BatamNow.com, Jakarta – Jack Ma seperti hilang ditelan Bumi setelah sejumlah masalah menghampiri dirinya akhir tahun lalu.
Sejak akhir Oktober 2020, tak ada yang tahu keberadaan pemilik Alibaba itu.
Ma diketahui juga tak hadir dalam final acara reality show yang dibintanginya yakni juri dalam program untuk wirausahawan pemula.
Final di bulan November itu akhirnya tetap berlangsung tanpa kehadirannya dan juga ia tak ikut serta dalam video promosi, dilansir CNBC, Sabtu (02/01/2021).
Ini cukup aneh sebab beberapa minggu sebelum final, Ma sempat mengunggah tweet di akun Twitternya jika tak sabar untuk bertemu dengan kontestan. Sejak saat itu tak ada aktivitas pria 56 tahun itu di akunnya, padahal dia cukup aktif di Twitter.
Hilangnya Ma menambah sejumlah masalah dan kesialan yang menimpa ayah tiga anak itu selama tahun 2020. Pertama adalah kegagalan Initial Public Offering (IPO) bagi induk usaha Alipay, Ant Group awal November.
Hal itu terjadi tak lama setelah Ma mengkritik kebijakan pemerintah China. Dia menyatakan yang dilakukan regulator setempat terlalu berhati-hati dan membuat inovasi jadi berkurang.
Bursa Hong Kong mengumumkan menghentikan sementara IPO Ant. Sebelumnya Bursa Saham Shanghai melakukan hal yang sama dengan alasan pelaporan transparansi.
Setelahnya Ma juga harus kembali terhantam kasus penyelidikan aktivitas dugaan monopoli yang dilakukan Alibaba Group. Ant Group juga diundang oleh pemerintah setempat untuk dibimbing menerapkan pengawasan keuangan, kompetisi yang ada dan melindungi hak serta kepentingan dari konsumen.
Pihak Ant menyebutkan sudah menerima undangan itu dan siap memenuhi permintaan pemerintah. Hal yang sama juga dikatakan Alibaba dan memastikan operasional perusahaan tetap berjalan normal.
Kekayaan Ma juga merosot hingga US$ 11 Miliar tahun lalu. Tahta jadi orang terkaya se-Asia harus direlakannya dan sekarang dia berada di peringkat 25 di Bloomberg Billionaires Index.
Ant Group Dianggapn Monopolistik
Menurut Dahlah Iskan dalam tulisannya di blog Disway, rumor Jack Ma pun mulai marak .
Dihubung-hubungkan pula dengan Donald Trump. Jack Ma termasuk tamu pertama-tama Trump setelah dilantik menjadi Presiden Amerika tahun 2016.
Lalu dihubungkan pula dengan sumbangan Jack Ma yang kurang besar kepada pemerintah. Semua pidato Presiden XI Jinping dianalisis. Adakah kalimat yang menunjukkan sinyal Jack Ma harus bagaimana. Itu karena beredar rumor penghentian go public tersebut atas perintah langsung presiden.
Ada satu kalimat yang bisa dihubungkan ke sana. Yakni: “Perlunya para pengusaha besar ikut mengabdi untuk kepentingan rakyat”.
Menurut Dahlan, perjalanan bisnis raksasa Jack Ma di Tiongkok akhirnya jelas: bagaimana nasib Jack Ma selanjutnya.
Ia diharuskan kembali ke bisnis awal: pelayanan pembayaran. Ia juga harus memecah grup perusahaannya yang baru: Ant Group. Yang dinilai sangat monopolistik.
Ma, dalam bahasa Mandarin, bisa diartikan kuda. Dan pemerintah Tiongkok kini memutuskan untuk mengendalikan kuda itu. Agar tidak meloncat ke mana-mana.
Dengan dibentuknya grup baru itu Jack Ma memang menguasai semua hajat hidup manusia (Disway: Semut Raksasa).
Dalam bahasa Mandarin ”ma” juga bisa berarti semut (蚂蚁-ma yi). Karena itu nama grup baru Jack Ma tersebut, dalam bahasa Inggris disebut Ant Group.
Tapi ”semut”-nya Jack Ma ini terlalu besar. Ia seperti bank yang merangkap asuransi, merangkap penjaminan, merangkap ekspedisi, merangkap leasing, merangkap underwriter merangkap notaris, merangkap kantor hukum, merangkap semuanya.
Dan semua itu bisa ia lakukan dengan satu alat: teknologi. Yakni teknologi gabungan antara kamera, telepon, internet, artificial intelligent dan big data.
”Ma” dalam bahasa Mandarin juga bisa berarti marah.
Pemerintah Tiongkok pun marah besar pada Jack Ma. Kemarahan itu dipicu oleh rencana Jack Ma membawa Ant Group masuk pasar modal di Hongkong. Yang akan mengeruk dana US$ 300 Miliar. Setara dengan rupiah sebesar…-hitung sendiri. Yang terbesar dalam sejarah go public di dunia.
Persiapan untuk itu sudah selesai. Semua perhitungan sudah dibuat. Ant Group juga sudah mengumumkannya. Media di seluruh dunia membicarakannya. Calon pembeli sahamnya sudah siap-siap. Uang sebanyak itu sudah di depan mata.
Dua hari lagi go public itu didaftarkan ke pasar modal. Tinggal menunggu satu izin dari dari pemerintah. Biasanya, di masa-masa lalu, itu bukan masalah.
Ternyata masalah. Tiba-tiba pemerintah pusat memerintahkan menunda go public itu. Tidak disebutkan alasannya. Dari pihak Jack Ma masih optimistis izin akan diberikan. Mungkin masih ada beberapa persyaratan yang harus dilengkapi.
Kemudian media di Tiongkok mengungkit sejarah lama: 1890-1910. Di kurun itu muncul pengusaha besar di Tiongkok –terkaya saat itu. Namanya: Zhang Jian.
Dengan kekayaannya itu Zhang mendirikan universitas keguruan –seperti IKIP– yang pertama di Tiongkok. Itu lantas menjadi role model di Tiongkok: setiap provinsi pasti punya ”Normal University”. Berkat Zhang Juan sebelum tahun 1900, Tiongkok sudah punya perguruan tinggi khusus untuk melahirkan guru.
Zhang Jian juga mendirikan universitas umum. Yang sampai sekarang masih menjadi salah satu universitas terbaik di Tiongkok. Yakni Fudan University, Shanghai.
Ia juga mendirikan museum di kota kelahirannya: Nantong, dekat Shanghai. Itulah museum pertama di Tiongkok.
Di zaman dulu, orang-orang terkaya Tiongkok selalu dikenal lewat filantropinya. Di Xiamen pun peninggalan seperti itu juga terjadi.
Ada juga yang menghubungkan dengan dosa Jack Ma. Yakni dianggap terlalu vokal. Terutama saat mengkritik sistem perbankan di Tiongkok.
Semua rumor itu akhirnya terjawab. Bukan karena itu. Melainkan karena Ant Group dianggap monopolistik. Sebanyak 800 juta orang hidupnya terikat di Ant Group. Itu dianggap membahayakan. Juga dianggap terlalu menguasai.
Jack Ma diminta kembali ke bisnis awal: Alipay adalah layanan sistem pembayaran. Harus hanya itu. Itu pun besarnya sudah bukan main. Dan Alibaba adalah perusahaan logistik.
Tentu, kini, Jack Ma, 56 tahun, mantan guru bahasa Inggris, bershio naga, pusing sekali. Pusingnya orang kaya raya. Mungkin rasanya berbeda.(*)

