BatamNow.com – Hampir setahun setelah seremoni peletakan batu pertama yang meriah digelar pada akhir Mei 2024, proyek pembangunan Terminal 2 (T2) Bandara Internasional Hang Nadim Batam tak menunjukkan kemajuan berarti.
Harapan masyarakat terhadap pengembangan bandara kebanggaan Batam itu pun mulai berubah menjadi kekecewaan.
Hasil penelusuran terbaru di lapangan menunjukkan aktivitas konstruksi masih sangat minim. Yang terlihat sejauh ini hanyalah struktur kayu ukuran 1 x 0,40 meter dan satu tiang pancang kecil yang menjadi simbol dimulainya pembangunan.

Direktur PT Bandara Internasional Batam (BIB), Pikri Ilham Kurniansyah, menjelaskan bahwa keterlambatan ini disebabkan oleh sejumlah faktor teknis dan administratif.
Di antaranya adalah penyesuaian desain, proses pengesahan Detail Engineering Design (DED), hingga uji tanah yang masih berjalan lantaran kondisi lahan yang dinilai kurang stabil.
“Perlu ada penyempurnaan desain, khususnya di area kanopi, agar pengalaman penumpang lebih nyaman,” tulis Pikri dalam keterangannya melalui WhatsApp kepada BatamNow.com, Sabtu (03/05/2025).

Selain itu, kelanjutan pembangunan masih menunggu finalisasi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta relokasi operasional kargo yang belum bisa dilaksanakan karena proses lelang untuk terminal kargo pengganti masih berlangsung.

Terminal 1 Masih Bisa Diandalkan
Meski Terminal 2 dianggap penting untuk mendukung pertumbuhan penumpang hingga 9,6 juta orang per tahun, pihak BIB memastikan bahwa Terminal 1 (T1) yang telah diperbarui masih memadai.
Pikri mengungkapkan bahwa selama arus mudik Lebaran lalu, T1 tetap mampu melayani lonjakan penumpang tanpa kendala berarti, dengan kapasitas optimal hingga 6 juta penumpang per tahun.
Desain Futuristik Masih dalam Proses Penyesuaian
Selain itu sebut Pikri, desain T2, yang sempat mencuri perhatian publik karena mengadopsi bentuk ikan marlin dan motif elang karya desainer asal Korea Selatan, sebenarnya telah diluncurkan ke publik.
Namun, desain tersebut masih harus disesuaikan dengan rencana induk pengembangan bandara dan menunggu persetujuan dari Kementerian Perhubungan.
Pendanaan Diakui Aman
Mengenai dana pembangunan, Pikri memastikan tak ada kendala. Angkasa Pura I bersama mitranya, Incheon International Airport Corporation (IIAC), telah menyetor modal awal sebesar Rp 790 miliar dari total investasi yang direncanakan mencapai Rp 5,5 triliun.
Alokasi anggaran tahun ini sebesar Rp 400 miliar diperuntukkan bagi pekerjaan tanah dan pondasi, namun masih bergantung pada hasil uji tanah.
Publik Mengkritisi
Minimnya aktivitas di lokasi proyek turut memicu kritik dari masyarakat. Sejumlah sopir taksi hingga pekerja kargo di Bandara Hang Nadim menyebut proyek ini sebagai “janji kosong” dan mempertanyakan kejelasan dari berbagai pihak yang terlibat, terutama BP Batam.
Hal itu mengingat kembali janji Kepala BP Batam Muhammad Rudi saat pidato pada seremoni pada groundbreaking yang memastikan proyek T2 akan selesai pada 2026.
Beberapa kalangan menilai seremoni tersebut hanya langkah pencitraan menjelang kontestasi politik daerah di mana Muhammad Rudi ikut berkontestasi.
Lembaga Investigasi Tipikor & Hukum Kinerja Aparatur Negara wilayah Kepri pun turut angkat suara. Ketua DPP-nya, Panahatan SH, menyebut ketiadaan progres sebagai bentuk penyesatan informasi publik dan meminta pemerintah bertanggung jawab atas ekspektasi yang dibangun.
Kini, proyek yang dahulu dielu-elukan BP Batam sebagai “Changi-nya Batam” itu justru menuai sindiran. (A/H)

