BatamNow.com – Malam yang mencekam di Pulau Rempang, jelang Rabu 18 Desember 2024.
Kampung Sembulang Hulu dan Kampung Sei Buluh, Kelurahan Sembulang, Pulau Rempang, di Kecamatan Galang, Kota Batam, geger lagi.
Sejumlah warga mengalami luka berdarah ringan dan berat hingga dirawat di rumah sakit. Mereka sebut tersebab serangan mendadak oleh puluhan orang tak dikenal.
View this post on Instagram
Peristiwa ini mengingatkan kejadian mencekam pada September 2023, yang dikenal dengan peristiwa Jembatan IV, Trans Barelang (Batam, Rempang dan Galang)
Saat itulah ‘gerakan’ proses penggusuran dan pengukuran dari tim BP Batam datang tetiba dengan parade pasukan bersenjata yang menyentak sekitar 7.500 warga Rempang.
Geger pada dini hari kemarin masih rentetan kejadian pada tahun lalu yang hingga kini masih bagai api dalam sekam.
Hal ihwal karena warga Melayu yang hidup dan berkehidupan di 16 kampung tua bersejarah di pulau itu, dalam ‘ancaman’ penggusuran selama setahun lebih ini.
Mereka dicoba digusur dari pulau yang sudah turun-temurun mereka diami.
Pulau seluas 17.000 Km2 itu telah dialokasikan pemerintah ke Proyek Strategis Nasional (PSN), menampung rencana investasi produsen kaca China, Xinyi Glass Holdings Ltd dengan total Rp 381 triliun.
Berbagai tekanan, ancaman maupun bujukan datang silih berganti, sejak peristiwa Jembatan IV.
Mereka ‘dipaksa’ untuk meninggalkan tanah kampung, kebun mereka dan ditawarkan pindah ke Kampung Tanjung Banun pemukiman yang disiapkan BP Batam.
Namun, mayoritas dari warga kampung sejarah Melayu itu tak mau digusur dengan tekad surut berpantang di tengah banyak intimidasi demi mempertahankan sejarah peradaban mereka.
Cobaan dan tekanan tak lekang dari denyut kehidupan mereka sehari-hari yang bersusah payah mencari makan sebagai petani dan nelayan.
Dalam kondisi dan suasana ancaman demi ancaman yang mereka rasakan, warga pun dengan rutin bergantian berjaga setiap hari dan malam di beberapa pos penjagaan yang mereka buat sendiri, selama setahun lebih pasca peristiwa Jembatan IV.
Mereka pun sampai membentuk Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (AMAR-GB) sebagai wadah yang membentengi mereka.
Bagaimanapun kronologis peristiwa malam itu, diduga dipicu tindakan perusakan spanduk “Tolak PSN Rempang” yang sudah terpasang di sana sebagaimana dijelaskan warga. Perusakan spanduk milik warga itu sudah berulang terjadi, namun pelakunya belum pernah tertangkap.
Spanduk itu berisi narasi menolak penggusuran, pun penolakan PSN Rempang Eco-City yang setiap saat mereka suarakan.
Kini, Pulau Rempang kembali mencekam.
Malang tak dapat ditolak, pada Selasa malam di saat warga Kota Batam bersukaria menyambut Hari Jadi Batam(HJB), justru mereka dirubung derita.
Bagaimanapun HJB tak bisa lepas.
Kala HJB yang ke-195 dimeriahkan di beberapa sudut Kota Batam, justru nestapa bagi sebagian warga di sana. (Aman)

