BatamNow.com – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, kembali menegaskan dukungannya terhadap keberadaan lapangan golf di Batam saat membuka Tournament Golf Hari Jadi Batam (HJB) ke-196 pada 30 November 2025.
Di hadapan peserta, Amsakar memuji lapangan golf dan menegaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam akan selalu mendukung aktivitas masyarakat yang mampu mendorong pertumbuhan pariwisata dan investasi.
Namun, di balik dukungan tersebut, Pemko Batam justru tertutup saat ditanya redaksi media ini berapa kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari tujuh lapangan golf komersial yang menguasai paling tidak sekitar 900 hektare (Ha) lahan.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Batam, Raja Azmansyah, belum memberikan jawaban, hingga sekarang saat ditanya pada Mei lalu.
Amsakar Puji Lapangan Golf Sebagai Penggerak Ekonomi
Dalam sambutannya saat membuka turnamen golf HJB ke-196 di Palm Springs Golf & Country Club dan Batam Island Country Club, Amsakar menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan golf dan keberadaan lapangan golf di Batam.
Ia juga menekankan bahwa lapangan golf dan berbagai event olahraga dianggap mampu menarik wisatawan dan investor, sehingga menurutnya penting bagi kemajuan Batam.
Namun Pemko Batam tak transparan alias tak menjawab pertanyaan media; soal keberadaan lapangan golf komersial itu.
Tarif UWT Lapangan Golf Termasuk yang Termurah di Batam
Meski menguasai lahan luas, tarif Uang Wajib Tahunan (UWT) untuk alokasi lahan lapangan golf termasuk yang paling murah berdasarkan SK Kepala BP Batam No. 263 Tahun 2024:
- Rp 50.600/m² (2025)
- Rp 48.600/m² (2024)
- Rp 43.100/m² (2021).
Tarif ini jauh lebih rendah dibanding alokasi lahan komersial lain di kawasan Nongsa yang mencapai Rp 122.100/m² (2025).
Dengan total minimal 900 hektare lahan, publik mempertanyakan apakah kontribusi PAD dan mengkerek ekonomi Batam dari sektor golf sebanding dengan luas lahan serta fasilitas komersial yang dinikmati.
Saat Singapura Menutup, Batam Justru Pertahankan 7 Lokasi
Singapura sudah menutup sejumlah lapangan golf komersial demi kebutuhan perumahan karena keterbatasan lahan.
Dan tentu kemanfaatan ekonomi lapangan golf masih jauh dari sektor lain.
Hal ihwal dapat dilihat dari sektor pariwisata Singapura yang tingkat kunjungan mancanegara membeludak sampai 60 juta setahun tampa lapangan golf.
Sementara Batam hanya dapat memasukkan total jumlah wisatawan masih di angka sekitar 3,6 juta per tahun.
Sebaliknya, Batam juga memiliki keterbatasan lahan,– dan dikeluhkan BP Batam karena lahan kosong hanya tersisa 200 hektare,–untuk keperluan industri dan manufaktur justru mempertahankan tujuh lapangan golf aktif.
Antara lain:
- Palm Springs: 228 Ha
- Batam Island Country Club: 167 Ha
- Southlinks: 150 Ha*
- Batam Hills: 150 Ha*
- Indah Puri: 120 Ha
- Sukajadi: 80 Ha
- Tamarin Santana: ±60 Ha (luas belum terverifikasi).
Totalnya paling tidak sekitar 900 hektare, menjadikan golf sebagai salah satu pengguna lahan terbesar di Batam.
Target PBB-P2 Belum Tercapai, Piutang Masih Ratusan Miliar
Pendapatan PBB-P2 Batam 2024 hanya mencapai 79,3% dari target Rp 265 miliar: realisasi Rp 210,16 miliar, tunggakan Rp 646 miliar (per Juni 2024).
Karena ketertutupan Pemko Batam, belum didapat informasi apakah lapangan golf termasuk dalam daftar penunggak atau justru tidak terkena pajak tertentu seperti pajak hiburan sesuai Perda No. 1/2024 dan UU HKPD.
Pertanyaan mengenai kontribusi pajak lapangan golf inilah yang dikonfirmasi wartawan sejak Mei 2025, namun tidak dijawab Bapenda.
Minim Transparansi, Publik Menunggu Kejelasan
Ketua DPP Kepri LI-Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Negara, Panahatan SH, menilai lahan komersial harus memberi kontribusi optimal kepada daerah.
“Setiap meter lahan yang dikomersialkan sejatinya adalah hak rakyat yang perlu dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Meski Amsakar memuji keberadaan lapangan golf sebagai pendorong pariwisata dan investasi, transparansi PAD dari pengelolaan lahan golf tetap belum terjawab.
Hingga berita ini kembali ditayangkan, Pemko Batam, Bapenda Batam, dan BP Batam masih bungkam mengenai kontribusi pajak dan PAD dari sektor golf yang menikmati tarif UWT salah satu termurah serta memanfaatkan lahan sangat luas. (Red)

