BatamNow.com – Sudah berkali dalam tahun ini banjir besar melanda beberapa kawasan perumahan dan industri serta bahu atau perempatan jalan di Batam.
Kondisi banjir imbas curah hujan, namun eksesnya sudah pada tingkat meresahkan dan merugikan masyarakat serta rentan akan ancaman keselamatan jiwa.
Ketinggian air yang meluap mencapai 1 meter lebih dan banyak rumah dan kendaraan menjadi korban.
Rumah warga tergenang air deras, mobil mengapung di mana-mana di titik banjir terparah.
Pengamatan sementara banjir yang semakin menjadi-jadi di Batam, juga diduga lebih diperparah oleh kondisi sistem drainase yang bermasalah.
Terjadi sumbatan lumpur di beberapa jaringan drainase, terbiarkan tak terurus sehingga kala hujan mengucur deras, sistem drainase yang ada tak mampu mengaliarkan cepat debit air hujan.
Soal sistem drainase yang buruk sebagai ‘biang kerok’ banjir juga diamini pemerhati kebijakan publik Kota Batam, sekaligus Direktur Eksekutif Batam Labour and Public Policies, Rikson Tampubolon.
Menurutnya, selain anomali cuaca akhir-akhir ini, banjir di Batam saat ini disebabkan oleh kombinasi drainase yang buruk, urbanisasi pesat tanpa perencanaan yang baik dan hilangnya daerah resapan.
“Untuk mengatasi masalah banjir, Batam membutuhkan perbaikan infrastruktur drainase, penegakan tata ruang yang ketat, dan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga lingkungan serta yang paling penting kepemimpinan yang kuat,” ujar Rikson, alumnus program magister perencanaan pembangunan di Universitas Sumatera Utara ini.

Kini masyarakat resah dan dibayang-bayangi ketakutan akan banjir, lalu banyak yang marah sebagaimana berbagai unggahan netizen di media sosial (medsos).
Umpatan kekesalan warga pun tak henti hingga menyasar Wali Kota Batam Muhammad Rudi ex-officio Kepala BP Batam yang kini tengah menjalani masa cuti kampanyenya sebagai Calon Gubernur Kepri di Pilkada 2024.
Banyak netizen berkomentar tajam di medsos, “Muhammad Rudi lagi asyik kampanye jadi lupa warganya tengah resah dilanda banjir”.
Dikutip dari berbagai narasi umpatan netizen di medsos ditambah pantauan langsung wartawan media ini di lapangan, warga meminta pertanggungjawaban Muhammad Rudi yang dinilai tak becus menangani pembangunan fisik di Batam sehingga jika hujan sebentar saja, banjir melanda.

Penelusuran BatamNow.com, di tengah keresahan warga atas datangnya banjir, upaya mitigasi reaksi cepat dari BP Batam, maupun Pemko Batam tak tampak di lapangan di saat warga membutuhkan mereka.
“Kami tak melihat ada tim reaksi cepat di lapangan untuk memitigasi hal-hal buruk yang dialami warga, para pejabat BP Batam maupun Pemko tampaknya tertidur pulas di kantor maupun di rumahnya kala hujan melanda,” kata Samidin, tokoh masyarakat Bengkong.
Lain lagi menurut Rotanu, tokoh masyarakat Batu Aji, mestinya di saat hujan lebat tim unit reaksi cepat dari BP Batam maupun Pemko Batam, harusnya di lapangan mengecek jaringan aliran drainase yang tersumbat apalagi yang sudah menjadi ‘langganan’.
“Selama banjir melanda di Batam, tim mitigasi reaksi cepat langsung turun di mana-mana melakukan mitigasi, di kota lain di Indonesia sudah biasa itu,” ujarnya.
Ketua DPP Kepri LI-Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Negara menyayangkan tidak pernah muncul dan kelihatan patroli tim reaksi cepat untuk melakukan mitigasi setiap terjadi banjir.
“Kami melihat di lapangan tak pernah ada tim reaksi cepat yang terjun memitigasi banjir itu, sepertinya semua pejabat dan jajarannya baik di BP Batam maupun di Pemko Batam, mengurung diri kesejukan saat hujan lebat melanda,” katanya.
Baik Kepala Biro Humas BP Batam, maupun Kadis Kominfo Pemko Batam tak merespons konfirmasi dan klarifikaisi wartawan media ini, manakala ditanya soal ada tidaknya Tim Rekasi Cepat Mitigasi Banjir di Batam. (red)

