Mewujudkan Mimpi Lama Membuat Pabrik Pesawat
Membawa dua proyek prestisus ke Batam, karena postur maupun bentuk proyek pesawat terbang ini baru pertama kali di Batam.
Proyek PT Pollux Properti Indonesia Tbk, misalnya. Bila kawasan superblock pencakar langit ini rampung, belum ada duanya di Batam.
Ini mengalahkan beberapa gedung pencakar langit lainnya di sini, untuk sementara ini. Baik dari ketinggian, jumlah kamar apartemen dan hotelnya.
Persis di perempatan Franky, Jalan Laksamana Bintan di Batam. Termegah, bukan saja di Batam, bahkan di Provinsi Kepri.
Semangat Tak Lelah
Tampak semangat dan tak lelah. Itulah kesan yang terlihat dari kiprah suami almarhumah Hj Hasri Ainun Besari atau Hasri Ainun ini.
“Gebrakan” baru kakek berusia 82 tahun ini, seakan menggenapi “mimpi“ lamanya.
Mimpi mewujudkan Bandara Hang Nadim (HN) Batam menjadi bandara hub di Asia Pasifik.
Kunjungan Habibie minggu ini, tak disia-siakan Kepala BP Batam Edy Putra Irwady.
Mantan Ketua Otorita Batam (OB) itu pun diajak melihat rencana proyek pengembangan Terminal 2 Bandara HN Batam.
Terminal bandara ini memang sudah berusia 25 tahun. Sementara usia bandara ini sudah 35 tahun.
Bandara, dibangun tahun 1984. Kapasitasnya, waktu itu, baru sekelas bandara perintis.
Lalu tahap peningkatan terminal dan utilitas bandara, dilakukan tahun 1994. Bandara ini menjadi bandara berkelas Internasional.
Inilah bandara termegah pada masanya di Indonesia, selain terminal bandara Soekarno-Hatta di Provinsi Banten.
Penampakan bandara ini sekarang, akhirnya masuk kategori tertinggal di banding beberapa bandara internasional lainnya di Indonesia.
Mimpi dan harapan Habibie, bandara ini akan disinggahi banyak pesawat komersil berbadan besar dari belahan dunia.
Sehingga standar landasan pacu sejak awal sudah disiapkan berstandar internasional, dengan panjang runway 4025 meter.
Itu peluang besar tiga dekade lalu di benak Habibie. Saat itu, bandara Internasional Dubai, Qatar dan Abu Dhabi di jazirah Arab, belum sehebat sekarang.
Potensi Batam memang sangat menjanjikan untuk itu. Misalnya, untuk pengsian avtur pesawat, harga bisa lebih irit di Batam.
Ketika itu, harga avtur lagi murah-murahnya di Indonesia.
Potensi bandara ini tadinya juga didukung fasilitas insentif bebas pajak karena status kwasan ini adalah bounded zone.
Visi menjadikan kawasan bandara HN Batam sebagai kawasan MRO, pun termasuk ide lama Habibie.
Besar visi dan niat tulus BJ Habibie semasa mengembangkan Batam.
Niat mengambangkan kawasan ekonomi di sini menjadi salah satu basis kekuatan ekonomi nasional.
Di tengah visi yang membuncah itu, Habibie, tentu tak luput dari kritikan berbagai pihak.
Banyak yang dipersoalkan dari aspek dan proses pembangunan Batam selama 20 tahun.
Sementara tak sedikit pula yang mengkritisi dana negara yang digelontorkan untuk membangun Batam. Sedangkan pengembangannya dinilai lambat.
Bahkan pers, pada masa itu, tak ketinggalan mengkritisi BJ Habibie.
“Batam antara Mimpi dengan Kenyataan”, demikian judul satu artikel yang ditulis media papan atas nasional, ketika itu. Tulisan tajam nan menukik itu yang sempat menghebohkan.
Menteri Keuangan era itu, Radius Prawiro, bicara keras merspon pendapat publik. Dia mulai menahan anggaran yang mengucur ke Batam.
Sejak awal, kawasan Batam memang didesain menjadi basis ekonomi yang bisa bersaing di kancah regional.
Tapi sampai Habibie naik ke tahta Presiden tahun 1998, masih banyak mimpi yang belum terwujud.
Kini BJ Habibie kembali lagi ke Batam.
Membawa misi yang bermasa depan. Hal yang paling seksi dan prestisius tentang pabrik pesawat terbang itu. (Red-1)
