Catatan Redaksi BatamNow.com
Seperti sesama bus kota yang saling mendahului, kala Kepala Biro (Kabiro) Humas BP Batam Ariastuty Sirait keburu ngegas menyimpulkan musabab ambruknya plafon Masjid Tanwirun Naja alias Masjid Tanjak.
Kelembaban akibat tingginya intensitas curah hujan yang turun, itulah kata Ariastuty ihwal ambruknya plafon Masjid Tanjak.
Namun pernyataannya itu menjadi ambyar tatkala berbeda dengan Kepala BP Batam Muhammad Rudi yang belum tahu penyebab ambruknya plafon itu.
Rudi tampak sangat berhati-hati menjawab media karena belum ada penyelidikan atas insiden di masjid itu. Justru menaruh heran kenapa bisa roboh. Dia juga masih menduga apakah karena hujan lalu lapuk, atau besinya yang tidak kuat.
Rudi juga masih menunggu hasil pemeriksaan Satuan Pemeriksa Intern (SPI) BP Batam untuk mengetahui penyebab plafon roboh.
Ternyata bukan kali ini saja kondisi di masjid itu mendapat sorotan. Pada Juni lalu, air sempat tergenang di area dalam Masjid.
Kala itu Ariastuty menyangkal bahwa air yang tergenang di dalam area Masjid Tanjak bukan dikarenakan kebocoran. Adapun air yang masuk lebih dikarenakan akibat angin kencang, sehingga air masuk melalui celah yang merupakan desain dinding masjid.
Dia sebut dinding masjid dengan desain krawangan bolong-bolong. Ketika hujan dan berangin, air masuk melalui dinding dan mengaliri bagian dalam masjid.
Namun apa daya, insiden itu datang lagi. Insiden pertama entah diperbaiki atau tidak. Tapi kali ini lebih parah.
Pasca insiden kedua ini pun tak ada penjelasan konkret dan transparan secara khusus dari para ahli teknik bangunan di jajaran BP Batam di tengah kegelisahan warga.
Sementara pernyataan yang ambyar itu sekaligus mengonfirmasi bahwa Ariastuty bicara melebar dari tupoksinya kalau tak sudi disebut asbun.
Public relation seperti ini, ke depan, mesti dihentikan karena bisa merusak akal sehat masyarakat yang memberi perhatian atas peristiwa di Masjid Tanjak.
Ariastuty seperti mendahului orang-orang yang khatam teknis permasalahan. Apalagi sudah membuat kesimpulan yang bertentangan dengan publikasi atasannya sendiri.
Mestinya di setiap peristiwa menyangkut hal teknis yang terjadi di BP Batam, keterangan dan penjelasan hendaknya disampaikan oleh para ahlinya.
Tapi di BP Batam barisan para ahli dengan titel berderet itu entah menghilang pada ke mana di insiden Masjid Tanjak. Ya itu pimpinan proyek (Pimpro) dan pengawas di BP Batam.
Mereka seolah membiarkan Rudi sendirian berhadapan dengan warganya dengan tudingan liar di balik ambruknya bagian dari bangunan masjid itu.
Apalagi muncul penjelasan tak searah antara Ariastuty dengan Rudi yang memicu opini miring di masyarakat dan semakin berkecambah.
Sesumbar, Pernah Ditegur Kepala Ombusman Kepri
Soal asal nyerocosnya Kabiro Humas BP Batam Ariastuty Sirait bukan kali ini saja.
Sebagai contoh ketika Ariastuty menepis pernyataan Kepala Ombudsman Kepulauan Riau (Kepri) Dr Lagat Parroha Patar Siadari SE MH yang beberapa kali megajukan saran ke BP Batam tentang solusi atas tak layaknya penggunaan pelabuhan kapal Pelni di Batu Ampar di Batam.
Lagat mengatakan permasalahan pelabuhan penumpang Pelni itu sudah sering diberikan saran ke BP Batam agar pelabuhan ini ditinjau kembali dan difungsikan sebagai pelabuhan penumpang demi keselamatan tapi tak pernah direspons.
Namun Ariastuty mengotot bahwa Ombudsman belum pernah mengirimkan saran itu lewat surat ke BP Batam terkait penggunaan Pelabuhan Batu Ampar yang digunakan Pelni untuk penumpang.
Sesumbar, Ariastuty meminta pertanggungjawaban atas klarifikasi yang dikirimkan redaksi media ini.
“Saya sudah cek belum ada surat ombudsman ke bp batam ttg batu ampar pelni. Anda mengatakan berulang memberi saran. Saya minta pertanggungjawaban statement anda,” kata dia.
Tak sampai di situ, Ariastuty yang berpendidikan Strata 2 (S2) ini malah menuding pernyataan Lagat –pemimpin perwakilan Lembaga Negara yang berwenang mengawasi Penyelenggaraan Pelayanan Publik itu, subjektif dan tak ada buktinya.
“Ini subyektif krn tdk ada bukti hitam diatas putih. Tdk ada surat menyurat kepada kami maupun notulen pertemuan sebagaimana disampaikan melalui statement wa batamnow kepada saya ttg ombudsman. Thanks,” tulis Ariastuty dalam pesan WhatsApp ke redaksi BatamNow.com, Rabu (11/05) siang.
Lagat akhirnya mengirimkan bukti-bukti konkret ke Ariastuty.
“Barusan saya berkomunikasi dengan dia. Kita kirimkan file suratnya bahwa kita sudah pernah menyampaikan,” jelas Lagat.
Lagat menyayangkan dan akhirnya menegur Kabiro Humas BP Batam yang langsung membuat klaim sepihak tanpa mengonfirmasi ke Ombudsman Kepri.
“Bu Tuty ‘kan baru, saya bilang begitu. Jadi lain kali konfirmasi dahulu ke saya. Itu suratnya, baca materinya,” kata Lagat menegur Ariastuty.
Ariastuty pun tak banyak cakap lagi, kecuali hanya membalas pesan redaksi BatamNow.com dengan stiker.
Belajar dari insiden di masjid itu, para direktur di BP Batam hendaklah mengambil peran aktif yang responsif untuk menjelaskan secara detail ditengah kegelisahan masyarakat.
Juga jangan seolah bersembunyi manakala muncul satu peristiwa yang menjadi sorotan publik secara masif.
Jangan seakan membiarkan opini liar berkecambah ke mana-mana.
Kalau tidak, sikap seperti ini seakan membiarkan Rudi sendirian menjawab berbagai prasangka dari publik yang menyoroti tajam insiden itu.
Dan seakan mengonfirmasi opini liar yang beredar yang menuding bahwa di tubuh BP Batam, kini, banyak “brutus” yang sebenarnya tidak sepaham dengan Rudi.
Banyak opini liar mengkaitkan pada suasana awal Rudi hendak menjabat Kepala BP Batam yang kala itu mendapat penolakan dari pegawai, staf dan para petinggi di kantor berlogo elang emas itu.
Tudingan dan opini liar memang tergolong asumsi. Tapi makna pepatah kuno bisa menjadi pegangan, “Tak Ada Asap Kalau Tak Ada Api”. (*)

