BatamNow.com – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Batam mencapai 9,56 persen. Tertinggi se-Kepulauan Riau (Kepri).
Sementara TPT Kepri 8,23 persen, nomor 2 se-Indonesia. Peringkat pertama Jawa Barat dengan 8,31 persen.
Namun sebaliknya, khusus pekerja untuk galangan kapal (shipyard) di Batam kini kekurangan bahkan kesulitan mencarinya, khususnya yang ber-skill di bidang welder (tukang las).
Penelusuran BatamNow.com kini banyak pekerja shipyard yang ber-skill memilih Korea Selatan (Korsel). Negeri Ginseng itu kekinian membutuhkan 60 ribu pekerja welder dari Indonesia.
Belum lama ini pemerintah Indonesia dengan Korsel meyepakati kerja sama pengiriman tenaga kerja shipyard ke Korsel.
Kerja sama G to G atau pemerintah dengan pemerintah atau P to P atau perorangan dengan perorangan telah berjalan.
Tampaknya upah di Korsel menjadi pemicu utama. Imbasnya pekerja shipyard bersertifikat yang memiliki kemampuan di bidangnya ramai-ramai memilih Korsel.
Ini sekaligus warning yang menakutkan bagi pengusaha shipyard di Batam yang baru mulai bangkit kembali.
Berkata kepada media, Hengky Suryawan pemilik PT Bahtera Bestari Shipyard (BBS) Batam menyebut terjadi kesulitan merekrut 20 ribu tenaga kerja (naker) shipyard skill welder untuk seluruh shipyard di Batam.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Kadisnaker) Kota Batam Rudi Sakyakirti membenarkan. “Ya seperti itu,” jawabnya.
Ia katakan di Job Fair Batam 2022, hanya 400 lamaran yang masuk ke meja PT SMOE. “Hanya perusahaan itu pula yang ikut bursa dari perusahaan shipyard,” ujar Rudi.
Menurutnya 400 itu baru lamaran masuk. Kemudian akan diseleksi oleh bagian SDM perusahaan. “Kita belum tahu berapa orang yang bisa diterima setelah dilakukan tes skill para pelamar dan di shipyard di Batam umumnya membutuhkan welder maupun fitter,” ujarnya.
Ditanya tentang masifnya pekerja shipyard yang cenderung mengejar gaji besar ke Korsel, Rudi tak membantahnya.
Tapi, ucapnya, satu faktor lain langkanya naker shipyard skil di Batam, tak terpisahkan dari kondisi tahun 2017 – 2019.
Kala itu, sebut Rudi, geliat perusahaan shipyard di Batam, drop. Imbasnya banyak para pekerja galangan yang balik kampung atau pindah ke daerah lain di Indonesia dengan pekerjaan bidang lainnya.

Catatan BatamNow.com, puluhan bahkan seratusan ribu naker shipyard meninggalkan Batam saat itu. Itu ihwal perusahaan pabrikasi kapal tutup masif dalam kurun waktu tiga tahun.
Pemicunya adalah perusahaan shipyard sepi produksi atau orderan dari luar negeri. Kemudian bersambung pada kondisi Covid-19 yang gonjang-ganjing lebih dari dua tahun.
Gaji Welder di Korsel Kisaran Rp 50 Juta
Beberapa warga Batam eks pekerja shipyard di Korsel maupun Taiwan membenarkan gaji seorang pekerja shipyard khususnya skill welder bersertifikat jauh lebih menjanjikan dibanding di Batam.
“Beda jauhlah, di Korsel ada yang mencapai KRW 4.300.000,” akunya.
Jika dirupiahkan mencapai Rp 50 juta dengan kurs rata-rata Rp 11,75 per 1 KRW (Korea Won).
Sementara di Batam, kekinian, gaji seorang welder hanya rerata Rp 6,5 juta.
Di Korsel, menurut mereka, kini meningkat tajam industri shipyard: pembuatan kapal. Misalnya di PT Hyundai milik Korea Selatan.
“Kita tak tahu perusahaan di sana mengerjakan orderan negara mana saja lagi, tapi negara itu butuh banyak tenaga di bidang welder,” jelas mereka.
Lalu apa solusi ke depan oleh Pemko maupun BP Batam untuk mengatasi kekurangan naker shipyard di Batam?
Apakah kiamat naker shipyard di Batam?
Rudi belum memberi jawaban konkret. Tapi ia katakan kondisi kekinian menjadi PR bersama bagi para stakeholder di Batam. ”Solusi jangka panjang mesti menghidupkan kembali Balai Latihan Kerja [BLK],” katanya.
BLK ini, ujarnya, akan melatih para calon pekerja di shipyard yang setelah selesai baru dipekerjakan.
Dilansir dari berbagai sumber, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Korea Selatan Gandi Sulistiyanto membenarkan, kerja sama antara Indonesia dan Korsel akan menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Salah satu jenis pekerjaan yang banyak dibutuhkan adalah tenaga las (welder).
Bukan saja welder, tapi pada bidang lain juga Korsel sangat membutuhkan pekerja migran Indonesia (PMI). (red)
Inilah perbandingan gaji rata-rata PMI di Korea Selatan berdasarkan kota dikutip dari berbagai sumber
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Seongnam: 3.670.000 KRW setara Rp 43,1 juta
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Busan: 4.290.000 KRW (Rp 50,3 juta)
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Daegu: 4.130.000 KRW (Rp 48,5 juta)
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Daejeon: 4.060.000 KRW (Rp 47,6 juta)
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Goyang: 3.760.000 KRW (Rp 44,1 juta)
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Gwangju: 3.980.000 KRW (Rp 46,7 juta)
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Incheon: 4.210.000 KRW (Rp 49,4 juta)
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Seoul: 4.360.000 KRW (Rp 51,2 juta)
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Suweon: 3.910.000 KRW (Rp 45,9 juta)
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Ulsan: 3.840.000 KRW (Rp 45,1 juta)
- Gaji PMI Korea Selatan 2022 di Bucheon: 3.600.000 KRW (Rp 42,2 juta).


Welder harian di yg uncang 18-20 ribu per jam
Capek nya minta ampun!!!!!!!!!!
Sepatu beli sendiri baju beli sendiri helm bawa sendiri
Hadehhhhhh mana pemerintah manaaaaaaaaa
Saya 15 tahun sebagai welder merasa sangat sedih dengen sistem kerja di galangan kapal tg uncang!!!!
Kerja bikin kapal tpi upah kayak kuli bangunan