BatamNow – Di acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (20/10) malam bertajuk “Setahun Jokowi-Ma’ruf: Dari Pandemi Sampai Demonstrasi” salah satu yang diundang hadir Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD.
Di situ Mahfud diberi sesi terakhir dan sekaligus sebagai pemberi closing statement.
Seperti biasanya sang profesor hukum ini tak canggung-canggung dan sangat logis kalau bicara. Kadang membuat lawan diskusinya “keok”.
Rizal Ramli terlebih dulu meninggalkan acara, sebelum giliran Mahfud.
Mahfud pun banyak bicara, khususnya soal serangan-serangan ke Presiden Jokowi.
Menteri asal Madura ini pun menangkis isu-isu itu dengan mengetengahkan fakta-fakta yang sebagian dikutip dalam tulisan ini:
Pertama, soal tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi.
Survei tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja Presiden Jokowi yang menyebut hanya berada di angka 50%.
Menurut Mahfud MD perlu diperhatikan bahwa tingkat kepuasan dan tingkat kepercayaan itu beda. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi masih di angka hampir 70%, yang artinya masih baik.
Kalau ada ketidakpuasan itu pasti wajar. Memang masih banyak yang perlu dibenahi. Misal di lembaga yudikatif, yang berdasarkan undang-undang tidak dapat diintervensi oleh lembaga eksekutif (presiden).
Namun, ada pula kinerja pemerintah di bidang hukum yang diapresiasi oleh publik, seperti penangkapan Joko Tjandra. Lalu ada 2 jenderal dan jaksa yang jadi tersangka.
Kedua, siapa pun presidennya, tidak akan lepas dari tudingan tidak mengerti Pancasila atau anti-Pancasila.
Mahfud MD memberikan contoh-contoh dari Presiden Soekarno hingga SBY.
“Bahkan jika nanti Gatot atau Rizal Ramli jadi presiden, pasti banyak orang yang akan melemparkan tuduhan serupa, anti-Pancasila,” ujarnya.
Ketiga, konsekuensi demokrasi menyebabkan pemerintah/ presiden tidak dapat mengintervensi lembaga lain seperti legislatif dan yudikatif.
Contoh ketika ada yang protes, “loh kok orang ini dibebaskan oleh MA atau kok DPR bikin undang undang begitu?”
Presiden tidak bisa mengintervensi. Tapi justru ketidakpuasan malah diarahkan ke pemerintah/ presiden. Kalau mau semua diatur presiden, ya balik lah ke pemerintahan otoriter.
Nah, di antara pemaparan tegas dan keras oleh Mahfud MD, sentilan ke Amien Rais, Gatot dan SBY pun dilontarkannya.
Berkaitan dengan kritik yang menganggap Jokowi tidak bisa memimpin, yang kerap disebutkan oleh Amien Rais maupun Gatot, inilah jawaban Mahfud :
“Meskipun ideal sebelum memimpin, sesudah memimpin pun dapat dikatakan tidak bisa berbuat apa-apa di luar bidangnya.”
“Pak Gatot pernah menjadi panglima, mana komunisnya tidak ditangkap? Tapi sekarang berbicara komunis.”
“Loh, bener kan”? kata Mahfud.
Lalu Mahfud melanjutkan, Amien Rais tidak pernah berhenti menghujat Presiden Jokowi, hingga dibikin satu buku.
Tapi Amien Rais tidak pernah bercermin pada dirinya sendiri, ketika dia jadi pejabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), waktu itu.
“Pak Amien Rais, hebat, lokomotif demokrasi. Tapi apa bisa dia mengubah Indonesia selama dia menjadi ketua lembaga tertinggi negara”?
“Korupsi masih banyak, krona-kroni masih banyak, padahal ketua MPR nya waktu itu lembaga tertingginya Amien Rais.”
Lalu tentang SBY?
“Yang membuat UU ITE Pak SBY. Pada waktu itu UU nomor 11 tahun 2008 dikeluarkan karena terlalu banyak hoaks, dia (SBY, red) diserang habis-habisan tak berdaya gimana sih caranya, buat Undang-Undangnya.”
“Sekarang mau dipakai kok dimarahi”.
Menurut Mahfud tidak lah adil untuk menyalahkan pemerintahan Jokowi saja yang menggunakan UU ITE dalam beberapa penangkapan para pengacau.
“Toh buktinya ada. Yang baper siapa yang disalahkan siapa, ya nggak? Sama saja sih dengan narasi yang menyebut pemerintah SBY tidak pernah memenjarakan orang-orang yang mengkritiknya. Ketika ditelusuri sejarahnya, jejak digitalnya, ada kok yang kena hukuman.”
“Din Syamsuddin, dia pernah berkuasa, menjadi Dirjen. Apa yang dia perbaiki saat itu?”
“Rizal Ramli? Sama,” ujar Mahfud.
“Saya pengen tahu siapa orang yang bisa selesaikan masalah di negeri ini. Enggak ada,” kata dia lagi. Dan semua diam.(*)
Tim News Room BatamNow

