemi Covid-19. Nakes pun dapat lebih optimal memantau keadaan banyak pasien dan membantu meringankan beban rumah sakit yang masih cukup banyak merawat pasien- pasien bergejala sedang hingga kritis.

“Telemedisin juga membantu penanganan di hulu dengan cara mempersiapkan sistem untuk sentra-sentra vaksinasi Covid-19 agar sesuai dengan protokol kesehatan dan membantu percepatan distribusi vaksin,” kata Daeng M. Faqih.(*)

Berita Sebelumnya

2 Alasan Distribusi Vaksin Covid-19 Belum Merata

Berita Selanjutnya

Saudi Mulai Izinkan Jemaah Internasional Umrah, Termasuk RI

Berita Selanjutnya
Detail Kuota Umrah, Protokol Kesehatan, dan Kenaikan Biaya saat Pandemi Covid-19

Saudi Mulai Izinkan Jemaah Internasional Umrah, Termasuk RI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com