BatamNow.com – Kota Batam dan pulau sekitar geger.
Musababnya, ramai dalam berita sejumlah buaya lepas dari penangkarannya di Pulau Bulan, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, pada Minggu (12/01/2025).
Belum ada penjelasan resmi dari pihak perusahaan PT Perkasa Jagat Karunia (PJK) tentang kepastian jumlah buaya yang lepas dari penangkarannya di pulau itu.
Namun Kapolsek Bulang IPTU Adyanto Syofyan kepada media membenarkan pada Senin (13/01) pagi, ada 5 ekor buaya lepas dari Pulau Bulan karena pagar kandangnya dijebol banjir.
Semetara informasi yang beredar di tengah publik sangat spekulatif. Ada dengan asumsi: banyak yang lepas. Itu disebab kandang yang jebol.
“Siapa yang melihat persis hanya 5 ekor yang lepas dari jumlah yang ditangkar di sana, kami dengar ada ribuan, ini gimana tak ada penjelasan konkret dari pihak perusahaan pemilik penangkaran,” kata beberapa warga.
@batamnow Sejumlah buaya dikabarkan terlepas dari penangkarannya di Pulau Bulan Kota Batam, akibat hujan pada Senin (13/0/2025). Baca beritanya di BatamNow.com #batamnow #batamtiktokcommunity #batamhits #batamnews #batamisland #batamsirkel #kotabatam #batampunyacerita #semuatentangbatam #fyp #fypage ♬ Dino Song (Cover) – Irwan Mix
Dari sejumlah buaya yang lepas, diisukan sudah ada yang menyeberang ke Pulau Batam.
Semula informasi tentang lepasnya sejumlah buaya ini muncul dari unggahan video di media sosial berdurasi 39 detik lalu meluas di aplikasi WhatsApp warga Batam dan pulau sekitarnya.
Setelah beredar luas lalu mendapat kritikan tajam dari masyarakat Kota Batam, khususnya warga pulau karena mereka umumnya sebagai nelayan kecil.
Hingga berita ini dimuat belum ada penjelasan resmi dari pemerintah BP Batam dan Kota Batam maupun Pemprov Kepri.
Direktur Eksekutif Walhi Riau, Boy Jerry Even Sembiring yang dikonfirmasi BatamNow.com lewat telepon dan WhatsApp, pada Senin (13/01/2025) belum merespons.
Kepala Seksi Wilayah II Batam Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Tommy Steven Sinambela mengatakan kemedia, belum ada penjelasan resmi.
Peternakan Babi Komersial
Pulau Bulan seluas 100 Km2 berada 2,5 Km dari Pulau Batam.
Posisinya dipisah laut bersebelahan dengan Pulau Buluh yang sama-sama masih berada di Kecamatan Sagulung. Pelabuhan Rakyat Sagulung adalah akses dari Batam menuju pulau itu.
Pulau itu selain tempat penangkaran buaya, sebelumnya amat terkenal sebagai lokasi peternakan babi untuk keperluan ekspor dan sebagian dipasarkan di Batam.
Dibuka sejak tahun 1988 oleh PT Indotirta Suaka, yang merupakan bagian dari Salim Group, dan mitra dagang Singapura dalam penyediaan babi komersial, hingga kini masih eksis.
Pun juga sebagai penangkaran buaya yang dibuka sejak tahun 1994, oleh PT Perkasa Jagat Karunia (PJK), hingga kini menuai kritikan dari masyarakat.
Pembukaan pulau ini sebagai peternakan babi komersial, sejak awal mendapat penolakan dari masyarakat pulau sekitar.
Kini masyarakat pulau di sana digegerkan lagi kabar sejumlah buaya lepas dari penangkarannya.
“Kami menjadi ketakutan mencari ikan di sekitar tepi pulau,” kata beberapa warga Sagulung dan kawasan Sagulung.
Berkali Penampakan Buaya Liar di Batam
Sebelumnya, paling tidak selama tahun 2024, beberapa kali penampakan buaya liar nan besar terjadi di Kota Batam.
Seekor buaya yang diperkirakan berukuran 10 meter pernah muncul di perairan Kelurahan Temoyong, Bulang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Kemunculan buaya itu viral di media sosial.
Banyak menduga, ditemukannya beberapa buaya liar di sekitar bandara Batam dan yang berada di dekat kawasan bakau, termauk di Kelurahan Temoyong, Bulang Batam.

Warga Perumahan Muka Kuning Pratama, Kelurahan Sungai Langkai, Sagulung, juga diresahkan dengan kemunculan sekelompok buaya yang kerap berkeliaran di tepi sungai dekat pemukiman warga.

Pihak Perusahaan Harusnya Transparan
Ketua DPP Kepulauan Riau LI-Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Negara, Panahatan SH, meminta atensi BP Batam, Pemko Batam, maupun Pemprov Kepri, soal lepasnya sejumlah buaya dari penangkaran di Pulau Bulan.
“Ini sangat berbahaya bagi masyarakat pulau dan Batam, namun belum ada penjelasan resmi baik dari perusahaan dan pemerintah, jangan sampai jatuh korban baru bicara, ini ada apa semua bungkam,” ujarnya.

Menurut Panahatan, mestinya pihak perusahaan harus transparan dan sudah ada keterangan resmi dari stakeholder biar masyarakat mendapat informasi yang pasti agar tidak dibayang-bayangi ketakutan.
“Kalau membaca dan menonton video di sosial media, ini mengerikan, sebab ada informasi yang belum dapat diterima kebenarannya soal jumlah buaya yang disebut mencapai ribuan,” ujar Panahatan.
Panahatan meminta sudah saatnya pemerintah untuk mengevaluasi keberadaan Pulau Bulan sebagai peternakan babi sejak 37 tahun yang lalu serta penangkaran buaya 31 tahun lalu.
“Sudah seperti apa kondisinya penangkarannya, kenapa bisa lepas? Setelah puluhan tahun dan pihak perusahaan sepertinya tidak transparan manakala ada masalah yang dapat membahayakan keselamatan manusia,” tegasnya.
Selain Panahatan, Farrul Rodji SH, seorang pemerhati lingkungan hidup juga meminta pemerintah untuk segera memberi penjelasan ke masyarakat atas lepasnya sejumlah buaya ini agar masyarakat bisa waspada. (A/Red)

