BatamNow.com – Janji politik pasangan Wali Kota Batam dan Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad-Li Claudia Chandra, untuk mengoptimalkan pengembangan dan pelayanan air bersih (air minum) sebagai program prioritas nomor satu kini mendapat sorotan.
Pasalnya, sejumlah warga di beberapa wilayah Batam kembali mengeluhkan gangguan aliran air minum.
Warga Sagulung Empat Hari Kesulitan Mendapatkan Air
Hampir seluruh wilayah Kecamatan Sagulung dilaporkan mengalami gangguan aliran air minum. Kondisi tersebut disebut telah berlangsung selama empat hari.
Sejumlah warga bahkan mulai kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, memasak hingga kebutuhan air untuk anak-anak yang hendak bersekolah.
Warga Kavling Tunas, Kelurahan Sei Binti, Kecamatan Sagulung, Ambor, mengatakan gangguan aliran air membuat dirinya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air di rumah.
Kepada BatamNow.com, Ambor mengaku pada Sabtu (29/08/2026) pagi dirinya harus mengeluarkan Rp 36 ribu untuk membeli air minum dalam kemasan.
“Bayangkan saja, saya harus mengeluarkan uang keluar di pagi hari untuk kebutuhan mandi anak yang mau berangkat sekolah,” ujar Ambor.
Pengeluaran itu, kata dia, tidak berhenti pada pagi hari. Pada sore hari, dirinya kembali harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan yang sama.
Warga juga telah menunjuk koordinator untuk mengajukan permintaan bantuan air melalui mobil tangki kepada PT Air Batam Hilir (ABH).
Namun, hingga memasuki hari keempat gangguan, warga di lingkungan tempat tinggal Ambor mengaku belum mendapatkan bantuan air tangki.
“Kordinator kita juga sudah kelimpungan menghadapi desakan warga, sampai hari ini kita belum mendapat bantuan air tangki, meski sudah kita minta jauh-jauh hari,” katanya.
Pesantren Terpaksa Pulangkan Santri
Gangguan pasokan air juga berdampak terhadap aktivitas di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Boarding School yang berada di kawasan Tembesi, Sagulung.
Keterbatasan air disebut membuat pihak pesantren terpaksa memulangkan para santri dan santriwati.
“Tadi malam mereka dipulangkan, karena air di sana sudah sangat terbatas, makanya santri maupun santriwatinya terpaksa dipulangkan,” ujar Rudi, salah seorang wali murid.
Warga Antre Air di Kantor Lurah hingga Damkar
Kesulitan mendapatkan air juga membuat puluhan warga mendatangi Kantor Lurah Sei Binti sejak pagi.
Warga terlihat membawa ember, galon hingga jeriken untuk mendapatkan pasokan air. Antrean warga bahkan disebut mencapai ratusan meter.
Video warga yang mengantre air tersebut kemudian beredar di sejumlah WhatsApp Group warga Batam.
Dalam video tersebut terlihat warga menampung air dari sebuah pipa yang berada di depan gedung Kantor Lurah Sei Binti.
“Sama-sama kita saksikan bapak ibu, alangkah mirisnya kita lihat, kondisi masyarakat kita di Sungai Binti, yang mana Kota Batam begitu ‘WAH-nya’ tapi warga Sungai Binti, antre hanya untuk mengambil satu galon air,” ujar seorang warga yang merekam deretan galon mengantre.
Selain di Kantor Lurah Sei Binti, warga juga berbondong-bondong mendatangi Stasiun Pemadam Kebakaran Tanjung Uncang, Batuaji, untuk mendapatkan air.
Warga Bengkong Pertiwi Ikut Mengeluhkan Gangguan Air
Gangguan aliran air tidak hanya dirasakan warga Sagulung.
Warga Kelurahan Bengkong Pertiwi, Kecamatan Bengkong, RT 04/RW 13, juga mengeluhkan distribusi air yang tidak lancar.
Meski gangguan yang dirasakan warga Bengkong Pertiwi tidak separah di Sagulung, aliran air di wilayah tersebut juga beberapa kali mengalami gangguan.
Salah seorang warga mengatakan gangguan mulai terjadi sejak Minggu (23/08/2026).
Perwakilan warga kemudian melaporkan persoalan tersebut kepada BP Batam dan PT Air Batam Hilir (ABH). Setelah laporan disampaikan, warga sempat mendapatkan bantuan air melalui mobil tangki.
“Hari Minggu itu mati total, terus warga melaporkan masalah itu ke ABHi dan BP Batam, lalu dikirimkanlah bantuan mobil air tangki,” ujarnya.
Namun, pada Sabtu (29/08/2026), aliran air kembali mati total.
Warga mengaku telah kembali melaporkan kondisi tersebut kepada pihak terkait, tetapi hingga berita ini ditulis belum mendapatkan respons.
“Mati lagi air, bang, sejak sekira pukul 11.30 WIB lah, sampai sekarang belum juga hidup, udah dilaporkan ke ABHi tapi belum ada respons,” katanya.
Gangguan air yang terjadi di sejumlah wilayah tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi Batam, terlebih ketika pelayanan air minum menjadi salah satu program prioritas Amsakar-Li Claudia dan kota ini tengah bersiap menyambut investasi industri yang membutuhkan infrastruktur dasar, termasuk pasokan air yang andal.
Program optimalisasi pengembangan dan pelayanan air bersih (air minum) merupakan salah satu janji politik Amsakar-Li Claudia yang kini memimpin Kota Batam.
Namun, di tengah program tersebut, warga justru harus menghadapi persoalan distribusi air yang berdampak langsung terhadap kebutuhan sehari-hari.
Investasi Pusat Data dan AI Capai Ratusan Triliun
Persoalan ketersediaan air di Batam juga menjadi perhatian karena di sisi lain kota ini tengah gencar menarik investasi berskala besar, termasuk industri pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (AI).
Salah satu proyek yang digadang-gadang bakal menjadi bagian penting dari perkembangan ekonomi digital Batam adalah pembangunan NVIDIA DSX AI Factory.
NVIDIA bekerja sama dengan Firmus Technologies asal Australia dan DayOne dari Singapura untuk membangun fasilitas tersebut di Batam.
Proyek itu disebut memiliki kebutuhan daya hingga 360-450 megawatt (MW), menggunakan sekitar 170.000 chip AI, dengan nilai investasi yang diproyeksikan mencapai USD20 miliar hingga USD30 miliar atau sekitar Rp 300 triliun – Rp 500 triliun dalam enam tahun pertama.
Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Selain kebutuhan listrik yang besar, sistem pendingin pada fasilitas pusat data juga membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut membuat persoalan ketersediaan dan keandalan sistem penyediaan air minum menjadi semakin penting bagi Batam, baik untuk kebutuhan masyarakat maupun mendukung perkembangan industri. (A)

