PLN Belanja Daya ke Swasta
Pemadaman listrik bergantian oleh pihak PLN, masih terus berlanjut.
Pihak manajemen penyuplai setrum ini pun tampak pasrah saja dengan cercaan konsumen.
“Kami mencoba bersikap pragmatis. PLN Batam tengah diuji karena gangguan pembangkit ini, bersamaan di sejumlah lokasi,” ujar Vice President Public Relation bright PLN Batam Syamsul Bahri kepada Batam Pos.
Lantas Syamsul pun merinci kendala perbaikan yang tengah dlakukan, antara lain;
- Suku cadang terlambat datang karena bertepatan Hari Paskah. Ini untuk keperluan PLTG Panaran.
- Mesin baru tiba 29 April di Singapura. Sorenya baru bisa sampai di Batam.
- Dengan masuknya suku cadang, daya listrik tambah 40 MW. Teratasi defisit 23 MW. Setelah ini OK, listrik tak akan mati.
- Cuaca juga faktor pengganggu lancarnya daya setrum penyebab byar pet.
- PLN sedang mengkaji membangun Pembangkit baru di Bintan. Dan ditarget harus selesai tahun 2020.
Itulah poin-poin pernyataan Syamsul. Kembali ke pembaca. Opini apa yang terbangun di benak anda dengan penjelasan Vice President PLN itu.
Ada lagi hal yang mencengangkan dari carut-marutnya listrik ini.
PLN Batam, ternyata, harus belanja daya energi dari swasta, untuk mengatasi sebagian kecil problem arus listrik ini.
Dalam kondisi byar pet, PLN terpaksa membeli daya listrik dari Kawasan Industri Panbil milik Johannes Kennedy Aritonang.
Ada beberapa “power plant” milik swata di Batam. Tapi minim kerusakan. Jangankan rusak. Byar pet, pun jarang.
Ini juga menjadi bagian dari evaluasi penting terhadap PLN Batam.
Sekali lagi, agaknya, amat sangat baik bila PLN Batam kembali ke pangkuan PLN pusat.
Karena kalau dibiarkan terus, Batam satu saat, bisa terancam energi listrik. (M-1)