BatamNow.com – Bum bum (bukan nama sebenarnya), seorang penyintas tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Kamboja, memabgikan kisahnya dalam Diskusi Hari Anti TPPO 2026 di Batam.
Diskusi publik dengan tema “Sampai Semua Bebas” itu digelar oleh Yayasan Integritas Justitia Madani Indonesia (IJMI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Batam yang didukung Tribun Batam, di Batu Ampar, Sabtu (25/07/2026).
Bum bum menuturkan, niat awalnya adalah mencari pekerjaan layak untuk membantu perekonomian keluarga.
Ia mengaku direkrut pada tahun 2024, dengan iming-iming pekerjaan sebagai welder di Taiwan, tetapi berakhir disekap di Kamboja, disiksa, dan dipaksa menjadi pelaku penipuan daring (scammer) selama berbulan-bulan.
Bum Bum mengaku nekat mencari pekerjaan di luar negeri karena kontraknya sebagai welder telah berakhir, sementara kebutuhan ekonomi keluarga terus mendesak.
“Semuanya karena ekonomi. Saat itu saya tidak bekerja dan punya banyak tanggungan. Awalnya saya memang mau kerja ke Taiwan sebagai welder,” ujarnya.
Ia mengisahkan sempat mengikuti tes kemampuan las melalui sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja. Namun beberapa hari kemudian, ia diberi tahu bahwa proyek keberangkatan ke Taiwan dibatalkan.
Tak lama setelah itu, saat mencari lowongan kerja melalui Facebook, ia menemukan tawaran pekerjaan lain yang juga mengaku membuka kesempatan bekerja di Taiwan. Orang yang menghubunginya bahkan mengetahui bahwa dirinya sebelumnya telah mengikuti tes welder.
Pelaku kemudian meyakinkannya bahwa seluruh proses administrasi telah selesai sehingga ia hanya perlu berangkat. Seluruh biaya perjalanan, termasuk tiket, disebut akan ditanggung.
Bum Bum diminta berangkat dari Batam menuju Singapura. Saat tiba di Pelabuhan Batam Centre, pelaku mentransfer uang untuk membeli tiket feri pulang-pergi dengan alasan agar tidak menimbulkan kecurigaan petugas imigrasi.
Setelah tiba di Singapura, tiket pesawat juga dikirimkan oleh pelaku. Karena tidak mengetahui nama bandara di Taiwan, ia mengira penerbangan tersebut memang menuju negara itu.
“Saya tidak tahu nama bandara di Taiwan. Saya kira nama bandara itu memang di Taiwan. Saya tidak curiga sama sekali,” katanya.
Kecurigaan baru muncul setelah pesawat mendarat. Awalnya ia masih mengira telah tiba di Taiwan, tetapi tulisan-tulisan di bandara membuatnya sadar bahwa dirinya berada di negara lain.
Setelah keluar dari bandara, Bum Bum dijemput seseorang dan dibawa menggunakan mobil bersama dua orang lainnya.
“Di dalam mobil ada dua orang lain Saya kira itu teman yang sama sama berangkat. Saya disuruh duduk di tengah di antara mereka yang saya kira orang Indonesia,” jelasnya.
Namun setelah beberapa saat, ia mengetahui bahwa penumpang lainnya tidak berbahasa Indonesia.
“Karena tidak mengerti bahasanya, saya tertidur, pas saya bangun masih dalam perjalanan tiba tiba saya dibekap, saya berontak, lalu tidak sadar. Bangun-bangun saya sudah berada di ruangan isolasi, tangan diborgol,” tuturnya.
Sejak saat itu, ia mengaku mengalami penyiksaan hampir setiap hari. Ia dipukul, ditendang, disiram air, hingga disetrum oleh pria yang diduga merupakan warga negara Tiongkok.
Beberapa hari kemudian, ia dipaksa bekerja dan disebut sebagai admin toko online.
Namun setelah membaca naskah pekerjaan yang harus dijalankan, Bum Bum menyadari pekerjaan tersebut merupakan praktik penipuan daring (online scam).
“Saya bilang ini penipuan, saya tidak mau. Saya melamar kemarin kerja sebagai welder,” ujarnya.

Terpaksa Bekerja, Lalu Cari Cara Melarikan diri
Penolakan tersebut membuatnya kembali dimasukkan ke ruang isolasi dan mengalami penyiksaan yang lebih berat selama hampir dua minggu. Karena tidak sanggup lagi menahan siksaan, ia akhirnya terpaksa mengikuti perintah para pelaku.
Selama sekitar sembilan bulan, Bum Bum bekerja sebagai scammer sambil diam-diam mencari cara untuk melarikan diri. Seusai bekerja, ia berpura-pura lembur agar dapat menggunakan komputer untuk mencari bantuan.
Dari situlah ia menemukan situs Peduli WNI dan mengirimkan laporan. Namun proses tindak lanjut berlangsung cukup lama hingga akhirnya muncul harapan ketika seorang warga Indonesia yang telah lama bekerja sebagai scammer di Kamboja mengajak para korban melapor ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
“Ada orang Indonesia baru masuk lagi, tapi dia sudah 17 tahun kerja sebagai scammer di Kamboja. Karena dia tidak tahan melihat kami disiksa, dia mengajak kami membuat laporan ke KBRI,” terang Bum bum.
Dua bulan setelah laporan dikirim, KBRI berkoordinasi dengan kepolisian setempat untuk mengevakuasi para korban. Bum Bum bersama 15 warga negara Indonesia lainnya akhirnya berhasil dibebaskan.
“Karena ketahuan mau dijemput, kami dipukuli lagi sebelum keluar dari perusahaan,” ungkapnya.
Usai dibebaskan, Bum Bum masih harus menjalani proses deportasi karena berstatus overstay. Selama menunggu pemulangan ke Indonesia, ia mengaku tidur di emperan sekitar KBRI dan bertahan berkat bantuan warga sekitar.
Setelah kembali ke Tanah Air, Bum Bum mencoba melaporkan kasus tersebut ke Polda Kepulauan Riau (Kepri). Namun proses hukum terkendala karena seluruh jejak komunikasi di telepon genggamnya telah dihapus oleh sindikat.
“Pada saat di Kamboja, handphone disita, akun Facebook, WhatsApp semuanya dihapus. Jadi bukti-buktinya hilang,” katanya.
Bum Bum: Jangan Tergiur, Jangan Ada Lagi Korban
Dari pengalaman pahit itu, Bum Bum mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan di luar negeri yang beredar melalui media sosial.
“Jangan gampang percaya, meski yang menawarkan teman, kerabat atau saudara. Sindikat ini sangat rapi,” pesannya.
Informasi yang diketahuinya, ada imbalan hingga ribuan dolar kepada perekrut yang bahkan bisa berpura-pura menjadi teman atau kenalan di sekitar kita.
Ia pun mengungkapan bahwa tak ingin pengalaman buruk yang menimpanya itu terjadi kepada orang lain.
“Kita dijual sampai ribuan dolar per orang. Saya tidak ingin ada lagi korban seperti saya,” pesannya. (H)

