BatamNow.com – Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Batam dr Didi Kusmarjadi mengatakan rapid test antibodi yang selama ini diterapkan mendeteksi Covid-19, relatif tidak berguna.
Menurut Ketua Bidang Kesehatan Tim Gugus Tugas Covid-19 Batam ini, diterapkannya rapid test antibodi karena belum ditemukan alat tes antigen.
Dia mengatakan sekarang alat rapid test antigen sudah ada dan sedang diterapkan secara massal. Alat medis ini lebih akurat dan tingkat sensitifitasnya tinggi, mencapai 90%.
Harganya juga relatif lebih murah dibandingkan dengan tes polymerase chain reaction (PCR).
Sebaiknya, kata Didi, bagi setiap pelaku perjalanan diwajibkan melakukan rapid test antigen guna membantu menekan penyebaran Covid-19.
Dijelaskan Didi, sejak munculnya virus Covid-19, alat tes PCR masih langka dan masih harus menunggu.
Penggunaan PCR yang mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri atau virus itu belum tersedia secara massal.
“Nah, rapid test antibodi itulah yang digunakan massal karena belum ada pilihan,” Didi menjelaskan.
Kata Didi, Pemerintah Pusat dan dunia tahu soal ini sebab mereka tak sedangkal itu pikirannya. Hanya saja pada saat itu tidak ada pilihan lain.
“Rapid test yang ada saat itu, ya rapid antibodi. Sementara rapid antigen belum berhasil dibuat,” kata Didi, Jumat (01/12/2021) ke BatamNow.com.
Kedepannya Didi berharap harga atau biaya tes antigen bisa lebih murah lagi seiring dengan semakin masif pula rapid antigen diproduksi di dunia.
Varian Baru Corona Sama dengan Covid-19
Didi juga menyinggung di salah satu media tentang varian baru virus corona yang muncul di sejumlah negara dan pertama di Inggris.
“Varian baru itu sama dengan Covid-19,” kata Didi.
“Varian baru itu mudah menular, tapi tingkat kematian sama dengan Covid-19 tidak lebih mematikan, Didi menambahkan.
Hampir senada dengan Didi, perhimpunan Virologi Italia mengatakan bahwa varian virus baru itu, ya, Corona (Covid-19).
Tapi, kata Arnaldo Caruso, Presiden Perhimpunan Virologi Italia, varian baru ini sangat mirip dengan strain mutasi virus di Inggris yang sudah beredar di Italia pada awal Agustus.
Varian di Italia disebut Arnaldo, menyebar berminggu-minggu sebelum kasus pertama strain Inggris diketahui dan menjadi pendahulu bagi mutasi virus di Inggris.
Tentang varian baru, sejauh ini kata Didi, pihaknya belum menerima petunjuk khusus dari pusat atau Kementerian Kesehatan terkait penanganannya.
Sedangkan penanganan pengobatan pasien Covid-19 di Kota Batam masih dilakukan seperti biasa.
Menurut Didi, obat anti virus yang digunakan saat ini belum spesifikasi membunuh Covid 19. Hanya menekan replikasi virus.
Terkait kebijakan Pemerintah Pusat yang menutup sementara pintu masuk Warga Negara Asing (WNA) ke Indonesia, dia nilai agak kurang pas.
“Kecuali ada yang kena (terpapar) virus itu dan mati, ada yang kena lagi, mati lagi. Tapi ini sama saja, jangan-jangan sudah ada di kita. Varian baru ini, kita tak dapat mendeteksi itu,” ucap Didi.
“Kalau di luar negeri pada saat PCR itu diteliti benar nggak jenisnya sama,” ucap Didi.
Sementara itu, bagi pengunjung yang masuk ke Batam masih dibolehkan menggunakan rapid test antibodi, sementara beberapa daerah sudah wajib tes antigen.
Untuk kebijakan ini, Didi agak kecewa karena usulannya untuk menerapkan rapid test antigen ditolak Pemerintah Provinsi Kepri saat rapat beberapa waktu lalu.
“Tapi sekarang orang sudah paham, rapid test antibodi itu kadang yang non-reaktif begitu dites swab hasilnya positif, begitu juga sebaliknya,” jelas Didi.(Panahatan)

