BatamNow.com – Satu peristiwa unik mengiringi perjalanan sejarah Batam terukir di balik keberadaan jembatan layang (flyover) kebanggaan masyarakat Batam ini.
Saat diresmikan penggunaannya, jembatan layang kedua di Batam itu diberi nama Flyover Laksamana Ladi.
Nama itu bertengger pada markah jembatan layang selama lima hari sejak peresmiannya oleh Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, dalam sebuah acara seremonial yang khidmat pada Selasa, 31 Desember 2024.
Pada batu marmer hitam prasasti di tugu jembatan, pun nama tersebut terpatri lengkap dengan tanda tangan Muhammad Rudi, seolah memberikan kesan sakralitas dan keabadian pada momen bersejarah tersebut.
Namun, sehari setelah peresmian, polemik pun merebak. Tokoh sejarawan, budayawan, dan Lembaga Adat Melayu (LAM) memprotes penggunaan nama Laksamana Ladi.
Mereka bukan sembarang protes. Pemberian nama jembatan yang seolah sebagai representasi kearifan lokal dipertanyakan muasalnya dan dinilali keliru.
Sebab nama itu bukanlah tokoh dan tidak tercatat dalam manuskrip sejarah Melayu, sehingga dianggap tidak layak menjadi representasi kearifan lokal.

Akhirnya, tanda huruf atau lettersign nama jembatan itu pun dicopot, begitu pula prasasti yang ditandatangani Muhammad Rudi, pada hari yang sama.
Tak lama kemudian, nama atau merek berbeda di markah jembatan itu muncul kembali, baik di banner maupun di tugu prasasti, dengan nama Flyover Sungai Ladi lengkap dengan tanda tangan Muhammad Rudi.
Berikut detail kronologi keunikan peristiwa ini:
- Awalnya direncanakan bernama Flyover Lela Bahari
- Saat diresmikan pada Selasa, 31 Desember 2024, dengan nama Flyover Laksamana Ladi
- Tugu prasasti mencantumkan nama, hari, bulan, dan tahun yang sama, lengkap dengan tanda tangan Kepala BP Batam, Muhammad Rudi
- Hari ke-3 setelah peresmian, Muhammad Rudi memutuskan pergantian nama menjadi Flyover Sungai Ladi
- Pada hari ke-4, tanda huruf merek jembatan dicopot, dan jembatan itu pun sempat tanpa nama selama beberapa hari
- Prasasti yang memuat nama dan tanda tangan Muhammad Rudi juga dicopot
- Kemudian, tiba-tiba muncul kembali merek Flyover Laksamana Ladi pada banner di atas tugu
- Batu marmer prasasti pun muncul kembali dengan nama Muhammad Rudi, namun tanpa tanda tangan
- Kini, pada Februari 2025, marmer prasasti itu sudah kembali bertanda tangan Muhammad Rudi, dengan mencantumkan hari, bulan, dan tahun yang sama saat peresmian 1,5 bulan sebelumnya, yakni 31 Desember 2024
- Terdapat dua prasasti yang ditandatangani di waktu berbeda meski hanya prasasti Flyover Sungai Ladi yang dipakai di sana
Tidak ada seremoni ulang atau proses sakral pergantian nama jembatan layang ini.
Kecuali momen peresmian pada 31 Desember 2024 itu, hingga Muhammad Rudi akan melepas jabatannya yang mentereng sebagai penguasa di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (KPBPB).
Mengapa? Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari BP Batam, sudah dilacak jejak website bpbatam.go.id.
Pantauan BatamNow.com, banyak warga menyayangkan kondisi dipapar di atas, bahkan beberapa menyebut penamaan jembatan layang itu seperti bermain sulap.
Jembatan dengan nama Flyover Laksamana Ladi yang diresmikan, namun nama yang kini terpampang adalah Flyover Sungai Ladi.
“Penggantian merek jembatan layang ini seharusnya dilakukan kembali lewat satu proses seremonial formal, namun terkesan seperti main sulap saja,” ujar Mahmudin, tokoh masyarakat di kawasan Jalan Gajah Mada.
“Unik memang, dan sedikit cacat dalam prosedur penamaannya yang semestinya sakral, namun terasa asam. Sepertinya BP Batam kurang profesional dalam mengemas insiden pemberian nama jembatan layang ini,” kata Ludin Admaja, pemerhati perkotaan setempat. (A/Red)

