Batamnow.com – Konsistensi dan kapasitas pengembangkan Bandara Hang Nadim sebagai hub internasional kembali dipertanyakan.
Alih-alih merealisasikan proyek besar Terminal 2 senilai Rp 2,9 triliun, fasilitas penunjang berupa gedung kargo baru senilai Rp 166 miliar yang telah rampung sejak 2022 justru tak kunjung dioperasikan hingga kini.

Gedung kargo tersebut sejatinya disiapkan untuk menggantikan fasilitas lama yang akan dibongkar karena masuk dalam kawasan pengembangan Terminal 2.
Namun faktanya, gedung kargo lama masih bertahan, sementara gedung baru justru tak berfungsi—sebuah ironi dalam perencanaan proyek strategis.
Berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), aset BP Batam tersebut masih tercatat sebagai fasilitas yang tidak dimanfaatkan, meski telah selesai dibangun dengan anggaran besar.

Lima Tahun Fasilitas Belum Lengkap
Ironisnya, persoalan utama bukan pada bangunan fisik, melainkan pada ketiadaan fasilitas operasional dasar seperti mesin X-ray, alat deteksi bahan berbahaya, hingga sistem logistik pendukung.
Kondisi ini memperlihatkan lemahnya perencanaan: infrastruktur megah dibangun lebih dulu, sementara perangkat vital justru diabaikan. Proyek berjalan, tetapi fungsinya tertinggal.

Tarik Menarik Kewenangan
Pengelolaan bandara kini berada di bawah PT Bandara Internasional Batam (BIB) sejak 2022 dengan masa konsesi 25 tahun.
Perusahaan ini merupakan konsorsium yang melibatkan PT Angkasa Pura I, Incheon International Airport Corporation bersama PT Wijaya Karya (WIKA) yang merupakan BUMN.
Namun di tengah ambisi besar tersebut, pengoperasian gedung kargo justru terjebak dalam tarik-menarik kewenangan.
PT BIB menyatakan tidak dapat mengoperasikan gedung tanpa fasilitas lengkap, sementara BP Batam masih berkutat pada skema kompensasi melalui konsesi.
Akibatnya, aset bernilai ratusan miliar itu terus menganggur tanpa kepastian.
Dampaknya jelas: potensi pendapatan hilang, sementara biaya pemeliharaan tetap berjalan.
Ini bukan sekadar keterlambatan, melainkan indikasi lemahnya sinkronisasi antara perencanaan dan pelaksanaan proyek strategis.
Sejak mulai beroperasi pada 1990-an, pengembangan bandara ini belum menunjukkan lompatan signifikan, meski telah melibatkan mitra internasional.
Setelah lebih dari tiga dekade, ambisi menjadikan Bandara Hang Nadim sebagai pusat logistik regional masih berkutat di level wacana.
Isu efektivitas pengelolaan hingga wacana evaluasi konsesi pun terus mencuat, seiring belum optimalnya fungsi fasilitas strategis seperti gedung kargo baru.
Bandara ini bahkan sempat diterpa isu pengambilalihan kembali oleh BP Batam. Namun hingga kini, persoalan mendasar—termasuk pengoperasian gudang kargo—tak kunjung terselesaikan. Ambisi besar masih berjalan di tempat. (A/Red)

