BatamNow.com – Belum tampak pembenahan lingkungan di luar pagar Gardu Induk (GI) PLN 150 kV di Sei Harapan, Sekupang, Batam, hingga Minggu (25/10/2026), atau 13 hari setelah blackout yang melumpuhkan pasokan listrik Batam dan Bintan.

Pantauan BatamNow.com di lokasi menunjukkan lingkungan sekitar pagar tampak masih semrawut.
Tumpukan kabel di galian tanah yang menganga, sampah berserakan, pamflet pemberitahuan yang lusuh dan terkoyak, serta pepohonan yang rapat ke pagar terlihat di kawasan tersebut.

Kabel Menumpuk di Tepi Jalan
Di sisi barat kawasan GI, Setara seluas lapangan sepak bola, kondisi lingkungan terlihat kurang terawat.
Sekitar 20 bentangan kabel berukuran sedang hingga besar tampak menumpuk di tepi jalan menuju pintu masuk gardu.
Sejumlah bagian kabel terlihat terbuka di dalam galian yang belum ditutup, sementara beberapa bagian sambungannya tampak terkelupas.

Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan orang yang melintas atau beraktivitas di sekitar lokasi. Namun, fungsi kabel, status pekerjaan, dan tingkat risikonya belum dikonfirmasi oleh PLN Batam.
Di jalan umum Sungai Harapan menuju Batu Aji, terdapat akses jalan kecil menuju kawasan permukiman yang melewati jalur dekat pintu masuk GI.
Lokasi kabel tersebut pun berada di sekitar akses yang digunakan masyarakat hendak memasuki permukiman rumah tak resmi.
Di sisi lain, sampah masih berserakan di sekitar pagar. Pamflet pemberitahuan yang menempel di kawasan itu juga terlihat lusuh dan sebagian terkoyak.
Pepohonan tumbuh rapat di dekat pagar dan belum terlihat dipangkas. Sementara itu, pagar kawat dan tembok pembatas kawasan hanya sekitar dua meter.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kecukupan pengamanan di sekitar instalasi kelistrikan vital, terutama untuk mengantisipasi masuknya hewan liar seperti monyet atau kera ke area gardu.

Pasca-blackout, Pembenahan Belum Terlihat
Sorotan terhadap pengamanan GI Sungai Harapan menguat setelah Bareskrim Polri mengungkap dugaan monyet naik ke Trafo 1 dan memicu hubungan arus pendek yang berujung pada blackout Batam dan Bintan, 12 Oktober 2026.
Dalam konferensi pers di Mapolda Kepri, Selasa (20/10), penyidik mengumumkan penetapan lima tersangka, terdiri atas empat petugas PLN Batam dan seorang pihak kontraktor.
Namun, hingga Minggu (25/10/2026), belum terlihat pekerjaan pembenahan lingkungan luar pagar, termasuk penataan kawasan, pemangkasan pepohonan, maupun penutupan galian kabel.
Saat tim redaksi BatamNow.com meninjau lokasi, seorang petugas pengamanan terlihat berkeliling menggunakan sepeda motor, sedangkan seorang petugas lainnya berada di pos penjagaan dekat pintu masuk.
GI tersebut berjarak belasan meter dari jalan umum Sungai Harapan menuju Batu Aji. Dengan posisi yang dekat dengan jalur aktivitas masyarakat, kondisi lingkungan di luar pagar juga perlu mendapat perhatian.
Aneh memang, belum diketahui mengapa hingga hari ke 13 belum tampak pembenahan keamanan GI dari ganguan hewan liar yang rawan masuk ke kawasan.
Apakah PLN Batam telah merencanakan perbaikan pagar dan penataan lingkungan kawasan GI tersebut pasca-blackout.
Manager Komunikasi PLN Batam, Yoga Perdana Sulastama, belum memberikan penjelasan mengenai tindak lanjut pengamanan, kondisi kabel yang menumpuk, serta rencana pembenahan lingkungan di sekitar gardu.
Kondisi ini menyisakan pertanyaan mengenai evaluasi pengamanan infrastruktur kelistrikan vital setelah blackout yang berdampak luas terhadap masyarakat Batam dan Bintan. (A/Red)

