BatamNow.com – Pihak keluarga mendiang Dewi Sartika Sitinjak (24 tahun) memutuskan meng-autopsi jenazah remaja putri yang meninggal usai menjalani operasi ambeien di Rumah Sakit Awal Bros Botania, Batam, Senin (10/08/2026).
Penasihat hukum keluarga Dewi Sartika, Jendris Sihombing, pun menyatakan akan menempuh proses hukum terkait kematian wanita tersebut. Keluarga menduga terdapat kelalaian atau malapraktik dalam penanganan medis terhadap Dewi.
Untuk mengungkap penyebab kematian, jenazah Dewi Sartika yang sebelumnya berada di RS Awal Bros Botania dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri pada Senin sore untuk menjalani autopsi.

Jendris mengatakan keputusan melakukan autopsi diambil setelah keluarga menemukan sejumlah hal yang dinilai janggal selama Dewi menjalani perawatan.
“Dari kemarin kami juga sudah menduga banyak kejanggalan-kejanggalan di sini, dan kelalaian-kelalaian daripada dokter ataupun perawat banyak di sini,” ujar Jendris kepada wartawan di RS Awal Bros Botania.
“Dan ada satu lagi obat yang disuntikkan itu sehingga membuat dia kejang-kejang itu, enggak tahu kita mau obat seperti apa itu. Jadi kesepakatan daripada pihak keluarga orang tua daripada Dewi Sartika ini beserta punguan Toga Sitinjak sedunia bersepakat untuk menyerahkan ini ke proses hukum,” lanjutnya.
@batamnow Duka mendalam menyelimuti keluarga Dewi Sartika Sitinjak (24 tahun), perempuan muda asal Batam yang meninggal dunia setelah menjalani operasi ambeien di Rumah Sakit (RS) Awal Bros Botania, Kota Batam. Dewi mengembuskan napas terakhir pada Senin (10/08/2026), sekira pukul 14.20 WIB setelah sempat menjalani perawatan intensif dalam kondisi kritis pascaoperasi. Dewi diketahui masuk ke RS Awal Bros Botania pada Senin (27/07/2026) untuk menjalani perawatan sekaligus persiapan operasi ambeien. Sehari kemudian, Selasa (28/07), Dewi menjalani tindakan operasi. Teman pria yang mendampinginya di RS Awal Bros Botania, Ando Jaya, mengaku bahwa kondisi Dewi sempat membaik setelah operasi. Bahkan, Dewi disebut masih dapat makan dan melakukan video call dengan keluarganya. “Dewi Sartika Sitinjak selesai operasi pukul 21.30 WIB dan masuk ruang rawat inap sekitar pukul 23.30. Perawat datang untuk melakukan suntik, katanya itu untuk pereda nyeri, radang dan pendarahan,” ujar Ando saat ditemui di lorong ICU/ICCU, RS Awal Bros Botania, Senin (10/08). Namun, kondisi Dewi disebut mulai memburuk setelah mendapatkan sejumlah obat. Ando mengatakan Dewi menerima tiga dosis obat, dua di antaranya diberikan melalui suntikan dan satu dosis melalui infus. Setelah pemberian obat tersebut, Dewi disebut mengalami keluhan sesak dan nyeri. Kondisinya kemudian semakin memburuk hingga mengalami kejang dan kehilangan kesadaran. “Setelah suntikan pertama, Dewi Sudah mengeluh ke suster. Namun jawaban suster mengatakan ‘Bentar aja itu kak, itu reaksi obat saja’,” kata Ando. Namun kemudian, mahasiswi jurusan Akuntansi Universitas Terbuka yang akan wisuda pada Februari 2027 itu, kini telah meninggal dunia. “Dewi juga mahasiswa di Universitas Terbuka jurusan Akuntansi. Bulan dua tahun depan dia wisuda, dan kami juga sudah berencana akan menikah bulan lima tahun depan,” ujar Ando dengan nada sedih. Semasa hidup, Dewi tinggal di Dormitori Blok Q. Ia telah 6 tahun bekerja di PT Yageo yang dulunya merupakan PT Schneider. Jenazahnya kini dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri. Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pihak RS Awal Bros Botania terkait kondisi medis Dewi, penanganan pascaoperasi, maupun penyebab meninggalnya pasien tersebut. Sementara ketika coba mengkonfirmasi kepada manajemen di RS Awal Bros Botania, pihak security mengatakan pihak manajemen belum bersedia diwawancarai. Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #fyp #batamtiktok #batamhits ♬ original sound – BatamNow.com
Soroti Kondisi Ventilator
Dewi diketahui masuk ke RS Awal Bros Botania pada Senin (27/07/2026) untuk menjalani perawatan sekaligus persiapan operasi ambeien.
Sehari kemudian, Selasa (28/07), Dewi menjalani tindakan operasi.
Salah satu dugaan kejanggalan yang disoroti keluarga adalah kejadian pada Sabtu (08/08/2026) sekitar pukul 21.30 WIB.
Saat itu, keluarga disebut mendapat izin dari dokter bernama Putra untuk membesuk Dewi Sartika yang sedang menjalani perawatan di ruang ICU.
Namun, ketika berada di dalam ruangan, keluarga mendapati kondisi ventilator yang disebut dalam keadaan terbuka dan selangnya tidak terhubung.
Kondisi tersebut kemudian dipertanyakan keluarga kepada dokter dan perawat yang berada di lokasi.
“Keluarga mempertanyakan kepada dokter Putra dan perawat, kenapa selang ventilator bisa terbuka. Dokter tersebut bingung dan tidak bisa menjawab apa-apa,” kata Jendris.
Jendris juga menyampaikan dugaan keluarga bahwa Dewi Sartika telah meninggal dunia pada Sabtu (08/08).
Dugaan tersebut, menurutnya, diperkuat dengan adanya dokumen dari rumah sakit yang sempat mencantumkan tanggal kematian Dewi pada 8 Agustus 2026.
“Dan terbukti juga Tuhan itu baik, Tuhan itu baik. Dan tadi juga setelah tanda tangan terima surat dari pihak rumah sakit untuk membawa jenazah ini, ada di sana kami dapati tanggal 8 keterangan meninggal dan kami pertanyakan ini kenapa ini tanggal 8,” ungkapnya.
Menurut Jendris, dokumen tersebut kemudian diganti oleh pihak rumah sakit. Namun, ia mengaku masih menyimpan salinan dokumen yang mencantumkan tanggal 8 Agustus sebagai tanggal kematian.
Saat ditanya mengenai alasan perubahan tanggal tersebut, Jendris mengaku tidak memperoleh penjelasan dari pihak rumah sakit.
“Tidak ada alasan,” tegasnya.
Keluarga Belum Dapatkan Salinan Rekam Medis
Selain persoalan tanggal kematian, keluarga juga mengaku belum mendapatkan penjelasan secara rinci mengenai penyebab Dewi Sartika meninggal dunia.
Jendris mengatakan pihak keluarga hanya menerima resume medis yang dinilai sulit dipahami tanpa penjelasan medis yang memadai.
“Sejauh ini tidak ada disampaikan penyebab meninggalnya itu, tidak ada. Cuma hasil daripada resume medis sudah disampaikan kepada keluarga dan kita nggak paham itu seperti apa membaca hasil resume-nya itu,” jelasnya.
Jendris juga mengaku telah meminta salinan rekam medis Dewi Sartika kepada pihak rumah sakit. Namun, permintaan tersebut belum dipenuhi.
“Tadi kami meminta salinan rekam medis, tidak diberikan oleh pihak rumah sakit,” katanya.
Ia bahkan meminta pihak rumah sakit membuat surat resmi apabila keluarga memang tidak berhak memperoleh salinan rekam medis tersebut. “Tetapi mereka tidak ada menjawab satu pun. Tidak ada surat penolakannya,” ungkap Jendris.
Menurut Jendris, pihak rumah sakit kemudian menyampaikan bahwa permintaan salinan rekam medis akan dibahas secara internal. Keluarga juga disebut diminta mengajukan permohonan secara tertulis.
Namun, keluarga memilih tidak memperpanjang proses tersebut karena ingin segera membawa jenazah Dewi Sartika ke RS Bhayangkara Polda Kepri untuk menjalani autopsi.
Autopsi untuk Ungkap Penyebab Kematian
Jendris berharap proses autopsi dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab kematian Dewi Sartika sekaligus menjadi bagian dari proses hukum yang akan ditempuh keluarga.
“Setelah nanti selesai autopsi, rencana akan membawa jenazah Dewi Sartika Sitinjak dipulangkan ke kampung halamanya di Samosir,” pungkasnya.
Diebritakan, sebelum meninggal dunia, Dewi disebut masih sempat bisa makan dan melakukan video call dengan keluarganya.
Namun, kondisi Dewi disebut mulai memburuk setelah mendapatkan sejumlah obat.
Teman pria yang mendampinginya di RS Awal Bros Botania, Ando Jaya mengatakan Dewi menerima tiga dosis obat, dua di antaranya diberikan melalui suntikan dan satu dosis melalui infus.
Setelah pemberian obat tersebut, Dewi disebut mengalami keluhan sesak dan nyeri. Kondisinya kemudian semakin memburuk hingga mengalami kejang dan kehilangan kesadaran.
“Setelah suntikan pertama, Dewi Sudah mengeluh ke suster. Namun jawaban suster mengatakan ‘Bentar aja itu kak, itu reaksi obat saja’,” kata Ando.
Namun kemudian, mahasiswi jurusan Akuntansi Universitas Terbuka yang akan wisuda pada Februari 2027 nanti, kini telah meninggal dunia.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari pihak RS Awal Bros Botania terkait kondisi medis Dewi, penanganan pascaoperasi, maupun penyebab meninggalnya pasien tersebut.
Dugaan kelalaian atau malapraktik masih merupakan pernyataan dari pihak keluarga.
Sementara ketika coba mengkonfirmasi kepada manajemen di RS Awal Bros Botania, pihak security mengatakan pihak manajemen belum bersedia diwawancarai. (H)
