BatamNow.com, Jakarta – Badan Keamanan Laut (Bakamla) Republik Indonesia memastikan di tahun 2022 ini, pihaknya akan memprioritaskan wilayah pengamanan di Natuna Utara, Kepulauan Riau.
Hal ini dikatakan Kepala Bakamla RI Laksdya TNI Aan Kurnia, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/01/2022). “Ya, Natuna Utara di Kepulauan Riau, menjadi prioritas pengamanan laut,” ujarnya.
Menurutnya, akhir-akhir ini kerap muncul ketegangan di wilayah tersebut. Termasuk klaim China terhadap sumber-sumber minyak lepas pantai di Natuna Utara. Selain itu, kata Kepala Bakamla, kondisi di Laut China Selatan yang berdekatan dengan Natuna juga terus memanas.
“Daerah yang berada di ujung selatan Laut China Selatan itu kerap diklaim sebagai bagian dari wilayah perairan tradisional China. Ini yang harus dijaga,” ujar Laksdya Aan.
Dia menjelaskan, pada dasarnya Pemerintah Indonesia tunduk pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS 1982) yang menetapkan ujung selatan Laut China Selatan merupakan bagian dari Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.
“China memakai peta laut yang berbeda dengan PBB, sehingga menganggap wilayah tersebut masuk negaranya,” tambahnya.
Meski begitu, Laksdya Aan mengakui, medan perairan Laut China Selatan memang berat. “Di sana tantangannya berat dan lalu lintas kapal juga banyak. Namun, kita berupaya untuk tetap menjaga wilayah yang masuk ZEE Indonesia,” tukasnya.
Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah membangun stasiun peringatan dini (SPD) di daerah terluar Indonesia. “Kami akan membangun stasiun peringatan dini, utamanya di pulau-pulau terluar Indonesia,” terangnya.
Diterangkannya, stasiun peringatan dini itu dibangun demi memaksimalkan pemantauan keamanan dan keselamatan di daerah laut. “Tidak hanya sebagai etalase keamanan nasional, tetapi (sistem peringatan dini) juga menunjukkan bahwa Bakamla RI hadir di area terluar Indonesia,” kata Laksdya Aan.
Pembangunan sistem peringatan dini itu merupakan program kontrak tahun jamak (multi years) yang dilakukan secara bertahap. “Kami berencana membangun SPD di 35 titik di Indonesia,” tukasnya. (*)

