Dari Batam Mengasong Kosmetik di Singapura. Begini Suka-Dukanya - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Dari Batam Mengasong Kosmetik di Singapura. Begini Suka-Dukanya

12/Sep/2022 13:11
VTL vs Travel Bubble

Singapura. (F: iStockphoto)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Banyak warga Batam belanja barang dan pakaian bekas dari Singapura lalu menenteng lewat feri penumpang ke Batam, itu cerita lama.

Tapi, kala puluhan pedagang asongan dari Batam menjajakan dagangannya secara kecil-kecilan di Singapura, ini tren baru.

Para pengasong itu wanita dan lelaki. Jumlahnya diperkirakan sudah 40 puluhan orang.

Hampir sama seperti para pria sales jam tangan yang wara-wiri di Batam. Dari satu kedai ke kedai lain. Dari keramaian yang satu ke keramaian yang lain.

Di Singapura mereka mengitari beberapa titik keramaian di luar atau seputaran gate mal-mal kecil atau di beberapa destinasi wisatawan, pun di area kulineran outdoor.

Semisal di kawasan Little India, Geylang Serai, Bugis Street, Sungai Road dan lainnya. China Town, Sim Lim Tower dan tempat lain.

Barang yang diasong utamanya aneka parfum dan kosmetik dari berbagai jenis.

Ada buatan luar negeri, semisal dari China (Tiongkok). Ada produk Indonesia dan semuanya dibeli dari Batam. Parfum untuk lelaki maupun wanita.

Bahkan ada produk yang tadinya masuk dari Singapura ke Batam, dijual (balik) lagi ke seberang.

“Kami belinya di Batam, dari gerai toko yang bertebaran di Batam lalu kami jajakan ke Singapura,” kata Ririn, wanita satu anak ini.

Ririn memang baru empat tahun di Batam. Awalnya dia bekerja serabutan. Sering trip Batam-Singapura beli barang bekas lalu ditenteng ke Batam lewat feri.

Waktu berputar terus, dia pun mengubah dagangannya. Ikut temannya menjaja paket parfum dan kosmetik ke negeri seberang.

“Sudah tiga tahun lalu kami lakoni, tapi sempat berhenti karena Covid-19, dua bulan belakangan ke sana lagi, jualan lagi,” ujar Nengsih, wanita dengan dua teman Ririn.

“Kadang kami ada yang bertahan di Singapura 10 hari, ada 5 hari. Ngelihat lakunya daganganlah,” kata Faisal lelaki lajang yang tinggal di Batu Aji.

Memang berapa banyak paket parfum atau kosmetik yang laku dijajakan setiap hari di Singapura. Bukankah cost atau biaya hidup tinggi di sana, apalagi harga tiket feri PP Rp 700 ribu?

“Ada sampai 2 paket ada juga yang 3 paket sehari laku oleh seorang pengasong, tapi kadangkala apes,” ucap Faisal.

Misal, katanya, untuk satu paket kosmetik dengan harga Rp 400 ribu dari Batam, kadang laku terjual Rp 900 atau sekitar S$ 90, dan dapat margin Rp 500 Ribu atau S$ 48.

“Satu pengasong, kalau rezeki datang dan bisa bertahan jualan 10 hari bisa dapat bersih S$ 500 atau Rp 5 juta lebih. Kemudian passing ke Batam menjemput stok barang lagi.

Baca Juga:  Isolasi Mandiri, Kapan Penderita Covid-19 Sudah Tak Tularkan Virus?

Ada juga katanya yang dalam 10 hari dapat untung kotor Rp 10 juta. “Tapi kan tak setiap hari, kadang satu pun tak laku dalam sehari,” ujarnya.

Katanya, tak gampang bawa paket kosmetik dan parfum ke sana. Harus pintar-pintar selipkan di tas bawaan. Pengawasan custom di Singapura sangat ketat.

Dia berkisah tak sedikit barang mereka yang ditahan custom di pelabuhan Singapura saat “ditenteng” dari Batam.

Hal yang paling sial, ujarnya, ketika polisi di sana mendapati mereka tengah menjajakan parfum itu.

“Sebenarya cara kami menawarkan ke orang per orang di Singapura mirip SP (Sales Promotion) di Batam, itu pun tak terlalu mencolok. Tapi kadang polisinya tahu juga,” begitu ceritanya.

“Kita kan masuk visa turis, tak boleh menjajakan barang, sudah berapa teman yang dideportase dan di-banned selama setahun,” itu kisah dukanya mengasong ke Singapura.

Diakuinya, suka yang mereka alami kala paket asongannya lumayan lakunya.

Memang, katanya, mesti berpeluh mengasong di Singapura. “Namanya pun curi-curi karena peraturan di negara itu sangat ketat”.

Warga negara mana saja pasar atau pembelinya?

“Memang lebih banyak yang beli wisatawan asing yang pelesiran ke Singapura,” ujar Ririn.

Ada warga neara Tiongkok (Cina), ada Bangladesh, India, Burma dan lainnya.

Lalu bagaimana caranya menghadapi biaya hidup yang mahal dan bisa sampai bertahan selama 10 hari dan dapat cuan?

Living-cost, kata mereka, yang harus diirit, seperti biaya tumpangan, transportasi dan biaya makan.

“Kami selalu menyewa kamar di seputar Tempinas. Kamarnya kecil, tapi terpaksa dihuni 6 orang, bersempit-sempitlah yang penting bisa istirahat malam dengan kamar mandi umum di penginapan,” tambahnya lagi.

Harga satu kamar, katanya, sekitar S$ 20 atau sama dengan Rp 220 ribu sehari semalam. “Pagi sampai sore kami keliling jualan”.

Untuk dari dan ke penginapan terpaksa naik kereta MRT. ”Lebih murah dari bus”.

Puluhan orang Indonesia mengasong atau menjajakan parfum dan kosmetik di Singapura berhadapan dengan peraturan yang ketat dan dengan biaya hidup mahal.

Sulit dipercaya karena berbagai jenis parfum dan kosmetik dari berbagai negara dengan berbagai varian harga bertabur di negaranya Lee Hsien Loong itu.

Tapi itu sudah dilakoni oleh Ririn, Nengsih dan Faisal beserta puluhan lainnya di negeri seberang. (D)

Berita Sebelumnya

Kala Ariastuty Keburu Ngegas di Ambruknya Plafon Masjid Tanjak

Berita Selanjutnya

Siapa Bjorka dan Kenapa ‘Mengacak-acak’ Indonesia?

Berita Selanjutnya
Siapa Bjorka dan Kenapa ‘Mengacak-acak’ Indonesia?

Siapa Bjorka dan Kenapa 'Mengacak-acak' Indonesia?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com